Di Tengah Kesibukan Kuliah, Mahasiswa Bangkalan Ini Dirikan Sekolah di Pedalaman

Di Tengah Kesibukan Kuliah, Mahasiswa Bangkalan Ini Dirikan Sekolah di Pedalaman
POSE BERSAMA: Sejumlah tenaga pendidik bersama pengurus Yayasan Misbahul Munir berpose bersama pejabat dari Disdik Bangkalan di depan SMP Nurul Arifin Alasraya (Sri Astutik - Sinergi Bangkalan)

BANGKALAN, SINERGI MADURA - Adalah Abdullah, di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa aktif di Universitas Trunojoyo Madura ini tekad dirikan lembaga pendidikan (sekolah) di desanya.

Sekolah tersebut adalah SMP Nurul Arifin, terletak di Dusun Lajing Barat, Desa Alasraya, Kecamatan Blega, Bangkalan, Jawa Timur. Ia mengutarakan, niat mendirikan sekolah adalah karena permintaan dari masyarakat. Mereka, kata Abdullah, banyak yang membutuhkan keberadaan sekolah umum tingkat pertama (SMP) di desa ini.

"Karena orang desa itu, terutama yang punya anak perempuan, kalau disekolahkan keluar jadi khawatir, sehingga adanya sekolah saya ini setidaknya menjadi wadah bagi mereka biar tidak jauh (bersekolah, red)," ungkapnya, Rabu (25/11/2020).

Mahasiswa jurusan Psikologi Unijoyo Madura itu menuturkan, sebenarnya masyarakat telah mendesak dirinya agar mendirikan sekolah tersebut pada awal tahun 2017 silam, yakni ketika dirinya masih menginjak semester pertama.

Seiring berjalannya waktu, Abdullah berhasil mendapatkan izin dari Yayasan Musbahul Munir, dan pada tahun 2020 sekolah ini pun mendapat izin resmi dari Dinas Pendidikan Kabupaten Bangkalan.

Baca Juga: Penghapusan BBM Premium di Sumenep Terganjal Pelaksanaan Pilkada

"Pada saat semester berapa itu Alhamdulillah dapet dukungan dari yayasan, baru resmi tahun sekarang 2020. Alhamdulillah sudah resmi, sudah mendapatkan piagam (dari Dinas Pendidikan, red)," ungkapnya.

Abdullah mengatakan, sekolah tersebut dibangun tidak sendirian. "Bersama dengan KH Jamaluddin Ali dan juga mendapat dukungan materi serta tenaga dari masyarakat sekitar," ungkapnya kepada media ini.

Pada mulanya, lanjut Abdullah, tenaga pendidik saat awal terbentuknya sekolah ini hanya berjumlah dua orang. "Hanya dua guru relawan, termasuk saya sendiri," katanya.

Saat ini, SMP Nurul Arifin di Desa Alasraya ini telah memiliki tiga ruangan dengan tujuh guru honorer, dibantu oleh beberapa guru relawan dari kalangan mahasiswa. "Alhamdulillah, kesuksesan adalah karena mereka, sekarang kita sudah punya 30 siswa," ucapnya penuh syukur.

Abdullah berharap pada Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2020 ini, mereka para pendidik yang telah berjuang mencerdaskan anak Indonesia, khususnya anak-anak di SMP Nurul Arifin, mendapat tunjangan kesejahteraan dari pemerintah.

"Saya berharap tenaga pendidik di Indonesia semakin disejahterakan, karena upaya pemerataan pendidikan sekaligus tenaga pendidik tentu membutuhkan kesejahteraan agar mereka fokus mengabdi untuk negeri," tutupnya.

Salah satu guru relawan SMP Nurul Arifin, 
Alfi, mengaku tertarik menjadi tenaga pendidik di sekolah ini karena dirinya melihat sekolah ini masih sangat kekurangan guru.

"Di sekolah tersebut gurunya belum banyak dan itu akan menyulitkan sebenarnya untuk sekolah dan temen-teman siswa. Karena jika satu guru mengampu berapa pelajaran itu akan keteteran, dan dari penuturan siswa ada beberapa guru yang tidak selalu hadir ke sekolah. Itu kenapa saya berinisiatif menjadi relawan di sekolah ini," tutur Alfi.

Selain itu, Alfi juga mengutarakan kendala yang dialaminya saat hendak pergi mengajar.

"Kesulitan saya menjadi tenaga relawan adalah karena lokasi sekolah yang jauh dari pusat kecamatan, jauh dari jalan arteri, dan sewaktu-waktu siswa hanya sedikit yang masuk. Itu juga kendala kebanyakan sekolah swasta di desa-desa," ungkapnya.
  
Namun demikian, harapnya menambahkan, semangatnya sebagai pendidik tidaklah akan surut karena itu. "Untuk guru-guru Indonesia, tetap semangat menjadi seseorang yang digugu dan ditiru. Kalian luar biasa, semoga sehat selalu. Selamat Hari Guru Nasional," tutup Alfi. (sa/md/fd)


(*)