Pasang

Kisah di Balik Indahnya Pantai Bangsring Banyuwangi, Bermula dari Tukang Bom Ikan yang Tobat

  • Bagikan
Pantai Bangsring
Syamsul Arifin mantan nelayan di Pantai Bangsring (Foto: Dokumen Sinergi Madura)

NASIONAL, SINERGI MADURA – Pantai Bangsring Underwater merupakan satu dari sekian banyak destinasi wisata yang ada di Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.

Pantai ini lokasinya berada di Desa Bangsring, Kecamatan Wongsorejo, kabupaten setempat berjarak sekitar 20 km dari pusat Kota Banyuwangi.

Pasang

Di tempat itu, banyak pohon cemara berjejer sehingga membuat suasana di areal pantai menjadi adem dan sejuk. Wajar bila ingin tinggal berlama-lama di sana.

Keindahan lain di pantai itu ialah pasirnya yang hitam dan tetap terjaga kebersihannya. Hampir di setiap sudut areal pantai terdapat tempat sampah.

Ketika Anda berlibur ke Pantai Bangsring, jangan sampai membuang sampah sembarangan jika tidak ingin ditegur oleh petugas.

Di balik keindahan Pantai Bangsring, ternyata ada kisah unik dan menarik sebelum akhirnya menjadi terkenal seperti saat ini.

Dulunya, pantai tersebut merupakan pantai yang gersang dan tak ada pepohonan sama sekali sehingga mengakibatkan sering terjadi abrasi pantai.

Selain itu, masyarakat di sekitar pantai tersebut mayoritas berprofesi sebagai nelayan. Mereka seringkali menggunakan bom ikan untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan yang banyak.

Tindakan mereka itu tentu merusak terhadap ekosistem bawah laut di pantai tersebut seperti halnya terumbu karang banyak yang rusak akibat bom ikan.

Salah satu nelayan setempat sekaligus mantan pelaku bom ikan, Syamsul Arifin mengatakan bahwa dirinya belajar membuat bom ikan mulai tahun tahu 1988 ketika ia masih berusia tujuh tahun.

“Dulu sembilan puluh persen masyarakat di sini adalah nelayan pengebom ikan dan saya sendiri belajar membuat bom ikan mulai umur tujuh tahun,” ucap Pak Ipin sapaan akrab Syamsul Arifin, Senin (1/11/2021).

Syamsul Arifin menambahkan, selain pengebom ikan, para nelayan di tempat itu juga sering mengambil terumbu karang untuk dibakar kemudian dijadikan kapur.

“Dulu saya dan para nelayan lainnya di sini selain pengebom ikan, juga ngambil karang dibakar dan dibikin kapur,” ujarnya.

Seiring perjalanan waktu, akibat ulah dari para nelayan tersebut, kerusakan di dasar laut Pantai Bangsring semakin hari bertambah parah sehingga membuat jumlah ikan terus berkurang.

Baca Juga: Mengenal Kehidupan Masyarakat Nelayan di Pulau Santen Banyuwangi

Akhirnya, muncul salah seorang ketua kelompok nelayan di tempat itu yang mulai sadar tentang kerusakan di dasar laut semakin parah.

Lalu kemudian mengajak para nelayan lain untuk melakukan upaya perbaikan atas kerusakan tersebut.

“Namanya Pak H. Ihwan ketua kelompok nelayan Samudera Bakti mengajak dan mengajari para nelayan lain bagaimana cara menanam karang dan merawat karang,” ucapnya.

Upaya untuk memperbaiki kembali ekosistem bawah laut yang sudah rusak, lanjut Syamsul Arifin, tentu tidaklah mudah bagaimana kemudian para nelayan bisa sadar tentang kerusakan yang terjadi.

“Banyak yang menentang upaya Pak H. Ihwan itu. Para pengebom ikan banyak yang tidak setuju karena ngebom ikan adalah satu-satunya mata pencaharian masyarakat di sini pada waktu itu,” bebernya.

Lambat laun akhirnya banyak dari para nelayan pengebom ikan sadar bahwa tindakannya selama ini adalah perbuatan salah dan bisa berakibat kurang baik terhadap masa depan anak cucu mereka.

“Pada tahun 2012 banyak masyarakat dari para kelompok nelayan yang ikut dan berhenti melakukan pengeboman ikan dan pengambilan karang,” imbuhnya.

Akhirnya para nelayan mulai memperbaiki terumbu karang dengan cara membuat terumbu karang buatan untuk apartemen ikan dan juga transplantasi terumbu karang.

Hingga akhirnya, usaha mereka membuahkan hasil dan dapat dinikmati oleh para wisatawan hingga saat ini.

“Alhamdulillah tempat ini sekarang sudah menjadi bagus dan bersih dan banyak wisatawan yang datang ke sini bahkan dari luar negeri juga banyak,” ucapnya.

Hasil dari usaha para nelayan untuk memperbaiki terumbu karang yang sudah rusak hingga akhirnya Pantai Bangsring menjadi objek destinasi wisata akhirnya bisa dinikmati oleh warga sekitar untuk berjualan di tempat tersebut.

Salah satu penjual pakaian renang di Pantai Bangsring, Edi Susianto mengaku sangat bersyukur dengan adanya pantai Bangsring yang kini sudah menjadi tempat wisata.

“Alhamdulillah kami jadi bisa berjualan di sini bersama para pedagang yang lain,” akunya.

Edi mengaku, sebelum musim pandemi COVID-19 dalam sehari ia bisa mendapatkan penghasilan hingga ratusan ribu.

“Saat musim corona pendapatan sangat merosot karena jarang ada pengunjung yang datang, ” imbuhnya.

Menariknya lagi, seseorang yang hanya diperbolehkan jualan di tempat tersebut harus dari anggota atau keluarga kelompok para nelayan.

“Tempat wisata ini yang merintas kan anggota kelompok nelayan, jadi orang di luar kelompok nelayan tidak boleh jualan di sini,” jelasnya.

“Syarat lain untuk bisa jualan di sini harus jualannya itu tidak sama dengan apa yang di jual oleh para penjual lain,” tandasnya.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *