Pasang

Darah Segar di Kamarku

  • Bagikan
Darah Segar di Kamarku
Foto: Istimewa

Pudarlah senyum itu. Padahal aku masih ingin mengajaknya pulang untuk bercerita panjang tentang legenda Potre Koneng dan kisah kepahlawanan Jokotole.

Pasang

Darahku menguap hingga melangit pada praktek perdukunan. Miskinlah aku oleh syarat-syarat aneh, istriku tak selamat menjadi sebuah akhir dari perjalanan panjang penderitaan. Laknatku pada dukun dan penganut keyakinan dukun. (Salihin)

Aku seorang mahasiswi yang setiap hari bergelut dengan diktat-diktat ilmiah. Seharusnya ini tidak terjadi di keluargaku. Tapi inilah pilihan yang harus kujajaki demi masa depan itu.

Karena kali ini tak ada jalan lain, ada kalanya aku harus menuruti apa kata Bapak. Ibuku sudah lama terbaring sakit. Gonta-ganti pindah dari satu rumah sakit ke rumah sakit yang lain namun hasilnya hingga saat ini masih tetap nihil. Sakit ibu tetap pada keadaan semula. Padahal menurutku sakit ibu ringan-ringan saja. Kepala berdenyut, perut panas dan tensi darah yang tak stabil. Tapi kondisi itu cukup membuat ibu lumayan menderita.

“Cuma demam.”

Begitu kata dokter tiap kali aku tanya tentang sakit yang diderita ibu.

Cuma demam, tapi harta kami sudah hampir habis untuk pengobatan ibu. Seolah-olah sakit ibu adalah sakit yang akut seperti gagal ginjal, tumor, leokimia atau lain sebagainya yang butuh biaya banyak untuk operasi, cek kesehatan rutin dan segala macamnya.

“Bagaimana selanjutnya, Pak?” Bapak diam sejenak. Berpikir.

“Sepertinya sakit ibumu tidak biasa, Nindi. Bapak akan mencari orang pintar atau dukun. Yang penting ibumu sembuh.” Dalam hati aku menolak keras ide Bapak itu. Tapi tak ada jalan lain, aku anaknya tak punya alasan untuk membantah keputusan Bapak.

Sebelum ke dukun, aku menyarankan kepada Bapak untuk membawa ibu ke klinik yang sering dipromosikan di radio lokal. Bapak menurutiku. Sehari semalam ibu mendekam di kamar pasien dan mendapat perawatan pada salah satu klinik yang kami datangi. Tak ada perubahan sampai akhirnya pun kita pulang seolah tak ada hasil yang berarti.

“Memang tidak biasa. Baiklah, kita ke dukun saja, Pak.” Ucapku.

***

Langit mendung terbang rendah. Aku semakin rendah menelusuri lorong-lorong sempit, Meremas buah dan meninggalkan ludah asin. Aku puas melihat mereka kian terbodohi. (Salihin)

***

Tak seperti yang kulihat di sinetron-sinetron dimana lazimnya seorang dukun akrab dengan menyan, keris, air kembang dalam cawan besar dan seperangkat alat perdukunan. Dukun ini seperti biasa-biasa saja. Seperti orang biasa, namun cara berpakaian dan tingkah laku dukun ini di hadapan kami tampak seratus delapan puluh derajat berbeda dari orang biasanya. Rambut panjang, di atasnya bertengger songkok nasional mengikat. Wajahnya tirus berewokan. Dua cincin bermata mungil warna perak melingkar di jari-jarinya. Bibirnya terlihat selalu basah oleh komat-kamit entah apa yang ia dzikirkan. Celana batik dan baju coklat koko yang ia kenakan semakin menambah keanehannya. Dari perawakan, saya kira usianya masih setara umur bapak. Sorot bolamatanya selalu awas dan waspada. Kadang membelalak seperti melihat genderuwo bunting, kadang sama sekali terpejam tafakur beberapa detik.

Aku tidak yakin dengan semua tingkahnya yang terkesan sengaja begitu dibuat-buat magis. Seolah ia yang paling berilmu di jagad ini. Ki Salih, begitu ia dipanggil.

“Saya akan memeriksanya dulu,” ujarnya kepada ayah.

“Oh iya. Silahkan, Ki. Istri sedang di dalam.” Bapak mempersilahkannya masuk.

Di samping ranjang ibu, Ki Salih membacakan mantra atau entahlah sebelum kemudian ia minta air putih.

“Penyakitnya cukup berat. Tak sembarangan orang bisa menyembuhkan penyakit seperti ini. Saya akan melakukan upacara penyembuhan. Dengan syarat, tak ada yang boleh melihat sepanjang saya melakukan upacara ini,” ucapnya, tanpa ekspresi.

“Iya, Ki. Silahkan. Kalau butuh sesuatu, panggil kami di luar.” Ki Salih hanya mengangguk dan kami pun meninggalkannya. Ia pun menutup pintu kamar ibu.

Baiklah! Meski tak begitu yakin, rupanya aku berharap besar dukun itu bisa menyembuhkan ibu. Paling tidak, sebab perantaranya, tuhan berkenan menyembuhkan dan kebahagiaan kita sekeluarga pun kembali sebagaimana dahulu.

***

Tiga puluh menit. Hatiku mulai gusar. Khawatir, seperti menunggu keberhasilan operasi pencangkokan jantung.

“Kalian boleh masuk.” Tiba-tiba suara Ki Salih terdengar dari dalam kamar.

Kami langsung berhambur membuka pintu dan masuk. Ki Salih bersila sembari semedi di lantai dekat ranjang ibu. Matanya masih terpejam.  Kulihat wajah ibu lebih bersih dari sebelumnya. Pucatnya sedikit berkurang menunjukkan ada tanda-tanda beliau telah membaik.

Benar saja, setelah dua hari sejak didatangi Ki Salih, keadaan ibu berangsur kian membaik. Terbayarlah dua petak tanah yang tergadai. Ikhlas pula sisa satu sapi dari empat sebelumnya bila Ki Salih berkenan untuk menerimanya sebagai mahar pengobatan.

Ibuku nyaris sembuh total!

***

Tanah mongol yang basah. Anak gadismu sungguh cantik wahai sang ibu. Ia mewarisi kecantikanmu. Tapi kau adalah milikku. Mari kita mulai dengan membuat wajahmu lebih menggairahkan dengan segelas air. Selanjutnya aku akan lebih cepat melakukannya.

Doa-doa melesat menembus langit. Hilanglah tabir bagi doa yang teraniaya. padahal Telah kutelanjangi kau. Usai itu kenikmatan adalah merenggut kesucian. Dan aku telah berhasil menyembuhkanmu dengan caraku. Cara birahi. Itu hukuman dariku. Dan camkan: Kenikmatan. Itulah hakekat dari praktek perdukunan. (Salihin)

***

Kuremas ponsel di genggaman. Status akun fadcebook dengan nama Salihin membuatku setengah mati menahan geram. Ia seperti telah memperkenalkan diri padaku dan memberi tahu kebiadabannya. Awas kau, Salihin!

Hari-hari selanjutnya, deru dendam kian bergemuruh. Seperti orang kesetanan, tiba-tiba aku jadi gampang marah. Lebih banyak mengurung diri.

“Salihin, kau tak akan selamat kali ini! AAAAAAAAAAAAAAAGR…” Aku menjerit sekeras mungkin melampiaskan sesak hati yang tak mungkin bisa lega sebelum selesai urusan ini dengan dia. Di kamar ini, aku mengamuk sejadi-jadi mengamuk seisi kamar.

***

Nindi sudah gila! Begitu aku dengar bisik-bisik tetangga di luar kamar. Dan seperti yang telah kuduga, setealah sekian aku lewati hari-hari yang melelahkan ini, Ki Salih, sang dukun sakti itu pun didatangkan untukku. Dan, seperti biasa, setelah basa-basi dan meminta air putih, ia pamit untuk melakukan upacara. Tak ada siapa-siapa di kamar ini. Hanya aku dan Ki Salih.

Aku pura-pura tidur saja. Pura-pura menurut jika sewaktu-waktu Ki Salih membalik badanku, mengangkat kepalaku dan membasuh wajah semrawutku. Pindah. Ia mulai mengusap air dari kakiku, terus naik hingga ke pusar setelah sebelumnya ia singkirkan kain sampir batik panjang nan membalut separuh tubuh ini. Rebahku dalam keadaan bertelanjang.

Perlahan aku buka mata. Sebentar aku mengintipnya. Rupanya ia mulai merambah celana dalam yang kukenakan. Ia pun naik menopang di atas tubuh. Aku buka mata. Ki salih tiba-tiba terkesiap dan seolah buru-buru harus melakukan sesuatu. Sesekali ia memberi isyarat kepadaku agar tak berisik. Aku pun lalu berusaha untuk tersenyum seindah yang aku bisa. Aku mengangguk dan bangkit perlahan, bergaya layaknya bintang film profesional. Aku tuntun sekalian dia agar bersedia memosisikan diri di bawahku. Aku rayu ia dengan sedikit ciuman dan, saat pikirannya sedang melayang, aku ikat tangannya dengan tali yang telah kusiapkan di jeruji dipan.

“Agar lebih nikmat,” bisikku. Ki salih tersenyum.

“Beres!” ucapnya. Sejenak aku memijit dadanya dengan tangan kanan dan, tangan kiriku, terus berupaya merogoh sebuah pisau di selip bantal kasur.

Berhasil. Di atas tangan yang terikat, aku ayunkan pisau itu. Sesekali kujilati ujung pisau itu hingga lidahku tergores dan berdarah. Ki Salih mulai sadar dan seolah ingin berontak. Aku melihat ketakutan dari dalam bolamatanya. Aku menikmati ketakutannya dan, bersamaan dengan itu, kusentuhkan ujung pisau tepat pada kulit di luar jantungnya. Lagi, aku lihat kedalaman matanya. Kini ia pun seperti telah pasrah.

“Ini untuk yang kau lakukan pada ibuku!”

Tepat di akhir kalimat itu, pisauku menghunus ke bilik jantung dia. Darah segar mengalir. Kutusuk di bagian lain. Lagi dan lagi. Ia mengerang keras. Tubuhnya bergetar hebat. Tatapannya menusuk ke arahku sebelum kemudian perlahan bolamata itu mendelik tak bergerak.

***

Aku membaca status fecebookmu, Salihin. Satu kesalahan fatal, seharusnya kau tidak menyebut nama desaku. Desa Mongol.

***

Sejenak lalu pintu kamarku pun terdobrak!

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *