Dari Taman Siswa ke Merdeka Belajar

Dari Taman Siswa ke Merdeka Belajar
Gambar Ilustrasi oleh Febri Ach. Faraid (Dokumen Sinergi Madura)

Oleh: A’yat Khalili

 


etiap orang menjadi guru, setiap rumah menjadi sekolah –ikhtiar filosofis Ki Hadjar Dewantara dalam melandasi prinsip dasar “taman siswa” yang dibangun 3 Juli 1922, rupanya sangat relavan melihat kultur Indonesia yang multiragam. Prakarsa “taman” sebagai tampek bamain atau tampek baraja menginterpretasikan bumi yang berlatar perbedaan di segala sisi, sangat cocok jadi tataran nilai pembelajaran. Porsi keberagaman dengan ciri khasnya jadi persentasi setiap rumah menjadi sekolah mengartikan secara reflektif bahwa realitas kehidupan kita sangat produktif diserap sebagai materi dan nilai-nilai mendidik. Sehingga lahir Patrap Triloka dengan poin memberi teladan, membangun kemaun dan dari belakang mendukung untuk memberi hak belajar dan hak-hak asasi yang lebih mendiri. Ikhtiar itu juga menegaskan eksistensi manusia sebagai makhluk unggul yang mempunyai survival spirit, punya potensi dan kelebihan yang memberi hikmah satu sama lain, termasuk memahami fitrah dalam kaidah budaya yang melahirkan dengan pola unik dan berkarakteristik.

Menyadari setiap individu memiliki potensi dan minat, usaha memerdekakan cara belajar adalah keniscayaan. Pertimbangan terhadap masa depan mereka sebagai penerus sumber daya manusia yang heterogen adalah tanggung jawab bersama. Iktikad kata “taman” pada predikat “belajar” harus dimaknai, bahwa sekolah harus menjadi wadah yang menyenangkan, menghibur dan membahagiakan secara lahir dan batin. Di sini, sekolah adalah ekosistem yang mencipta suasana hidup leluasa, bukan ruang menegangkan penuh kontrol pesimistik, aroganistik dan rasa takut akibat ancaman, paksaan, perintah dan hukuman yang tak kalah angker dari kesan penjara. Dari refleksi parameter semboyan Tut Wuri Handayani, sekolah adalah tempat mengeklorasi potensi dan kemampuan yang berbeda-beda untuk dirawat dan ditumbuhkembangkan dengan cara terbimbing.

Dengan begitu “taman siswa” bisa dirujuk sebagai spirit primer kemerdekaan belajar untuk menempatkan segala ruang belajar sebagai wahana baru mendalami keberagaman dan mengenal setiap eminensi di dalamnya. Dalam momentum ini, desa atau daerah sebagai lumbung budaya yang harus terus dikelola berisi kreasi dan inovasi, dan sebagai penyelenggara, terutama bidang pendidikan, pemberdayaan guru-guru dari tingkat daerah harus benar dimaksimalkan, disentuh secara ekstensif oleh pusat, tentu dengan kontrolisasi dan persediaan fasilitas yang memadai dan sama rata untuk setiap pelosok tanah air.

Kodrat Belajar

Belajar dalam pemahaman etimologis diartikan proses interaksi terhadap situasi sekitar individu. Dengan proses interaksi, lahir adaptasi, kemudian keterampilan dan kompetensi. Berarti jauh sebelum siswa masuk atau sedang berada di lembaga formal, bisa saja mereka telah belajar konsekuensi serius dari transmisi nilai. Apalagi di era digitalisasi, segala akses masuk dari internit dan televisi yang membawa banyak budaya baru. Digitalisasi berisi konvergensi dengan akses kilat telah memungkinkan mereka mengenal dunia lebih luas, berpikir cepat dan berbicara dengan cakap ketimbang zaman-zaman sebelumnya. Mereka berpartisipasi terhadap banyak hal, bertindak sebagai pribadi merdeka yang membuka skala ruang tanpa sekat –sebuah aktivitas kontinyu yang mengafirmasi ruang hidup tersendiri. Dan tentu, mereka sangat menikmati proses interaksi “belajar” semacam ini. Tanpa disadari, menghasilkan banyak perubahan, baik pola pikir dan penalaran. Dengan apersepsi ini, teknologi sudah merambat jauh ke dalam pemikiran yang digadang para ahli didik seperti Hilgard dan Bower (Purwanto, 1993:84), bahwa belajar berhubungan dengan perubahan tingkah laku seseorang terhadap situasi tertentu yang disebabkan pengalaman yang berulang-ulang.

Patut kita bertanya di mana fungsi lembaga dan kehadiran peran guru dalam sirkulasi ini. Tentu kita hanya bisa meletakkan lembaga formal sebagai pengarah, seperti dikatakan John Dewey (1859-1952), bahwa belajar adalah menyangkut apa yang harus dikerjakan siswa untuk dirinya sendiri, guru hanya sebagai pembimbing potensi masing-masing. Dari orang tua di rumah sampai guru di sekolah menjadi tempat bercerita, dan lembaga harus mampu mengeratkan hubungan mereka dengan kehidupan sosialnya. Lembaga harus mengembalikan mereka ke habibat hidup sebagai pribadi dari daerah yang berbeda-beda. Ikhtiar merdeka belajar tidak hanya menjadi inisiasi, tetapi juga solusi dari masalah mereka, jadi penempaan dan proses mendidik dalam mengenalkan latar belakang bangsa. Lembaga sebagai wadah “taman” belajar dan pembelajaran berisi aktualisasi keberagaman. Pelaksaan ini harus disadari bersama, agar basis teknologi sebagai instrumen bisa menjadi introduksi dalam ruang praktik dan eksprementasi. Munculnya basis teknologi di tengah vitalitas budaya juga harus menjadi media promosi dan pelestarian kearifan lokal demi menunjang kegiatan di mana pendidikan diselenggarakan, di mana mereka dibesarkan dengan cerita rakyat, legenda, metos, dongeng, pepatah, guyon, foklor dan kearifan-kearifan lain yang mendasari pengetahuan mereka agar tetap tertanam kuat.

Nilai Intrinsik Budaya

Belajar harus membuat orang bahagia, karena itu harus tumbuh sesuai kodrat dan jalan hidupnya sendiri. Tanpa itu mustahil bisa dinikmati dan dijalani dengan nyaman. Dalam refleksi kultural, belajar harus jadi aktivitas rekreatif terhadap hal yang menumbuhkan hal positif. Menyerap makna implisit pepatah: apa yang ditanam, itulah yang dituai, maka mendidik generasi pun harus selaras dengan fitrah budayanya dan disiapkan agar mampu mengelola bangsanya yang beragam. Otomatis harus menyerap segala unsur kehidupan dalam memahamkan didikan sebagaimana para pendahulu merintis bangsa. Dalam hal ini, kita tak bisa meniru pendidikan ala Finlandia yang sosialis dan mematok passion tinggi, karena budaya kita dinamis. Tetapi, kita bisa lebih hebat dari China dan Australia, karena sama-sama memiliki etnis yang beragam. Hal itu, meyakinkan bahwa sejatinya inspirasi globalisasi sudah terdapat di lubuk keberagaman bangsa kita. Pun dari segi sumber daya alam agraria, bahari hingga warisan budaya mempunyai kekayaan dan kebanggaan yang meniscayakan kemandian hidup tanpa ketergantungan.

Struktur alam dan budaya dinamis itu harus diberdayakan sebagai target belajar sejak awal: pertama, pemahaman kultural kaitannya dengan budaya seperti bahasa daerah, tarian, upacara, petik laut di Madura, ruwat desa di Purwakarta dan Subang, batik di Pekalongan dan masih banyak lagi. Kedua, pemahaman edukatif kaitannya dengan nilai-nilai kearifan lokal seperti gotong royong, tegur sapa, solidaritas, adab sopan santun, etos kerja dan budaya cium tangan dan lain-lain. Ketiga, pemahaman multietnis untuk saling bersikap welas asih, menghargai dan menghormati sesama dan hidup rukun yang diekspresikan dalam pengamalan. Keempat, pemahaman  hidup sehat kaitannya dalam hal merawat lingkungan. Dengan model belajar rekreatif seperti itu, mereka akan tahu alam Indonesia dari segi geografis hingga kultural yang terbentang dari Sabang hingga Merauke. Di samping, kenyataannya belum banyak yang memahami berbagai karakteristik bangsa ini.  Maka nilai-nilai itu harus jadi sumber wawasan inklusif, agar tidak terjebak pandangan kapitistik.

Sifat luhur yang sudah diwariskan turun-temurun harus diberikan sejak dini, sejak dari mana bangsa kita belajar mengenali dan menjalani kodrat hidupnya. Jadi perlu ada jalinan erat antara materi belajar dan humanisasi dengan monitor berbasis teknologi, baik di ruang praktikum maupun pertemuan dialogis siswa dan guru. Sehingga formalisasi tersebut lambat laun melahirkan kepekaan pengabdian dan dedikasi. Maka, kelangsungan hidup harus dijaga dari generasi ke generasi, sebagaimana budaya kita terbentuk secara alami. Hanya dengan cara mendidik seperti itu, bangsa kita dari generasi ke generasi mendatang akan hidup lebih mandiri, rukun, sejahtera dan bahagia di tanah airnya yang tetap terjaga permai dan bergelora sepanjang masa.


Jakarta Barat, Agustus 2020

A’yat Khalili, penulis dan pemerhati pendidikan dari Madura.