Kisah Sukses Karikaturis Asal Dungkek, Raup Keuntungan Puluhan Juta Rupiah

Kisah Sukses Karikaturis Asal Dungkek, Raup Keuntungan Puluhan Juta Rupiah
MENJANJIKAN: Bisnis karikatur menjadi bisnis menggiurkan di tengah pandemi (Ubay Shabaro- Sinergi Sumenep)

SUMENEP, SINERGI MADURA -  “Masa depanmu diciptakan oleh apa yang kau kerjakan hari ini, bukan apa yang kau lakukan esok hari.” peribahasa Robert Kiyosaki ini mungkin cocok disematkan pada Karikaturis asal Dungkek, Febri Ach Faraid.

Seniman kelahiran Sumenep 18 Februari 1997 ini mulai menekuni seni karikatur sejak duduk di bangku sekolah menengah atas. Kecintaannya akan seni yang ditemukan pertama kali oleh Annibale Carracci ini menjadi spirit tersendiri bagi Febri.

Semula ia tidak pernah berpikir bahwa seni yang banyak ditemukan pada zaman Mesir kuno ini akan mengalirkan pundi-pundi rupiah baginya. Yang iya pegang menjadi keyakinan adalah 'saya harus bisa menjadi karikaturis handal'.

Mengawali hidup sebagai pria yang mencintai seni karikatur bukanlah perkara mudah. Sebab di Sumenep tahun 2013 silam belum ada orang yang konsen bergiat di seni yang dipopulerkan Leonardo Da Vinci pada abad Renaisans di Italia.

Keterbatasan leader dan pendamping atau guru menjadi problema berkepanjangan bagi Febri untuk mengetahui dasar-dasar belajar seni karikatur. Sehingga tekad bulat yang ia pegang awalnya nyaris terlepas dari genggaman tangan pria yang beralamat di Desa Romben Guna ini.

Lambat laun pria terkasih Ika Febiyanti ini terus menggali hal-hal penting seputar kesenian karikatur. Ia tahu menjadi karikaturis ternama dan dikenal banyak orang tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Baca Juga: Kisah Anak Reggae yang Sukses Merintis Usaha Sablon di Ambunten

Lulus dari sekolah menengah atas masih belum bisa membuat Febri menjadi seniman yang ia dambakan. Namun cita-citanya tetap ia pegang sepanjang perjalanan di lorong-lorong gelap yang dipenuhi kesunyian.

Waktu terus berlalu, cita-cita yang tetap menggantung di dalam kepalanya tetaplah menjadi karikaturis handal. Pasca lulus dari sekolah menengah meskipun belum menjadi seniman, pendidikan harus terus berkembang.

Putra dari pasangan Haryono dan Jumaidah ini memutuskan untuk menempuh pendidikan di salah satu kampus ternama, yang terletak di jalan raya Sumenep Pamekasan Batuan Sumenep, yakni Universitas Wiraraja mengambil jurusan akuntansi.

Duduk di bangku kuliah harus beradaptasi dengan keadaan dan lingkungan. Sebab kehidupan kampus sangat jauh berbeda dengan masa sekolah menengah atas. Di sini, Febri hanya bisa merenungi cita-cita dan keinginannya yang belum bisa diwujudkan.

"Untuk mewujudkan keinginan yang sudah lama terpendam, aku harus kembali memulai. Aku yakin semua kesuksesan harus diawali dengan memulai," gumamnya lirih, sambil memandangi hiruk pikuk kehidupan barunya di kampusnya kala itu.

Semester satu, waktu yang Febri punya dihabiskan untuk belajar karikatur. Belajar otodidak. Kesulitan belajar dan menekuni seni karikatur dirasa memang sangat sulit. Sehingga Febri harus belajar mengelus dadanya, menyabarkan detak jantung dan pikirannya yang terkadang tidak teratur akibat hasil skatenya gagal total.

Selain disibukkan dengan tugas kuliah, semester satu yang biasanya ditempuh selama enam bulan terasa setahun lamanya. Kesibukan itu menjadi tambahan dan tantangan baru untuk menguji ketekunan Febri belajar karikatur.

Baca Juga: MILHAN: PAHIT KOPI DAN SELAKSA WAKTU

Meskipun terasa berat, Febri tetap bertekad untuk bisa melewati semua itu dengan tabah dan penuh kesabaran. Sebab keyakinan yang tertanam dalam hatinya hanya satu, 'kesuksesan tidak bisa diraih dengan instan, semuanya harus melalui proses panjang'.

Menjajaki semester awal, pria berbibir tipis, berambut ikal ini masih fokus dengan kesibukannya belajar karikatur secara otodidak. Lambat laun proses skatenya menunjukkan perkembangan, meskipun belum signifikan.

Aplikasi Photoshop setiap malamnya tak henti-hentinya ia pandangi, cursor dalam layar laptopnya menandakan bahwa Febri sedang sibuk menskate gambar. Di sampingnya adonan kopi dan sebungkus rokok menjadi teman setia dalam proses panjangnya.

Tak jarang, matahari menyapa pagi harinya dan juga sebagai tanda bahwa sepasang mata elangnya belum merasakan istirahat semalaman. Untuk menghargai waktu, setelah menunaikan kewajiban, Febri baru membaringkan lelahnya.

Pekerjaan yang melelahkan itu, ia tekuni terus menerus. Letih bukanlah hal serius untuk menghentikan keinginannya yang sudah bulat. Badan kurus bukanlah kurang makan, melainkan akibat terlalu istiqamah begadang di depan layar laptop.

Satu semester masih belum bisa menjadikan Febri seperti apa yang ia dambakan, hasil karyanya belum bisa dikatakan layak konsumsi. Namun hal ini bukan ia jadikan sebagai aral dan penghalang untuk menghentikan proses kreatifnya.

Pria kurus itu terus bergulat dengan kesendiriannya, kesendirian yang dimanfaatkan untuk terus belajar Karikatur. Meskipun hasilnya masih tetap saja kurang memuaskan. Memang sulit belajar sesuatu hal tanpa ada yang membimbing.

Waktu terus berlalu, hitungan jam, hari dan bulan hingga tahun adalah ritme romantis bagi proses kreatif pria yang familiar dipanggil Febri itu. Sebab kopi dan puntung rokok yang tak beraturan dalam asbak adalah bukti sejarah anak manusia yang belajar bangkit dari keterbatasan dan ketidakmungkinan.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Toron Tana di Pasongsongan, Rentetan Prosesi dan Filosofinya

"Semua hal bisa diraih dengan me-Nuhankan keyakinan, me-Nabikan keinginan dan memanusiakan proses panjang diiringi tasbih kesabaran dan ketabahan," ucapnya lirih, suaranya terbata-bata, ketekunannya benar-benar diuji kali ini.

Hujan turun membasahi jalan kota, gang dan jalan buntu. Kota Keris benar-benar basah kuyup malam itu. Sedangkan almanak tanggal masih termenung menyaksikan pria 24 tahun yang terlihat sibuk mengotak-atik beranda aplikasi yang dicetuskan Thomas Knoll di negeri Paman Sam pada tahun 1987.

Rentang waktu selama tiga tahun menekuni seni karikatur membuahkan hasil manis, semanis romansa percintaannya dengan si doi. Iya, memasuki semester tujuh, detak jantung karikaturis ternama di kampusnya ini mempunyai gerak tidak biasa.

Tidak beraturan, kadang lambat, kencang dan begitu seterusnya. Begitulah tuhan memberikan nikmat cinta pada hambanya. Pertama, ia tidak sengaja menatap mata seorang gadis yang kemudian menenggelamkannya pada danau paling dalam, pada lubuk paling palung yang kemudian mencipta getaran, sir. Berkali-kali. Berulang kali.

Febri secara tiba-tiba seakan berkamuflase dari seniman karikatur menjadi penyair melankolis yang syairnya menelusup ke relung-relung jiwa. Tuhan, siapa yang mampu menghindar dari nikmat terbesar yang diberikan-Mu?

Ika Febiyanti menjadi sekelumit nama yang mempunyai arti panjang dan luas. Baginya perempuan kurus langsing nan tinggi semampai ini adalah satu pilihan dari ribuan jawaban yang mendebarkan.

Kepadanya segala peluk kecup tasbih seorang seniman akan berlabuh, menjadi penghujung dari segala akhir pelabuhan yang berselirak senja. Kepadanyalah segala 'Tanduk Majeng' karikatur sampan-sampan diciptakan dan dihaturkan; kepadamu, perempuan yang memilin cinta kasih dan rinduku.

Persoalan asmara lantas tidak menjadikan Febri putus semangat untuk terus mengasah bakatnya di bidang seni karikatur. Ia terus menjelajah malam demi malam untuk menemukan formula terbaik dari hasil karya.

Hingga akhirnya, pepatah tidak pernah salah. Proses tidak akan pernah menghianati hasil. Menginjak semester VII, karya Febri mendapatkan tempat di setiap penikmat seni karikatur di Sumenep. Kemahirannya dalam membuat karikatur akhirnya membuahkan hasil. Banyak orang Sumenep yang ingin marriage, perayaan wisuda dan tak jarang pesanan datang dari sepasang kekasih yang ingin merayakan hari romantisnya.

Penikmat karya Febri tidak hanya dari masyarakat lokal saja. Tapi juga dari luar Madura, tepatnya daerah Jember, Situbondo, dan Probolinggo. Selain itu, dari kalangan politisi, polisi hingga karyawan bank juga terpikat dengan karya dari si tangan dingin asal Dungkek ini.

Selain aktif menjadi seniman karikatur, Febri juga mengelola akun Instagram @Karikaturhits_Sumenep yang menjadi web pemasaran Alumnus UNIJA tahun 2018. Saat ini, ia juga tercatat sebagai karyawan tetap di perusahaan PT Sinergi Mediatama Nusantara. (us/an/fd)


(*)