Pasang

Keris, Pusaka Madura Buah Mahakarya Anak Bangsa

  • Bagikan
TELITI: Tiga orang pengrajin keris di Desa Aeng Tongtong tengah memproses penciptaan keris (Dokumen Sinergi Madura)
TELITI: Tiga orang pengrajin keris di Desa Aeng Tongtong tengah memproses penciptaan keris (Dokumen Sinergi Madura)

BUDAYA, SINERGI MADURAKeris merupakan hasil karya seni yang memiliki nilai estetis tentang peradaban bangsa yang menggambarkan kehidupan masyarakat tempo dulu.

Pada zaman Pararaton, Keris juga merupakan buah karya seni yang membutuhkan tidak hanya keahlian fisik dalam pembuatannya, melainkan juga butuh do’a khusus dalam proses penciptaannya.

Pasang

Mala tak ayal jika bagi masyarakat Madura, khususnya masyarakat Kabupaten Sumenep, kepemilikan keris tertentu sekaligus menjadi simbol kelas sosial.

Konon, dalam membuat satu mahakarya pusaka berupa keris, para empu tidak hanya sekadar menciptakannya begitu saja. Bentuk lekukan dan dataran pada tubuh keris mengandung filosofi yang mendalam.

Baca Juga: Rokat Pandhaba, Ritual Mistik Masyarakat Madura

Betapa tulusnya para empu keris jaman itu untuk menghasilkan satu mahakarya luar biasa yang hingga sampai saat ini tetap terjaga, baik wujud fisik maupun kekuatan yang terkandung di dalamnya.

Dilansir dari berbagai sumber, tidak semua orang bisa menjadi empu keris. Proses penciptaan pusaka tertentu butuh waktu yang tak sebentar. Butuh kesabaran, keahlian khusus, doa khusus bahkan keilmuan hasil warisan para sepuh.

Menjadi empu keris dituntut mampu dan teliti dalam memilih bahan agar keris yang dihasilkan memiliki nilai karya luar biasa.

Dalam proses pembuatannya, para empu keris ini pun harus menjalani beberapa ritual sakral dan pemilihan waktunya pun harus tepat.

Baju yang dikenakan sang empu saat proses menciptakan keris pun tidak asal pakaian. Butuh ilmu khusus untuk mengetahui baju dan model seperti apa yang pas digunakan.

Semua itu menunjukkan bahwa penghargaan terhadap keris betul-betul tinggi, baik dari segi nilai seni, material, filosofi dan nilai mistik yang dikandungnya.

Itulah sebabnya kenapa keris bertuah memiliki nilai yang tak terhingga sampai saat ini. Satu buah karya bisa dibanderol dengan harga ratusan hingga miliaran rupiah.

Di lain sisi, pemesan dari sang pusaka ini juga berpengaruh terhadap kualitas sebuah keris.

Bila pemesanannya untuk dijual kembali dalam bentuk kodian, biasanya proses pembuatannya relatif cepat, sekitar tiga jam saja. Kualitas ini paling rendah.

Untuk keris pesanan pedagang, waktu pembuatan bisa hitungan minggu bahkan bulan. Pesanan yang dimaksud jika dilengkapi dengan gambar untuk ditiru bentuk dan motifnya.

Untuk pesanan kolektor, sangat jarang dan hanya empu tertentu saja yang dapat mengordernya.

Waktu pembuatannya pun tak sembarangan, biasanya kolektor menentukan hari dan jam berapa dimulai pembuatan, berdasarkan wangsit.

Sebelum keris mulai dicipta, biasanya terlebih dahulu sang empu mengadakan ritual upacara tumpengan, bahkan ada yang meminta si empu agar berpuasa selama pembuatan.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *