Pasang

Inilah Kisah 4 Situs Keramat Penjaga Pulau Gili Labak Sumenep Madura

  • Bagikan
Inilah-Kisah-4-Situs-Keramat-Penjaga-Pulau-Gili-Labak-Sumenep-Madura
DARI KEJAUHAN: Tampak Pulau Gili Labak berbentuk gugusan tanah melingkar di tengah Laut Madura (Mazdon - Sinergi Sumenep)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Ada yang menarik untuk didiskusikan lebih jauh tentang keberadaan Pulau Gili Labak yang terletak di Dusun Lembana, Desa Kombang, Kecamatan Talango, Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Dikisahkan oleh Ketua dan Wakil Ketua Pokdarwis Gili Labak, Ariyanto dan Khozaime, sejak zaman nenek-moyang mereka, pesisir pulau kecil ini tak sekalipun pernah diterpa air laut walaupun ombak besar sering kali datang menggulung dan mengarah ke tepian pantai.

Pasang

“Saya juga heran ya, seingat saya, sejak lahir sampai sekarang saya belum pernah melihat air laut tumpah ke sini. Jangankan ke halaman, paling banter air laut berhenti di depan pohon kurma itu,” ungkap Khozaime, sambil menunjuk pohon kurma yang tumbuh pas di sebelah selatan plang nama wisata Pulau Gili Labak.

Mereka menerka-nerka, bahwa kawasan destinasi Pulau Gili Labak ini dijaga oleh 4 makhluk ghaib yang tersebar di setiap sudutnya. 4 makhluk ghaib itu merupakan penunggu pantai yang kini hanya berupa situs peninggalan; masing-masing terletak di sebelah tenggara, di batas timur laut, barat daya dan di pintu masuk pulau.

“Ya, itu sama dengan yang kurasakan, seumur-umur Alhamdulillah di pulau ini kita hidup aman dan tenang. Pulau ini hanya 5 hektare ya, jadi kalau ada ombak tinggi misalnya, maka bukan tidak mungkin pulau dan seisinya ini habis tergulung,” timpal Ketua Pokdarwis Gili Labak, Ariyanto, Minggu (17/10/2021).

Nama 4 situs keramat dan bersejarah yang diyakini oleh masyarakat sebagai penjaga Pulau Gili Labak tersebut antara lain, 1). Nyai-Kiai Tenglor, 2). Nyai-Kiai Garindung, 3). Bhuju’ Eppal, dan 4). Sumur Semmenan.

1). Nyai-Kiai Tenglor

Letak situs Nyai-Kiai Tenglor ini terletak di bagian timur laut Pulau Gili Labak.

Tak ada data akurat yang dapat menggambarkan bagaimana kisah hidup Nyai dan Kiai Tenglor.

Namun demikian, masyarakat setempat hingga saat ini percaya bahwa sepetak tanah dengan pohon raksasa yang bercabang-cabang itu merupakan makam Nyai Tenglor dan Kiai Tenglor.

“Saat punya hajat atau nadzar, masyarakat di sini biasanya naruk bendera, sesajen dan uang sekadarnya,” terang Khozaime.

Misalnya, imbuh Khozaime, salah satu keluarganya sedang bepergian ke pulau seberang atau datang dari rantau, tetapi saat hendak pulang menyeberang terhalang oleh ombak besar. Maka dengan cara menaruk sesajen, keluarganya itu pun berhasil pulang dan sampai di Pulau Gili Labak dengan selamat.

“Tidak tahu kenapa, ombak yang semula besar bergulung-gulung itu tiba-tiba rendah dan tenang,” katanya.

“Ya, maksudnya bukan memohon atau apa, tetapi ini sekadar tradisi penghormatan, kita memohon dan menyembah tetap kepada Yang Mahaesa,” imbuh Ketua Pokdarwis Gili Labak, Ariyanto.

2). Nyai-Kiai Garindung

Sama halnya dengan situs Nyai-Kiai Tenglor, situs keramat Nyai-Kiai Garindung ini juga menjadi tempat masyarakat meletakkan sesajen dan bendera di saat-saat tertentu.

Lokasi situs Nyai-Kiai Garindung ini terletak di sudut tenggara Pulau Gili Labak, berdekatan dengan pemakaman umum masyarakat setempat.

Di sebelah selatan pemakaman umum tersebut berdiri kokoh Masjid Al-Busyro, tempat masyarakat melakukan ibadah shalat dan acara keagamaan lainnya.

Konon ceritanya, masjid ini dibangun atas inisiatif dan bantuan dari Kiai A Busyro Karim waktu kunjungan ke sini bersama mantan istrinya, Nyai Mila.

“Nyai Mila ketika itu, sekitar tahun 2016 ya kalau nggak keliru, langsung melepaskan gelang emasnya dan diserahkan kepada masyarakat agar dijadikan modal mendirikan masjid ini, dengan syarat benar-benar dijadikan tempat ibadah,” ungkap Khozaime.

3). Bhuju’ Eppal

Khozaime mengantarkan Tim Sinergi Madura menuju lokasi Bhuju’ Eppal yang terletak di sudut barat daya Pulau Gili Labak. Lokasi tersebut berada tepat di sebelah timur Dermaga Utama Pulau Gili Labak.

Dahulu, kata dia, tepat di sebelah selatan Pohon Jhâbbâu sebagaimana foto di atas, terdapat makam yang disebut dengan Bhuju’ Eppal. Namun saat ini makam tersebut sudah tak terlihat ada lagi, hanya rerimbun daun dan pohon-pohon bercabang tumbuh di atasnya.

Berbeda dengan situs keramat yang lain, Bhuju’ Eppal ini tidak menjadi sasaran peletakan sesajen oleh masyarakat sekitar. Namun keberadaannya tetap dipercaya sebagai salah satu penjaga Pulau Gili Labak.

4). Sumur Semmenan

Pas di pintu masuk pantai, terdapat pohon kurma kerdil tak berbuah. Lokasinya tepat di sebelah selatan plang nama wisata Pulau Gili Labak.

Dulu, menurut keterangan dari Ketua RT Pulau Gili Labak, Abdul Jalil, pas di tempat pohon kurma tersebut tumbuh terdapat sumur ghaib yang terkenal dengan sebutan Sumur Semmenan. Namun saat ini sumur tersebut telah tertutup dengan timbunan pasir.

Di sini, kata dia, seringkali ada pengunjung yang kesurupan. “Biasanya orang-orang yang cantik, ya. Beberapa waktu lalu itu artis waktu ambil film ke sini, entah siapa namanya aku lupa. Kemudian putrinya KH Thaifur Ali Wafa Ambunten, cucu atau cicitnya Kiai Kholil Bangkalan juga sempat kesurupan di situ,” katanya.

Setiap tanggal 1 Asyura, masyarakat setempat biasa menggelar acara ngaji bersama dan menaruk sesajen di atas pohon kurma tersebut, “dengan harapan keselamatan pengunjung, itu aja,” ucapnya.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *