Pasang

7 Situs Cagar Budaya di Pulau Madura

  • Bagikan
7 Situs Cagar Budaya di Pulau Madura
BERSEJARAH: Keraton Sumenep (Foto: Ig @arif_cool_break)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Kekayaan budaya atau cagar budaya adalah sebuah benda fisik yang merupakan bagian dari warisan budaya suatu kelompok atau masyarakat. Barang-barang tersebut termasuk bangunan bersejarah, karya seni, situs arkeologi, perpustakaan dan museum.

Peninggalan sejarah berupa benda-benda yang berwujud adalah seperti arca, benteng, makam, monumen, candi, gedung dan prasasti. Sedangkan peninggalan bersejarah tak berwujud misalnya seperti kesenian, perayaan, dan adat istiadat.

Pasang

Inilah peninggalan sejarah yang termasuk Cagar Budaya di Kabupaten Sumenep menurut berbagai sumber.

1. Keraton Sumenep
Merupakan kediaman resmi adipati atau raja pada zaman dahulu yang difungsikan sebagai tempat untuk mengatur segala urusan pemerintahan. Lokasi keraton ini berada di Jl. Dr. Sutomo No.6, Lingkungan Delama, Pajagalan, Kota Sumenep.

Bangunan keraton ini masih utuh. Dibangun oleh Gusti Raden Ayu Tirtonegoro R. Rasmana dan Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro (Bindara Saod) bersama keturunannya yaitu Panembahan Somala Asirudin Pakunataningrat dan Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I (Raden Ario Notonegoro).

Baca Juga: Julukan dan Nama Pusaka asal Keraton Sumenep Madura

2. Masjid Jamik/Agung Sumenep
Masjid ini berada di Dalem Anyar, Bangselok, Kota Sumenep. Dibangun pada pemerintahan Pangeran Natakusuma 1 atau Panembahan Somala penguasa Negeri Sumenep ke 31 abad ke-18.

Masjid ini merupakan masjid kedua yang dibangun oleh keluarga keraton. Sebelumnya masih ada masjid di belakang yang lebih dikenal dengan nama Masjid Laju. Masjid Jamik dibangun oleh Kanjeng Raden Tumenggung Ario Anggadipa Raja Sumenep ke-21.

3. Asta Tinggi
Merupakan tempat peristirahatan terakhir para Raja Sumenep bersama kerabat serta tokoh-tokoh besar di Sumenep. Makam atau asta ini berada di Jl. Asta Tinggi, Temor Lorong, Kebunagung, Kota Sumenep.

Pemakaman yang berada di dataran tinggi atau bukit tinggi, awalnya direncanakan oleh Panembahan Somala kemudian dilanjutkan oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II.

4. Banteng Kalimook
Merupakan bangunan tua dengan pintu gerbang yang masih utuh dan tampak gagah dilihat dari luar dengan luas keseluruhan 1.500 meter persegi dan tinggi benteng sekitar tiga meter.

Benteng ini dibangun pada 1785 M sebagai penanda bahwa VOC menang karena berhasil mencengkram Madura Timur. Tempat ini berada di Dusun Bara’ Lorong, Desa Kalimook Kecamatan Kalianget, sebelah utara Kali Marengan.

Baca Juga: Mengenal Ragam Pencak Silat di Madura

5. Kota Tua Kalianget
Merupakan bangunan peninggalan sejarah di Madura Timur yang dibangun oleh VOC pada masa Pemerintahan Hindia Belanda selama menjajah Sumenep.

Bangunan ini didirikan oleh kongsi perdagangan Bangsa Asing atau VOC pada awal abad ke-18. Lokasinya berada di Jl. Raya Kalianget, Kecamatan Kalianget.

6. Asta Panembahan Blingi Kepulauan Sumenep
Asta ini merupakan tempat peristirahatan terakhir, Ario Pulangjiwo. Dalam sejarah Sumenep, ia dikenal sebagai penguasa Islam yang menyebarkan syatiat di Pulau Sapudi. Ario Pulangjiwo ini juga merupakan putra Sayyid Ali Murtadla, saudara kandung Sunan Ampel, Denta, Surabaya.

Asta penguasa ini berada di Dusun Koattas, Desa Gendang Timur Kepulauan Sapudi, Kecamatan Gayam.

7. Asta Pengeran Lor dan Pangeran Wetan
Asta ini sering dikenal sebagai Asta Karang Sabu, yang merupakan tempat peristirahatan terakhir Raja Sumenep yaitu Pangeran Lor dan Pangeran Wetan yang merupakan putra Tumenggung Kanduruan.

Dalam catatan sejarah Sumenep, keduanya memimpin kerajaan Sumenep secara bersamaan. meskipun dipimpin dua orang namun rasa aman, tentram dan sentosa tetap dapat dirasakan oleh semua rakyat Sumenep. Asta ini berada di Barat Masjid, Karangduak, Kota Sumenep.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *