Pasang

Budaya Nyadhar, Ritual Ungkapan Syukur Masyarakat Madura

  • Bagikan
Budaya Nyadhar, Ritual Ungkapan Syukur Masyarakat Madura
Budaya Nyadhar Sumenep (Sumber: Momentum.com)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Upacara adat ‘Nyadhar‘ merupakan kekayaan budaya dan tradisi masyarakat Sumenep, Madura, Jawa Timur, yang masih tetap lestari hingga saat ini.

Upacara ini, biasa dilakukan masyarakat petani garam di Desa Pinggir Papas, Desa Karang Anyar, Kecamatan Kalianget, dan juga Desa Kebundadap Kecamatan Saronggi.

Pasang

Nyadhar atau Nadar dalam sejarahnya, adalah niat dan ungkapan terima kasih kepada Tuhan yang telah memberikan rezeki. Selain itu, juga dilajukan untuk memberi penghormatan kepada para leluhur utamanya penemu garam pertama kali yaitu Syekh Anggasuto.

Secara umum, warga Pinggir Papas dan Kebundadap melakukan upacara Nyadhar di sekitar komplek makam leluhur, tempat tersebut menurut orang Madura disebut asta (buju’).

Ada tiga kegiatan dalam pelaksanaan upacara Nyadhar. Pertama, menyiapkan kembang tujuh rupa, dilanjutkan dengan nyekkar ke makam para leluhur yang ada di sekitarnya, terutama Syekh Anngasuto, Syekh Dukun, Syekh Kabasa, Nyai Bangsa dan Nyai Kabasa.

Seusai Nyekkar, warga kemudian diberi air minum dan bedak lalongsoran, dioleskan di beberapa bagian tubuh warga, seperti muka, leher dan lengan.

Baca Juga: Mengenal Budaya ‘Ojhung’ Lambang Pria Sejati di Madura

Air minum dan bedak tesebut diyakini dapat mendatangkan barokah dan manfaat. Di antaranya ialah dijauhkan dari penyakit, menolak petaka, serta dapat mempermudah segala usaha yang akan dijalaninya.

Sementara, untuk pemimpin tradisi Nyekar ini bukan orang sembarangan, akan tetapi mereka harus dari keturunan Syeikh Anggasuto yang dianggap penemu garam pertama di Kabupaten Sumenep, Madura.

Kedua, doa bersama untuk meminta pertolongan kepada Allah SWT, supaya semua masyarakat Sumenep, terhindar dari segala musibah, diberikan kesehatan jasmani dan rohani, serta dapat dilancarkan dalam usaha pertanian garam.

Keempat, menyantap makanan yang telah dibawanya secara bersamaan di lokasi Nyadhar, tetapi makanan tersebut tidak dihabiskan semua, melainkan sisanya dibawa pulang untuk dimakan bersama keluarga di rumahnya masing-masing.

Kegiatan Nyadhar ini dilaksanakan 3 kali pertemuan selama dalam setahun, pertama dan kedua digelar di Desa Kebundadap dan Desa Pinggir Papas.

Terakhir, yaitu dilaksanakan di rumah masing-masing atau disebut dengan Nyadhar Bengko (rumah). Pada saat Bengko ini, untuk malam harinya biasanya diisi dengan kesenian macopat (rorokat).

Untuk tanggal pelaksanaan tradisi Nyadhar ini tidak ditentukan, sebab yang bisa memastikan tanggal kegiatan tersebut hanya para pemangku adat setempat.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *