Pasang

Alzena dan Sebuah Lagu Kesedihan

  • Bagikan
Alzena dan Sebuah Lagu Kesedihan
Foto: Istimewa

Hampir malam di Bondowoso ketika busku tiba.

Tak ada lagu atau musik penyambutan. Yang ada hanya terminal yang kosong. Debu yang terbang di udara atau yang menempel pada dinding dan daun-daun. Satu-dua orang berdiri di luar pagar terminal. Aku bertanya pada seorang laki-laki, mungkin sedang menunggu istri atau kerabatnya, apakah ada bus lain yang menuju Situbondo. Laki-laki berkumis itu menunjukkanku sebuah bus lain di belakang bus yang tadi kutumpangi. Berukuran lebih kecil dan mesinnya meraung-raung seperti seekor sapi yang baru saja digorok lehernya.

Pasang

“Situbondo! Situbondo!”

Seorang laki-laki dengan wajah hitam sedikit suram bergelantungan di pintu samping bagian belakang bus sambil terus berteriak-teriak.

“Situbondo! Situbondo! Langsung berangkat!”

Sepanjang hari ini aku telah banyak melihat wajah-wajah yang suram. Wajah-wajah yang tampak diselimuti kesedihan. Di terminal pertama saat baru memulai perjalanan ini aku sudah ketemu dengan orang-orang berwajah suram di ruang tunggu, di depan warung sepanjang Arjosari, atau di depan pintu keluar terminal. Hingga aku berhenti di terminal Probolinggo untuk pindah bus jurusan Bondowoso, orang-orang yang diselimuti kesuraman semakin banyak dan nyata. Mereka berjejalan keluar-masuk badan bus untuk menawarkan dagangan. Tidak peduli para penumpang yang tersisa membeli atau tidak.

“Situbondo! Situbondo! Ayo, segera berangkat!”

Si kernet bus masih bergelantungan sambil berteriak-teriak memanggil penumpang.

Bus jurusan Situbondo itu berwarna biru. Seperti warna langit. Atau warna laut. Dengan langkah tergesa aku mendekatinya dan naik. Wajah orang-orang yang duduk di kursi diselimuti kesuraman seperti yang sudah kulihat di hampir seluruh sudut terminal. Sebuah bangku panjang terbuat dari kayu ditempatkan di antara kursi-kursi deretan kanan dan kiri, memanjang ke belakang. Mataku mengitari seisi bus. Sebuah pemandangan yang tidak meyakinkan.

“Nanti di terminal Bondowoso naik bus lagi jurusan Situbondo, terus bilang ke kernetnya turun di pertelon Traktakan,” aku membaca lagi pesan itu di layar ponselku.

Ini perjalanan yang seharusnya melelahkan. Jam 10.45 aku tiba di terminal Probolinggo, menunggu sekitar hampir dua jam untuk naik bus jurusan Bondowoso. Langsung Bondowoso. Bukan bus jurusan Bondowoso yang masih kelayapan ke terminal-terminal lain. Sudah kubilang, seharusnya ini menjadi perjalanan yang melelahkan. Tapi, sadar bahwa yang akan kuhadapi bukan kematian, kuanggap perjalanan ini akan setimpal dengan kebahagiaan yang akan segera menelusuk ke jantung.

Aku membayangkan senyum Alzena, calon istriku, akan menyambut kedatanganku di pintu. Ini akan menjadi pemandangan yang indah. Lebih indah dari sekadar duduk menyeruput kopi hangat pada suatu senja di kafe tengah sawah di Pujon. Tentu aku juga membayangkan sikap ramah Abah yang kerap memintaku datang untuk sekadar main catur, atau berdikusi banyak hal ringan seperti seorang kakak dengan adiknya. Bukan seperti seorang menantu dengan mertuanya. Ini kata Abah sendiri. “Anggap saja kita senior dan junior. Tak perlu sungkan.” Begitu Abah bilang satu waktu.

Kedatanganku kali ini sungguh sangat istimewa. Aku dan Abah, melalui pembicaraan di telepon semingu yang lalu, sepakat untuk membicarakan rencana pernikahanku dengan Alzena. Tidak boleh ditunda-tunda. Bahkan kalau perlu lebih cepat lebih baik.

