Pasang

Inilah 6 Karakter Mayoritas Orang Madura

  • Bagikan
Foto ilustrasi
Foto ilustrasi

BUDAYA, SINERGIA MADURA – Setiap masyarakat daerah di belahan bumi manapun pasti memiliki karakter yang berbeda dengan daerah lainnya.

Tuhan menciptakan manusia dalam rupa, sifat dan kebiasaan yang beragam. Seperti halnya masyarakat Madura, Jawa Timur, Indonesia yang di dalamnya terdiri dari penduduk dengan suku dan keturunan yang berbeda-beda.

Pasang

Dalam kesempatan ini Sinergi Madura ingin lebih fokus membahas tentang 6 karakter mayoritas orang atau suku Madura.

Berikut 6 Karakter Mayoritas Orang Madura yang disarikan Sinergi Madura dari berbagai sumber.

1. Keras dan Tegas

Orang Madura kerap kali dikenal sebagai orang yang keras tapi tegas dalam berkomunikasi.

Mereka tidak plin-plan dalam menentukan sikap saat berhadapan dengan lawan bicaranya. Prinsipnya, “Lakona lakone, kennengnganna kennengnge“.

Prinsip tersebut dapat diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan: “Kerjakanlah pekerjaanmu, tempatilah tempatmu”.

2. Pemberani

Selain keras dan tegas, orang Madura juga terkenal dengan sikapnya yang pemberani.

Orang Madura akan berontak jika dirinya dipermainkan. Prinsip yang dipegang, tidak ingin berbuat salah kepada orang lain dan sebaliknya jangan sampai orang lain bikin onar dengan dirinya.

Dengan kata lain, orang Madura selalu berpegang pada satu prinsip yang kokoh, bahwa yang salah tetapkanlah itu salah, jika benar maka dudukkanlah kebenaran itu sebenar-benarnya.

Mereka tidak pernah pantang mundur menghadapi persoalan apapun, apalagi yang berkaitan dengan masalah fisik. Jika pun nyawa taruhannya, sudahlah itu kepastiannya.

Baca Juga: Bukan Masjid Jamik yang Pertama, Ini Urutan 3 Masjid Tertua di Sumenep Madura

2. Ambisius

Sifat ambisius juga menjadi salah satu karakter mayoritas orang Madura. Sifat pantang menyerah itu tergambar dalam panast├Ęs dari para sesepuh mereka.

“Cong! Ba’na kalowar nenteng sadha’, ja’ mole mon tadha’ dharana!”

Demikian nasehat sesepuh Madura ketika anaknya berangkat keluar rumah, baik dalam rangka mencari rejeki, ilmu, atau usaha lainnya.

Jika diartikan secara leterleks ke dalam bahasa Indonesia, slogan panast├Ęs tersebut bermakna: “Hai, nak! Kamu keluar membawa celurit, maka jangan kau pulang jika tidak ada darah di batang celurit yang kau bawa itu”.

Sepintas kalimat itu terdengar kasar dan kejam. Namun arti yang dimaksud dalam nasehat tersebut bukan ingin menyuruh agar anaknya bertengkar apalagi sampai carok, melainkan kalimat kiasan bahwa dengan bekal keahlian atau ilmu (celurit) yang dibawa, hendaknya si anak pulang dengan hasil yang nyata!

Misal, mereka merantau bawa segepok bekal duit (baca: celurit) untuk berdagang, maka mereka dianjurkan pulang dengan keuntungan atau keberhasilan (baca: darah) yang kelak dapat dirasakan oleh keluarganya.

3. Harga Diri

Bagi orang Madura, harga diri artinya sama dengan nyawa. Ketika ada orang yang mempermainkan harga diri mereka, maka berarti orang tersebut sedang mempertaruhkan nyawanya.

Seperti sudah tidak asing lagi, kadang kita mendengar ujaran tentang orang Madura: “Jangan cari masalah dengan orang Madura karena mereka akan melakukan apa saja untuk menjaga harga dirinya”.

Demikian, orang Madura tidak hanya menjunjung tinggi harga diri mereka sendiri, melainkan juga berani melakuka apa saja demi keluarga dan sanak-saudaranya.

Semua itu dilakukan demi martabat dan nama baiknya sebagai orang Madura seutuhnya.

Baca Juga: Simak Sekilas tentang Asal-usul dan Karakter Orang Madura

4. Kuat dalam Persaudaraan

Bagi orang Madura, saudara dan sahabat adalah segala-galanya. Tak ubahnya tubuh, jika salah satu saudara atau sahabatnya sakit, maka semua harus ikut merasakannya.

Orang Madura memang terkenal dengan sikap sosial yang cukup tinggi; suka bergaul, berkumpul dan cepat berbaur dengan orang yang baru dikenal sekalipun.

Ini menjadi bukti bahwa orang Madura adalah manusia yang sangat suka pada kekompakan atas sesama, bahkan ketika mereka sedang berada di negeri rantau.

5. Memperlakuan Tamu bagai Raja

Jika kalian datang bertamu ke rumah temanmu di Madura, maka jangan heran jika sambutan si tuan rumah begitu luar biasanya. Apapun yang ada akan mereka suguhkan semuanya.

Bahkan di saat dalam keadaan paceklik sekalipun, mereka akan tetap berusaha menyuguhkan yang terbaik untuk tamu-tamunya, kalaupun dengan jalan cari hutangan.

Demikian, sikap ini sebenarnya lahir dari kuatnya rasa persaudaraan yang ada dalam diri orang Madura.

Toh sebenarnya, sikap ini merupakan nasehat nabi dan para ulama Islam terdahulu, bahwa kita diwajibkan untuk menghormat tamu seolah-olah kita adalah pelayan mereka di rumah kita sendiri.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *