Kisah Anak Reggae yang Sukses Merintis Usaha Sablon di Ambunten

Kisah Anak Reggae yang Sukses Merintis Usaha Sablon di Ambunten
Moh. Ainul Yaqin Fauzi alias Bom Bom saat menunjukkan hasil karya sablonnya (Hayat - Sinergi Sumenep)

SUMENEP, SINERGI MADURA - "Hidup harus kreatif". Semboyan itulah yang menjadi pemantik semangat dan kerja keras Moh. Ainul Yaqin Fauzi (30), salah satu anak Reggae asal Ambunten, Sumenep, Jawa Timur yang kini sukses menjadi pengusaha sablon.

Bom Bom, panggilan Moh. Ainul Yaqin Fauzi, mengatakan, meraih kesuksesan tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh kesabaran dan pengorbanan untuk menjangkau impian, merintis usaha untuk menyambung hidup bersama keluarga.

"Kita jangan pernah berpikir bahwa hidup ini susah. Kita hanya butuh ada kemauan yang tinggi serta kerja keras dan harus kreatif agar berkembang," ujar Bom Bom, saat ditemui media ini di kediamannya, Desa Ambunten Timur, Selasa (22/12/2020).

Semangat itu ia pegang sejak dirinya duduk di bangku kelas XI SMU tahun 2009 lalu, yakni saat ia mulai mengidolakan musisi legendaris tanah air, Tony-Q Rastafara. "Sejak itu saya mulai menggemari genre musik Reggae," ucapnya.

Bom Bom mengaku cukup terpikat dengan pelantun lagu "Don't Worry" itu karena dalam setiap lagu yang dicipta menurutnya sangatlah kaya akan makna dan motivasi.

Tak jarang Bom Bom sering hadir langsung menyaksikan live konser musik dari pemilik nama asli Tony Waluyo Sukmoasih atau Tony-Q Rastafara. "Seperti pada konser musik Bali Reggae Star Festival (BRSF) di Pantai Mertasari, Sanur, Kota Denpasar, Bali pada tahun 2019 lalu itu saya hadir langsung ke sana," katanya.

Baca Juga: Pantai Badur Berpotensi Jadi Wisata Andalan di Sumenep

Dari sana, Bom Bom mengaku dapat kenalan seabrek teman plus pengalaman soal hidup terutama tentang kebersamaan, kesederhanaan dan saling menghargai atas sesama. "Arti dari sebuah persahabatan," imbuhnya.

Pria kelahiran Sumenep 20 Januari 1991 ini kemudian dengan tegas menepis anggapan miring tentang anak Reagge dimana sebagian masyarakat menilai bahwa anak Reggae hanyalah gelandangan dengan gaya atau penampilan yang urak-urakan.

Anggapan miring itu membuat dirinya tertantang untuk terus semakin giat berkreasi. "Ini dapat dibuktikan bahwa anak Reagge itu tidak seburuk yang sebagian masyarakat nilai. Ternyata teman-teman sesama anak Reggae juga banyak yang memiliki usaha sendiri seperti sablon kaos ini. Saya tertarik dan saya belajar," ujar putra dari pasangan Abd. Razak dan Siti Subaidah ini.


Bom Bom saat memproses penyablonan kaos di rumahnya, Desa Ambunten Timur (Hayat - Sinergi Sumenep)

Berbekal ilmu yang ia pelajari dari temannya di Surabaya, akhirnya ia mulai berpikir menata hidup lebih baik demi meraih asa dan cita-cita. Bom Bom mulai merintis usaha sejak tahun 2018 di rumahnya sendiri dengan modal sekitar Rp 200.000. "Hasil menabung," akunya.

Enam bulan pertama usaha Bom Bom berjalan di tempat dan sulit mendapat pelanggan. Dengan gigih dan sabar, usaha sablon ini tetap ia jalani sambil terus memasarkan hasil karyanya kepada teman terdekatnya. Dari situ kemudian ia mulai 'banjir' orderan (pesanan).

"Namanya juga usaha, pasti ada resiko dan tantangannya. Ya, tergantung kitalah yang harus menyikapinya seperti apa, dan solusinya saya kira hanya satu, jangan menyerah," ucap Bom Bom penuh semangat.

Pada awal tahun 2019, ia menikah dengan wanita pilihannya. Seiring dengan kehamilan istrinya yang saat ini menginjak sembilan bulan, berkat ketekunan menjalankan usaha sablon kaos yang dirintis mulai dari nol, ia kini mulai naik daun.

Pemesan kaos sablon datang dari berbagai kalangan, mulai dari komunitas ataupun perorangan. Pelanggan juga bisa membawa kaos sendiri dan desain sendiri sesuai selera. Dari usahanya itu, ia kini bisa meraup keuntungan jutaan rupiah dalam setiap bulan. "Harga bersaing dan hasil pasti memuaskan," ujarnya.

Penghasilan dari usaha sablon ini, sambung Bom Bom, sudah lumayan bisa untuk menyambung hidup. Bahkan ia bisa menabung meski tidak banyak.

"Ya, tetap kita syukuri berapapun hasilnya, meski tidak terlalu besar untuk mengurangi beban biaya persiapan persalinan istri yang diperkirakan sebentar lagi," pungkasnya penuh syukur. (yt/md/fd)


(*)