“Tidak boleh lebih dari satu tahun. Itu saran guruku,” kata Abah melalui telepon.

“Kenapa?” tanyaku.

“Guruku bisa menerawang masa lalu, juga bisa melihat masa depan. Ikuti saja. Kadang, banyak bertanya merepotkan.”

Aku dan Alzena bertunangan dua bulan lalu. Perkenalan kami sangat singkat. Hanya setengah bulan. Setelah meminta pertimbangan gurunya mengenai bagaimana masa depanku dan Alzena seandainya kelak kami menikah, Abah menyuruhku datang untuk meminang. Aku tipe orang yang tidak main-main dengan perasaan. Bukan laki-laki yang hanya senang mengumbar janji untuk sehidup semati tetapi tak pernah mengambil langkah tegas untuk melamar orang yang dicintai. Sumpah demi apa pun aku bukan orang seperti itu.

Mendapat lampu hijau aku langsung melakukan beberapa persiapan. Tentu aku harus merembukkannya dengan Ibu dan saudara-saudaraku. Kepada kakak pertamaku, yang menjadi tumpuan keluarga setelah Bapak meninggal, ketar-ketir aku menyampaikan rencana melamar Alzena. Itu bukan pembicaraan yang main-main. Setelah berpisah dari tetek ibumu, kata-katamu adalah tali. Tak ada yang bisa dipegang dari seorang laki-laki yang baik selain kata-katanya.

Musik dangdut terdengar dari sudut bus, semakin memperburuk suara mesin yang tua dan karatan. Aku memperhatikan orang-orang yang dibekap lelah. Tak ada yang berusaha tersenyum atau menyapa. Mungkin bagi mereka aku seorang asing. Itu tidak salah, dan mereka pantas memperlakukanku sebagai seseorang yang tak perlu mendapat penyambutan, meski sesungging senyum. Di dunia ini, tampaknya, memang tak ada tempat bagi orang asing. Basa-basi bukan hal yang perlu, seolah kalau ingin berbicara, kau hanya diperbolehkan membicarakan hal-hal penting.

Kendati satu sama lain tak bertegur sapa, tapi di mana-mana orang mengunyah makanan, menyeruput minuman, dengan wajah dan kecemasannya masing-masing. Seorang laki-laki tua, lebih pantas kalau disebut seorang kakek, duduk kaku di belakang supir bus. Kedua kakinya lebih pendek daripada yang seharusnya. Karena malas berdesak-desakan dengan beberapa orang yang masih berdiri mencari tempat duduk, aku menghampiri kakek itu dan duduk di sebelahnya. Namun, sebelum sempurna duduk aku mengambil ponsel dari dalam tas dan membaca kembali pesan dari Alzena: nanti di terminal Bondowoso naik bus lagi jurusan Situbondo, terus bilang ke kernetnya turun di pertelon Traktakan.

“Saya turun di pertelon Traktakan, Pak,” kataku berbisik dengan jelas. Si supir mengangguk pelan tanpa menoleh sama sekali.

Ini pertama kalinya aku naik bus ke Bondowoso. Kecemasan menjalar di seluruh sudut kepala. Kecemasan-kecemasan yang sebenarnya tidak perlu. Ini wajar karena setiap manusia selalu dikuasai ketakutan-ketakutan ketika hendak memasuki sebuah dunia yang sama sekali baru. Bondowoso adalah sesuatu yang baru bagiku. Sama seperti pembicaraan rencana pernikahan yang akan kubicarakan dengan Abah.

Bus yang kutumpangi benar-benar parah. Mesinnya meraung-raung di sepanjang jalan. Lebih besar bunyi daripada kecepatannya. Lebih besar guntur daripada hujannya. Sungguh mengecewakan. Tapi, tak ada yang bisa kulakukan. Aku tidak mungkin turun dan mencari bus lain yang lebih baik. Terlebih lagi, tampaknya ini adalah bus terakhir menuju Situbondo. Aku sudah memilih bus ini. Jadi, tak ada alasan untuk tidak menyelesaikan sesuatu yang sudah kupilih.

Itu yang seharusnya dilakukan oleh laki-laki yang bertanggung jawab, kataku kepada diri sendiri.

Kecemasan semakin membesar di kepala. Gusar aku memperhatikan laju bus yang nyaris seperti kura-kura sakit perut. Beruntung, di tengah kecemasan itu si kernet mengabarkan bahwa di depan sudah pertelon Traktakan. Aku turun setelah membayar sebesar tiga ribu rupiah. Sebanding dengan kecepatannya yang sungguh mengecewakan.

Merapikan rambut dan wajah kutaruh tas di atas daun-daun kering. Agak tegang juga aku menyeberang jalan, menyusuri jalan beraspal menuju rumah Alzena. Ketegangan itu semakin membesar saat aku membuka pintu samping rumah. Ini instruksi Alzena. Karena khawatir tak ada yang mengetahui kedatanganku aku harus lewat pintu samping yang langsung terhubung ke ruang tamu.

Aku mengucap salam nyaris empat kali sebelum Abah muncul dengan sesungging senyum yang ramah. Kami berbicara di ruang tamu dengan santai dan akrab, meski diam-diam tubuhku seperti sedang dililit akar pepohonan.

Alzena keluar dari sebuah kamar menuju dapur. Beberapa saat kemudian Umi muncul dan duduk di samping suaminya. Mereka bercerita banyak hal tentang kisah percintaan mereka di masa lalu, yang penuh tantangan tapi menyenangkan. Sebuah kisah cinta yang dimulai dengan kebencian lalu berakhir di pelaminan. Aku tertawa-tawa sambil memikirkan kembali setiap hal yang sudah kulewati bersama Alzena.

Membawa dua gelas teh hangat di atas nampan Alzena muncul di pintu dapur. Ia menyajikan setoples makanan manis yang terbuat dari belimbing bulu dan sepiring tape beraroma tajam. Ia melakukan semua itu tanpa pernah sekalipun menatapku atau bahkan menyuruhku meminum teh seduhannya.

Aku mengamati wajah itu. Ia tidak menampakkan ekspresi apa pun, kecuali sebuah senyum yang sepertinya terpaksa. Aku tahu betul mana senyum yang keluar dari palung dada dan mana senyum polesan, senyum yang hanya digunakan untuk menghargai pertemuan dan niat baik tanpa terkandung perasaan apa-apa. Apalagi perasaan cinta atau bahagia melihat tunangannya datang untuk membicarakan sebuah rencana besar dalam sejarah hidupnya.

Kutatap lagi wajah itu, rasanya begitu dekat, tapi tak memancarkan ekspresi kehangatan. Yang terkabar dari wajahnya adalah perasaan kosong seperti saat menghadapi orang paling tidak penting di dalam hidupnya. Memang, di depan kedua orang tuanya ia menampakkan niat bersopan santun yang tidak menyebalkan. Tapi aku tahu, itu bukan yang sebenarnya.

Ketika Abah menyuruhnya mengantarku beristirahat di sebuah kamar di lantai dua, karena terpaksa aku harus bermalam dan baru pulang keesokan harinya, Alzena terlihat berat melangkahkan kakinya sambil membawa segelas teh. Kami tidak berbicara banyak selain pembicaraan kecil yang terpotong-potong. Kadang, ia kembali ke lantai atas untuk menyetrika baju, melihat pemandangan dari balkon, atau merapikan buku-buku di dalam kamar di pojok rumah yang sepertinya sudah sejak lama dijadikan perpustakaan kecil sambil berbicara dengan kawan-kawannya dari balik telepon dengan suara dan tawa keras yang renyah, seolah menganggapku tak pernah ada.

Sudah sejak lama aku merasakan bahwa hanya ketika dengan orang lainlah ia tertawa dan bahagia. Kendati begitu aku tak pernah membicarakannya dan tak pernah menganggapnya sebagai persoalan serius.

Tapi hari ini, hari di mana harusnya aku memperoleh sambutan istimewa dari perempuan yang sangat kucintai, tiba-tiba Alzena menjelma orang asing. Benar-benar asing. Peluru apa yang telah menyusup ke dalam kepalanya, aku tidak tahu. Ia benar-benar tidak bisa diprediksi. Hatinya lebih belukar dari hutan paling luas di dunia.

Sebuah lagu kesedihan yang tidak diketahui berasal dari mana seketika mengitari seluruh sudut rumah. Pembicaraan tentang rencana pernikahan berakhir begitu saja. Tanpa kejelasan. Tanpa kepastian.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *