BPBD Sumenep Minta Masyarakat Waspada Bahaya La Nina

BPBD Sumenep Minta Masyarakat Waspada Bahaya La Nina
BERMASKER: Kepala BPBD Sumenep, R Abd Rahman Riyadi saat memberikan keterangan di kantornya (Ubay Shabaro – Sinergi Sumenep)

SUMENEP, SINERGI MADURA – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumenep, Jawa Timur meminta masyarakat mewaspadai bahaya La Nina. Pasalnya bahaya yang disebabkan dari turunnya suhu air laut di Samudera Pasifik itu diprediksi terjadi awal tahun 2021.

Bahaya itu kemungkinan besar juga terjadi di Kota Keris berdasarkan penelitian dari empat satelit negara di dunia, seperti Indonesia, Jepang, Australia dan Amerika Serikat.

“Kemungkinan besar terjadi di Sumenep sesuai rilis dari BMKG, kita sudah petakkan wilayah yang berpotensi banjir,” terang BPBD Sumenep, R Abd Rahman Riyadi, Senin (9/11/2020).

Menurutnya, wilayah di Sumenep yang masuk dalam pemetaan rawan banjir adalah Desa Cangkreng, Meddelan dan Sendir di Kecamatan Lenteng. Sedangkan di Kecamatan Batuan adalah Desa Babbalan dan Batuan juga termasuk wilayah langganan banjir setiap tahunnya. 

Desa Marengan Laok Kecamatan Kalianget menjadi wilayah yang cukup rawan banjir akibat luapan Kali Marengan. Enam desa di tiga kecamatan harus ekstra waspada jika bahaya La Nina Benar terjadi di Bumi Sumekar.

Baca Juga: Belum Ada Uji Coba PTM, DPRD Bangkalan: Kita Segera Panggil Disdik

“Kita sudah pasang rambu-rambu rawan bencana di setiap titik, agar masyarakat selalu waspada,” tukasnya.

Intensitas hujan tinggi yang disebabkan bahaya La Nina, berpotensi menyebabkan banjir. Dari itu masyarakat yang berada di zona rawan banjir dianjurkan untuk selalu waspada, karena bahaya ini belum pernah terjadi di kabupaten ujung timur pulau Madura.

“Biasanya dapat menyebabkan banjir dan longsor di wilayah bertebing,” ucapnya. 

La Nina sendiri adalah peristiwa turunnya suhu air laut di Samudera Pasifik, penyebabnya karena suhu permukaan laut pada bagian barat dan timur lebih tinggi dari pada biasanya. 

Kejadian tersebut menyebabkan tekanan udara pada ekuator (khatulistiwa) Pasifik Barat menurun. Hal ini mendorong pembentukan awan berlebih dan menyebabkan curah hujan tinggi pada daerah yang terdampak. Salah satunya Indonesia.

“Saya sudah perintahkan tim BPBD untuk siap siaga dan juga mempersiapkan segala persiapan seperti Senso (mesin pemotong kayu, red) untuk berjaga-jaga siapa tahu nanti ada pohon tumbang atau apa,” tandasnya. (us/an/fd)


(*)