Pasang

5 Misteri Wisata Kawah Ijen Banyuwangi, Ada Penampakan Nenek Penolong dan Syetan Penyesat

  • Bagikan
Kawah Ijen
Kawah Ijen, Banyuwangi. (Dok. Sinergi Madura)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Kawah Ijen merupakan sebuah destinasi wisata alam memiliki ketinggian 2443 mdpl, yang terletak di perbatasan Kabupaten Banyuwangi dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Keberadaan destinasi wisata dengan segala kemewahan pesona alamnya, terutama penampakan blue fire yang ada di sekitarnya, menjadikan Kawah Ijen sebagai tujuan pelancong dari berbagai daerah bahkan di dunia.

Pasang

Gunung yang memiliki kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5.466 hektar ini mempunyai banyak fakta lain yang sebaiknya Anda ketahui sebelum mendakinya.

Berikut 5 fakta dan misteri wisata Kawah Ijen Banyuwangi yang banyak diyakini masyarakat, sebagaimana dirangkum Sinergi Madura dari berbagai sumber.

1. Sebagai Penghasil Belerang

Setiap hari, setidaknya ada 200 orang pekerja yang berlalu lalang di kawasan gunung Ijen, mereka memanggul bongkahan belerang.

Setelah terkumpul, belerang tersebut akan diproduksi menjadi berbagai kebutuhan masyarakat sehari-hari.

Seperti, dibuat bahan vulkanisir ban, salep kulit, sabun, kosmetik, korek api, hingga bahan untuk pembuatan pupuk.

2. Misteri Api Biru di Kawah Ijen

Api biru yang Anda lihat di kawah Ijen bukanlah magma atau larva yang berwarna biru. Hal itu merupakan fenomena alam, ketika gas belerang bertemu dengan udara yang bersuhu lebih dari 360 derajat celcius, maka akan menghasilkan warna biru yang bercahaya, nampak bagaikan lava berwarna biru.

Untuk menyaksikan keindahan Blue Fire, usahakan untuk melihatnya pada dini hari, paling telat jam 5 pagi. Karena, pada waktu tersebut, suhu udara sedang dingin-dinginnya dan memenuhi syarat terciptanya fenomena alam bernama Blue Fire.

Baca Juga: Curhat Pedagang Setelah Objek Wisata Kawah Ijen Banyuwangi Dibuka

Blue Fire sendiri ditemukan pertama kali di kawah Ijen Pada tahun 1950-an.

3. Gunung Ijen Adalah Tanah Para Pemberontak

Dahulu, gunung Ijen merupakan kawasan kerajaan Blambangan. Blambangan merupakan kerajaan yang terbentuk dari pemberontakan sang raja, Menak Jinggo, atas kekuasaan kerajaan Majapahit. Perang antara kerajaan Majapahit dan Blambangan terjadi sangat lama, sekitar abad ke-14.

4. Penampakan Nenek yang Suka Menolong

Menurut sebagian pendaki gunung, di gunung Ijen sering ada penampakan nenek yang suka menolong para pendaki yang tersesat. Misalnya saja pengalaman seorang pendaki yang mengaku pernah bertemu dengan nenek itu.

Ia mengisahkan, bahwa pada sebuah pendakian di gunung Ijen, ia pernah tersesat masuk ke dalam hutan. Saat kebingunan, ia dikagetkan oleh sosok nenek-nenek yang menanyakan keadaannya.

Lalu, setelah bercerita bahwa ia sedang tersesat, si nenek meminta pendaki itu agar penutup matanya. Setelah diminta membuka matanya kembali, tiba-tiba dia sudah berada di puncak gunung Ijen.

5. Penampakan Syetan Penyesat Pembawa Pedang

Pada bulan Desember 2016, ada seorang pendaki Probolinggo yang tersesat di gunung Ijen, setelah dilakukan pencarian beberapa hari, pendaki tersebut ditemukan oleh pekerja penambang belerang. Ia terlihat sedang linglung dan pucat.

Setelah beristirah dan ditanyai, ia mengaku bahwa dirinya tersesat di dalam hutan belantara gunung Ijen. Di tengah hutan, dia dikejar-kejar oleh segerombolan orang berseragam sambil mengacungkan pedang kepada dirinya. Tidak ada seorang pun yang mendengarnya, padahal dia sudah berteriak sekencang-kencangnya, meminta tolong.

Konon menurut cerita, Gunung Ijen merupakan tempat pertempuran antara pejuang Indonesia dan tentara VOC yang menjajah Indonesia, dan di Gunung inilah seorang tentara VOC terbunuh oleh pejuang Indonesia. Kematiannya pun sangat mengenaskan, karena kepalanya terpenggal oleh sebuah pedang. Sosok inilah yang diduga menjadi penunggu gunung Ijen hingga kini. Arwah tentara VOC itu menjadi arwah pendendam.

Terkadang, sosok makhluk ghaib ini menampakan dirinya dengan membawa sebuah pedang dan menakuti para pendaki. Hal inilah yang dialami oleh Arif Prabowo asal Probolinggo saat mendaki gunung Ijen, pada tahun 2016 lalu.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *