Pasang

Kisah Bindara Saod, Raja ke-29 yang Memimpin Kerajaan Sumenep Madura

  • Bagikan
Kisah Bindara Saod, Raja ke-29 yang Memimpin Kerajaan Sumenep Madura
Makam Bindara Saod di Asta Tinggi (Foto: Lontarmadura)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Tercatat dalam sejarah, Bindoro Saod merupakan Raja ke 29 yang memimpin kerajaan Sumenep sejak tahun 1750-1762 Masehi.

Bindara Saod adalah keturunan dari Pangeran Katandur, yang merupakan cucu dari Sunan Kudus.

Pasang

Diceritakan dari berbagai sumber, bahwa pada suatu malam, Raden Ayu Tirtonegoro satu-satunya pemimpin (kepala pemerintahan) wanita yang ke 30 di kerajaan Sumenep, bermimipi supaya menikah dengan Bindara Saod.

Lalu sang ratu menyuruh menterinya untuk memberi tahu Bindara Saod supaya menghadap ke keraton. Setelah Bindara Saod diberitahu atas mimpinya tersebut, terjadilah kesepakatan keduanya untuk kawin. Sehingga, Bindara Saod menjadi suami ratu dengan gelar Tumenggung Tirtonegoro.

Setelah keduanya resmi menikah, terjadi peristiwa tragis dalam pemerintahan Ratu Tirtonegoro. Yaitu, Raden Purwonegoro Patih Kerajaan Sumenep yang dulu mencintai Ratu Tirtonegoro, sangat membenci Bindara Saod, ia memiliki niat jahat untuk membunuhnya.

Baca Juga: Kisah Kesaktian Pangeran Jokotole, Raja Ke-13 Sumenep Madura

Raden Purwonegoro datang ke keraton lalu mengayunkan pedang ke hadapan Bindara Saod, sayangnya tidak mengenai sasaran dan pedang tertancap sangat dalam ke tiang pendopo. Nahas, Raden Purwonegoro tewas di tangan Manteri Sawunggaling dan Kiai Sanggatarona.

Diketahui, Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro sama-sama keturunan Tumenggung Yudonegoro Raja Sumenep ke-23. Akibat kejadian tersebut keluarga kerajaan Sumenep menjadi dua golongan.

Golongan yang berpihak pada Ratu Tirtonegoro diperbolehkan tetap tinggal di Sumenep dan diwajibkan merubah gelarnya dengan sebutan kiai, serta berjanji untuk tidak akan menentang Bindara Saod sampai tujuh turunan.

Sedang golongan yang tidak setuju pada ketentuan tersebut dianjurkan meninggalkan kerajaan Sumenep, dan kembali ke daerah masing-masing Madura timur dan barat, yaitu Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

(*)

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *