Pasang

Berpuasa di Tengah Pandemi, Lawan Penyakit Jasmani dan Rohani

  • Bagikan
Berpuasa di Tengah Pandemi, Lawan Penyakit Jasmani dan Rohani
Foto: Istimewa

Bulan suci Ramadan adalah bulan yang lebih istimewa dari sekian bulan lainnya. Karena pada bulan Ramadan, Alquran diturunkan sebagai petunjuk bagi ummat manusia di muka ‘Bumi’ agar mampu membedakan antara yang ‘Benar’ dan yang ‘Bathil’. Bahkan, dari saking mulianya bulan suci Ramadan, Allah SWT mewajibkan pada ummat muslim pada khususnya, agar menjalankan ‘Ibadah Puasa’ dengan sempurna selama satu bulan lamanya. Ummat muslim yang tidak menjalankan ibadah puasa, maka ancaman balasannya adalah siksa Neraka. Na’udzubillah tsumma Na’udzubillah!

Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 183, yang artinya:

Pasang

“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu semua bertaqwa.”

Lalu muncul sebuah pertanyaan, kenapa harus berpuasa, ada apa dengan puasa? Ternyata banyak hikmah yang dapat diambil dari menjalankan ibadah puasa. Mari kita bahas sejenak. Makna berpuasa secara lahir ialah menahan diri dari makan dan minum sejak ‘waktu fajar’ hingga ‘terbenam matahari’. Dalam artian, manusia dilarang memasukkan makanan atau minuman apapun ke dalam perut; meski dalam kondisi lapar dan haus; dengan alasan apapun.

Larangan itu berlaku bagi semua umat manusia muslim, entah yang miskin, yang kaya, punya jabatan dan lainnya tanpa memandang status sosial apapun. Kecuali bagi orang yang sakit dan bepergian, toh itupun tetap masih harus menggantinya di bulan yang lain. Sungguh, karena tentu saking mulianya bulan suci Ramadan!

Puasa mampu memberikan kesempatan pada tubuh untuk beristirahat dari rutinitas olah makanan dan minuman. Energi yang biasanya selalu digunakan tubuh untuk mengolah makanan, ketika berpuasa, kondisinya akan lebih digunakan untuk perbaikan ketidakteraturan bahkan kerusakan sel-sel dalam tubuh. Itulah sebabnya kenapa kata sebagian tokoh dan ulama, puasa mampu mengobati berbagai penyakit kronis.

Saat berpuasa, tubuh mengalami detoksifikasi secara alamiah. Tidak adanya makanan yang biasa masuk ke dalam lambung, membuat organ-organ tubuh seperti hati dan limpa mulai “membersihkan diri”. Racun yang dibuang pun 10 kali lebih banyak, dan karena racun yang dikeluarkan lebih banyak daripada biasanya, proses penuaan pun bisa dihambat untuk sementara.

Itulah sebabnya, bila kita melaksanakan puasa dengan adab dan ketentuan yang baik dan benar, wajah kita pun akan tampak lebih bersinar, tubuh sehat berseri, dan jiwa pun tabah dan kuat: “Ayo, berpuasa!”

Secara fisik, ‘Puasa’ mampu menghilangkan berbagai penyakit jasmani manusia; yaitu penyakit yang ditimbulkan karena tak terkontrolnya berbagai makanan dan minuman yang dikonsumsi tiap saat. Dengan berpuasa, manusia akan selalu tampil bugar dan sehat dalam menjalankan aktivitasnya.

Di samping itu, berpuasa juga mampu menghilangkan penyakit secara rohani. Salah satunya seperti penyakit bohong, iri, dengki, congkak dan penyakit hati lainnya. Karena dalam menjalankan ibadah puasa dibutuhkan kejujuran diri pribadi dari masing-masing individu. Misal, yang paling mudah dilakukan adalah persoalan apakah kita mampu menahan nafsu makan dan minum di saat ada godaan yang datang? Hal itu tentu murni berangkat dari kesadaran personal, kaitannya dengan hubungan vertikal antara makhluk dan Sang Maha Pencipta.

Jadi, ketika manusia sudah jujur pada dirinya sendiri dengan manahan tidak makan dan minum karena takut pada Tuhannya, maka dapat dipastikan, manusia juga akan jujur pada sesama manusia lainnya secara sosial. Dengan begitu, berkat burpuasa, siapa pun akan mampu menghilangkan berbagai penyakit secara lahir (Jasmani) maupun batin (Rohani).

Beragam energi positif dapat kita tingkatkan dan amalkan di bulan puasa ini. Bulan Ramadan penuh dengan jaminan Allah: pahala yang berlipat ganda, penuh ampunan, doa-doa pun mudah dikabulkan.

Apalagi sebagaimana kita ketahui bersama, di bulan Ramadan terdapat suatu malam yang kita kenal dengan sebutan ‘Malam Seribu Malam’  atau ‘Lailatul Qodar’. Penulis yakin, bila hari-hari di bulan suci ini kita maksimalkan pengalaman dengan sebaik mungkin, maka rantai penyebaran  Coronavirus di Bumi kita tercinta ini, dengan sendirinya, karena kehendak Yang Maha, putus dan berhentilah! Wallahu’alam bisshawab. Semoga.

Bluto,
26 April 2020

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *