Karomah Ki Ageng Jakfar Shadiq, Menantu Ki Ageng Joko Tarup

Kitab Bat adalah salah satu karya Ki Ageng Jakfar Shadiq yang dituliskan di lembaran batu

Karomah Ki Ageng Jakfar Shadiq, Menantu Ki Ageng Joko Tarup
Salah seorang peziarah sedang mengaji (tawasul) di dekat pesarean Ki Ageng Jakfar Shadiq (Ainur Rizky - Sinergi Pamekasan)

PAMEKASAN, SINERGI MADURA – Kehidupan masyarakat Jawa pada umumnya, dan Madura pada khususnya, hingga saat ini masih lekat dengan dunia klenik atau kepercayaan terhadap hal-hal mistis dan mitos.

Sebagaimana cerita di salah satu wisata religi yang terletak di Kampung Pacenan, Kecamatan Larangan, Kabupaten Pamekasan. Setiap harinya, destinasi yang penuh dengan pepohonan bambu ini tak pernah sepi dikunjungi oleh wisatawan, baik dari warga lokal Madura maupun interlokal, khususnya warga Pulau Jawa.

Wisata religi tersebut adalah Asta atau tempat dimakamkannya Ki Ageng Joko Tarup bersama para keturunan termasuk menantunya, Ki Ageng Jakfar Shadiq. 

Menurut sejarah lisan yang berkembang di masyarakat, Ki Ageng Jakfar mampu memindahkan langgar tanpa harus digotong. Karya menantu Ki Ageng Joko Tarup itu berupa sebuat kitab yang ditulis di lembaran batu, masyarakat mengengalnya dengan sebutan 'Kitab BAT'.

Sejarah singkat tentang langgar yang pindah sendiri itu diungkapkan jurukunci Asta, Adi Krisno, yang menurut silsilahnya, dia adalah keturunan generasi ke-12 dari Ki Ageng Joko Tarup. 

“Nah, ini dia langgar yang pindah sendiri, dan itu makamnya ada di sebelah barat sana," jelas Adi sambil menunjukkan lokasi langgar dan pesarean Ki Ageng Jakfar yang terletak di area bagian barat Asta, berseberangan dengan makam Ki Ageng Joko Tarup.

Jurukunci Asta Ki Ageng Joko Tarup, Adi krisno (kanan) saat diwawancara di langgar yang dipindahkan oleh Ki Ageng Jakfar Shadiq (Ainur Rizky - Sinergi Pamekasan)

Kala itu, cerita Adi, Ki Ageng Jakfar Shadiq hendak pergi ke undangan di rumah gurunya, Kiai Jalina. Singkat cerita, Ki Ageng Jakfar lalu diperintahkan oleh Ki Jalina untuk memindahkan langgar di kediamannya menuju lokasi pesarean Asta Joko Tarup.

"Dari kediaman Kiai Jalina suruh pindah tanpa harus menggotongnya,” ungkapnya.

"Lalu Ki Ageng Jakfar Shadiq ini mengambil ranting pohon eleng-elengan, dipukulnya 3 kali, lalu (langgar itu, red) terbang sampai ke sini," imbuhnya.

Lebih jauh diceritakan, sudah mulai sejak dahulu kala, atap langgar Asta ini terbuat dari daun alang-alang. Pernah suatu ketika atap alang-alang tersebut diganti dengan atap genteng oleh pengelola. Anehnya, keesokan hari setelah genteng selesai dipasang, semua genteng malah bertumpuk ke dasar tanah sekitar langgar.

“Pernah dikasi genteng tidak mau, keesokan harinya gentengnya turun. Alang-alang yang di bawah
kembali lagi ke atas,” ucapnya setengah heran.

Jurukunci Adi kemudian menuturkan bahwa di dalam langgar terdapat kitab yang terbuat dari batu, milik Ki Ageng Jakfar Shadiq.

Baca Juga: Bermimpi Habib Luthfi, Anggota Banser Madura Jalan Kaki ke Pekalongan

“Bukan kitab jadi batu. Itu kitab yang ada di langgar sini. Namanya kitab BAT, kitab dari batu. Orang Madura biasa menyebutnya dengan Kitab Bâtoh," papar dia.

Kitab ini biasanya dibuka mulai tanggal 2 Suro hingga harus ditutup kembali pada akhir Bulan Suro.

Sebelum mengakhiri keterangan, Adi Krisno mengutarakan, asta atau pesarean Ki Ageng Joko Tarup dan Ki Ageng Jakfar Shadiq dibangun murni oleh orang yang punya nazar ke tempat ini karena hajatnya terkabulkan.

“Ini pengelolaanya secara pribadi, tidak ada campur tangan dari pemerintah. Terjadinya seperti ini, karena orang-orang hatinya terketuk dan niatnya terkabul,” pungkasnya.

Salah seorang pengunjung asal Kabupaten Sumenep, Hamiyah, mengaku tertarik berziarah ke tempat ini karena, selain tempatnya rindang penuh pepohonan bambu, juga sebab keunikan cerita singkat tentang langgar dan kitab batu yang terdapat di area asta.

"Karena kekeramatan dan keunikan cerita sejarahnya kali ya, Mas. Di sini ada langgar yang konon bisa berpindah sendiri, terus juga penasaran sama  kitab yang terbuat dari batu itu," katanya. (rz/md/fd)

(*)

Baca Juga: Tanam 1000 Bibit Buah, Angkat Potensi Wisata Desa Bangkal