Pasang

1.828 PKL Dapat Bantuan Beras dari Pemkab Pamekasan

  • Bagikan
LUGAS: Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam, saat memberikan sambutan di depan Pendopo Mandhapa Aghung Ronggosukowati (Dok. Sinergi Madura)

PAMEKASAN, SINERGI MADURA – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pamekasan, Jawa Timur menyalurkan bantuan beras seberat 5 kilogram kepada 1.828 pedagang kaki lima (PKL).

Bantuan tersebut untuk meringankan beban mereka di tengah Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat pandemi COVID-19.

Pasang

Bantuan yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) tahun 2021 tersebut diberikan melalui Dinas Koperasi dan Usaha Mikro bekerja sama dengan Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Pamekasan.

“Bantuan itu kita sudah salurkan mulai 2 Agustus kemarin sampai 24 Agustus nanti, kemungkinan saat ini yang terealisasi sudah 30 persen, dan jumlah PKL kemungkinan terus berkembang,” kata Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro Pamekasan, Abd. Fatah, Jum’at (6/8/2021).

Pihaknya memastikan, dalam bantuan beras tersebut tidak akan terjadi double penerima, mengingat pendataan penerima berdasarkan Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang otomatis tertolak apabila ada PKL menerima lebih dari satu bantuan.

“Misalnya NIK itu tercatat bahwa PKL itu berjualan di Jalan Diponegoro, kemudian dia mengusulkan di jalan yang lain pasti akan ketahuan. Sehingga saya berkeyakinan tidak akan terjadi double data,” bebernya.

Untuk itu, pihaknya meminta agar para PKL bersabar di tengah pandemi COVID-19, sebab adanya wabah ini merupakan kehendak Allah SWT. Apalagi COVID-19 tidak hanya terjadi di Indonesia, melainkan di seluruh dunia.

“Selain bersabar, kita juga harus punya kreasi untuk melakukan aktifitas. Karena selama ini aktifitas mereka dibatasi, apalagi adanya PPKM ini sungguh sangat ada pengetatan dalam aktifitas para PKL,” pintanya.

Dia menambahkan, kreasi itu bisa dilakukan dengan memasarkan dagangannya melalui online memanfaatkan kecanggihan teknologi saat ini, atau tetap berjualan dengan menggelar lapak dagangannya seperti biasa, namun tidak menyediakan tempat duduk bagi para pengunjungnya.

“Silakan lakukan pemasaran secara online, atau seperti biaya tetapi tidak menyediakan tempat duduk,” tegas Fatah. (rz/an/fd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *