Pasang

Cara Unik Tangkap Ikan Nelayan Pulau Santen Banyuwangi

  • Bagikan
GOTONG ROYONG : Beberapa nelayan pulau saat beraktivitas menaring jaring (Renda Kurnia/Sinergijatim)

NASIONAL, SINERGI MADURA – Setiap nelayan di daerah memiliki cara unik dalam menangkap ikan. Seperti nelayan di Pulau Santen Banyuwangi, Jawa Timur.

Mereka punya cara unik tersendiri saat mencari ikan. Mula-mula mereka menebar jaring dengan panjang 500-1000 meter dari bibir pantai sampai ke tengah laut kemudian kembali lagi ke bibir pantai membentuk huruf U.

Pasang

Setelah itu mereka menarik jaring itu bersama sama hingga ke tepian. Hal ini menjadi ciri khas warga Pulau Santen dari masa ke masa. Rasa gotong royong dan kekompakan para nelayan ini sangat luar biasa. Meraka menarik jaring menggunakan ritme yang sama dengan semangat kekompakan.

Usai menarik jaring dan mengangkat hasil tangkapan, puluhan ibu dan anak-anak warga sekitar bergegas mendekat dan membawa wadah ikan yang terbuat dari bambu. Mereka berkerumun mendekat bukan untuk berebut, melainkan membantu mengumpulkan ikan hasil tangkapan.

“Mereka hanya bantu, kadang juga nempil (beli,red). Kalau memang banyak ya minta gak papa. Kalau sudah musim ikan, ya gak beli ikan itu, kita bagikan seukuran kantung plastik kecil. Selain itu pedagang ikan dari Muncar juga datang ke sini, untuk memborong ikan hasil tangkapan kami” ujar Salim (44), pemilik jaring.

Baca Juga: Gempa Bumi Berkekuatan 4,2 Guncang Yogyakarta dan Pacitan Jawa Timur

Jaring yang mereka gunakan bernama jaring tarik. Kondisi arus pesisir Selat Bali yang deras memang sesuai menggunakan alat tangkap jaring yang ditarik dari darat tersebut. Menariknya, yang paling banyak menggunakan jaring tarik hanya di Pulau Santen.

“Itu sudah jadi ciri khasnya sini. Selain jaring tarik, jaring pakis namanya,” tambah Ketua RT lingkungan Karanganom ini.

Salim juga mengatakan, warga Pulau Santen biasa menebar jaring sejak pukul 05.00. Meski demikian sistem kerja gotong royong ini tidak memaksakan diri harus mendapat ikan banyak.

“Enak cara kerjanya di sini. Misalkan gak ada pagi, kan keluar jaringnya habis subuh sekitar jam lima. Sekali dua kali nebar gak ada ya sudah kita berhenti. Kalau ada sehari, ya gak langsung terus-terusan. Istirahat, soalnya kita juga liat arus airnya,” urainya.

Saat ini kata Salim, masih ada sekitar 20 jaring tarik yang dimiliki warga Pulau Santen. Pekerjaan turun temurun ini, juga menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang berkunjung ke sana. (*)


(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *