Pasang

Gandeng Pemkab Pamekasan, BCM Target Bangun 5 hingga 10 Pabrik Rokok di Desa Ini

  • Bagikan
Gandeng-Pemkab-Pamekasan,-BCM-Target-Bangun-5-hingga-10-Pabrik-Rokok-di-Desa-Ini
SANTAI: Para peserta secara bergantian berdatangan dan memilih tempat duduknya masing-masing sebelum kegiatan sosialisasi di Balai Desa Laden dimulai (Dokumen Sinergi Madura)

PAMEKASAN, SINERGI MADURA – Bersama Pemerintah Kabupaten Pamekasan, Bea Cukai Madura terus melakukan upaya pematangan rencana terkait pembangunan kawasan industri hasil tembakau (KIHT) akhir tahun 2021 ini.

Melalui Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag), pemerintah setempat menargetkan pembangunan 5 hingga 10 pabrik rokok di kawasan Desa Gugul, Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan.

Pasang

Dalam hal ini, pemerintah akan merekrut pengelola atau pekerja terutama dari para pengusaha rokok yang selama ini masih lebih tertarik dengan produksi rokok ilegal.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (DPMD), Achmad Faisol, saat sosialisasi ketentuan peraturan perundang-undangan tentang cukai di Balai Desa Laden, Kamis (16/9), dihadiri oleh perwakilan dari 7 desa di Kecamatan Pamekasan Kota.

Hadir pula dalam kegiatan sosialisasi ini, jajaran Forkopimka setempat, Kadis PMD Pamekasan bersama instansi terkait dan perwakilan dari Bea Cukai Madura.

“Sosialisasi upaya preventif atau pencegahan dari pemerintah, bukan sebagai penindakan, sehingga diharapkan semua bisa lebih paham dengan aturan dan manfaat cukai,” kata Kadis Achmad Faisol kepada media ini, Kamis (16/9/2021).

Dalam kesempatan yang sama, Kepala Seksi Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Madura, Trisilo Asih Setiawan menjelaskan tentang urgensitas pembangunan kawasan hasil industri tembakau (KIHT) di Kabupaten Pamekasan.

Baca Juga: Pemkab Sumenep Gelar Rapat Koordinasi Persiapan Pilkades Serentak

Trisilo menyampaikan, sejumlah lahan di Desa Gugul, Tlanakan, tersebut nanti akan menjadi kawasan sentra penghasil tembakau. “Berdasarkan pengamatan yang kita dapatkan, kualitas produksi rokok di Pamekasan ini bagus-bagus ya, ada sekitar 60 pabrik,” ungkapnya.

Dia kemudian menyebutkan sejumlah keuntungan yang dapat diperoleh pelaku usaha industri rokok jika bergabung dengan BCM dalam pembangunan KIHT.

“Diantaranya nanti kita sediakan mesin linting ya, lengkap dengan laboratorium yang terintegrasi di tempat itu, kita bisa melakukan linting bareng-bareng,” urainya.

Jika bergabung dengan KHIT, sambung dia, keuntungan lain berupa jaminan bahwa tidak akan ada aturan luas pabrik rokok. “Selama ini kalau pabrik rokok yang mengajukan izin itu minimal luasnya kan 200 m2, tapi kalau gabung di KIHT itu tidak dipersoalkan lagi,” katanya.

Jadi selain ketersediaan lahan dan dukungan fasilitas, simpul dia lebih lanjut, mereka juga akan mendapatkan dispensasi berupa penundaan pembayaran cukai hingga 90 hari.

Syarat untuk bergabung di KIHT ini menurutnya cukup mudah, yakni hanya dengan mengurus Nomor Pokok Pengusaha Barang Kena Cukai (NPPBKC) di kantor Bea Cukai Madura.

Namun sebelum ke kantor BCM, mereka yang hendak bergabung dengan KIHT terlebih dahulu dipersilakan mengurus Izin Usaha Industri (IUI), Izin Lingkungan, SIUP, Izin HO dan Izin lokasi ke DMPTSP Naker setempat.

“Sekarang kalau mau gabung di KIHT itu cukup hanya dengan memiliki NIB, bisa diurus melalui aplikasi OSS. Dengan NIB nanti akan diterbitkan NPPBKC-nya,” pungkasnya. (*)


 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *