Pasang

Kisah Penemuan Asta Yusuf Talango Madura yang Tak Pernah Sepi Peziarah

  • Bagikan
Kisah-Penemuan-Asta-Yusuf-Talango-Madura-yang-Tak-Pernah-Sepi-Peziarah
Asta Sayyid Suyud Talango, Sumenep, Madura (SC.YT/Gado gado markesot)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Pulau Talango, di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur menjadi magnet para wisatawan dari berbagai daerah di Indonesia dan juga manca negara.

Setiap hari banyak peziarah mendatangi pulau ini lantaran terfapat makam atau asta keramat yang terletak di Desa Padike.

Pasang

Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah Al-Hasani, itulah nama makam keramat yang terletak di tengah laut pulau Talango. Makam waliyullah ini ramai oleh peziarah dari berbagai kalangan.

Jika hendak menuju ke makbarah Sayyid Yusuf, akan menyeberangi lautan dengan menggunakan perahu dari pelabuhan Kalianget. Letaknya berjarak 11 kilo meter dari Kota Sumenep menuju pulau Talango.

Dikutip dari sejumlah sumber, kisah penemuan asta Sayyid Yusuf, berawal dari Raja Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat yang sedang melakukan perjalanan bersama para prajuritnya menuju pulau Dewata Bali untuk menyebarkan agama Islam.

Dalam hitungan sejarah waktu itu sekitar 230 tahun silam, tepatnya tahun 1212 H atau 1791 M.

Setelah perjalanan pulang, Raja Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat bersama rombongan berlabuh di Pelabuhan Kalianget bermaksud hendak beristirahat akibat kelelahan.

Saat beristirahat, Sang Raja tidak sengaja menemukan Makam Kuno (Pasarean) yang tidak terawat dan tidak ada penjelasan pasti.

Baca Juga: 6 Makam Keramat di Madura yang Banyak Didatangi Peziarah

Kemudian, karena penasaran Raja Sumenep ini berdoa kepada Allah SWT untuk diberikan petunjuk. Lalu muncullah cahaya yang terang luar biasa dari ilalang sampai ke langit, beliau kemudian mendatangi sumber cahaya tersebut.

Di tempat yang mengeluarkan cahaya tersebut terdapat daun sukun yang bertulis Sayyid Yusuf bin Ali bin Abdullah Al-Hasani. Sehingga pada saat itu juga Raja Sri Sultan menuliskan nama pada batu nisan itu sesuai dengan tulisan pada daun sukun tersebut.

Anehnya, di sekitar daerah tersebut tidak ditemukan atau ditumbuhi pohon sukun, hingga saat ini tidak ada pohon tersebut. Namun bisa terdapat daun sukun yang bertuliskan nama seorang wali, yang dikenal Sayyid Yusuf.

Dalam keterangan lain juga disebutkan, selain di Kecamatan Talango, Sumenep, Madura, makam Sayyid Yusuf juga terdapat di wilayah berbeda, bahkan ada yang terletak di benua Afrika. Antara lain terdapat di Banten, Caylon di Srilanka dan Kampung Macasar di Afrika Selatan.

Di dekat makam tersebut juga terdapat sebuah pohon besar nan rindang, menurut sejarah merupakan tongkat Raja Sri Sultan Abdurrahman Pakunataningrat yang ditancapkan di sana untuk memberi tanda.

Namun, juga ada kisah unik dari pohon besar yang menjadi tempat bernaung para peziarah ini, yaitu dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tanda akan datangnya musim kemarau atau penghujan.

Yakni, saat akan datang musim kemarau, pohon tersebut biasanya kering seperti pohon mati. Kemudian, pada saat akan datang musim penghujan, akan mengeluarkan bunga merah yang cantik, berubah menjadi randu lalu muncul daun yang bersemi.

Tidak hanya menancapkan tongkat hingga tumbuh menjadi pohon, raja juga memberi cungkup atau pendopo kecil pada makam Sayyid Yusuf.

Namun, keanehan terjadi, makam Sayyid Yusuf pindah tempat dengan sendirinya ke sebelah timur yang ditafsirkan bahwa makan wali tersebut tidak menghendaki adanya cungkup.

Selanjutnya, Raja Sri Sultan membangun masjid, yang saat ini dikenal dengan nama masjid Jami’ Talango. Masjid ini pada masa itu oleh raja dijadikan pusat pengembangan agama Islam.

Selain itu, Raja Sri Sultan juga membuat sumur sebagai tempat berwudhu, namun saat ini mulut sumur tersebut sudah rata dengan semen cor karena dijadikan jalan. Tapi airnya hingga sekarang masih dikonsumsi.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *