Pasang

Legenda Air Terjun Toroan di Sampang Madura

  • Bagikan
Suasana di wisata Air Terjun Toroan Sampang Madura (Foto: IG @senursenja)
Suasana di wisata Air Terjun Toroan Sampang Madura (Foto: IG @senursenja)

WISATA, SINERGI MADURA – Setiap tempat pada umumnya memiliki sejarah atau legenda unik yang menarik untuk disimak.

Seperti halnya Air Terjun Toroan di Sampang, Madura. Wisata alam eksotis ini mempunyai kisah legenda yang belum banyak diketahui orang.

Pasang

Penamaan destinasi alam Air Terjun Toroan itu sejatinya berasa dari sebuah kisah legenda yang berkembang di tengah masyarakat sekitarnya.

Lama berkembang luas, legenda itu pun menjadi cikal-bakal terkenalnya Air Torjun yang hingga kini terus tertutur sebagai sejarah lisan di kalangan masyarakat Madura.

Legenda itu pula yang kemudian menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan, baik lokal maupun interlokal, untuk berkunjung ke tempat ini.

Baca Juga: Yuk, Intip Keunikan Wisata Air Terjun Toroan di Sampang Madura

Legenda itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang hidup bahagia dan rukun menjalani rumah tangga. Namun, suatu ketika muncul perselisihan antar keduanya.

Sepasang kekasih itu bernama Siti Fatimah dan Sayyid Abdurrahman atau Birenggono. Perselisihan keduanya bermula saat mereka saling curiga bahwa ada perselingkuhan di antara mereka.

Untuk meyakinkan bahwa dirinya tidak menjalin kasih dengan laki-laki lain, Siti Fatimah akhirnya bersumpah jika ketemu ajal nanti maka kuburannya akan dihanyut oleh air sungai.

Mereka memang tinggal di dekat sungai yang saat ini menjadi air terjun ini.

Begitupun sebaliknya, untuk membuktikan sangkaan sang istri bahwa dirinya tidak selingkuh dengan wanita lain, Sayyid Abdurrahman juga bersumpah di hadapan Siti Fatimah.

Sang suami bersumpah jika dirinya nanti sudah meninggal dan terbukti tidak bersalah, maka kuburannya mudah digali.

Saat akhirnya keduanya sudah sama-sama meninggal, terbukti pasangan suami itu tidak bersalah.

Masyarakat sekitar saat ini meyakini Air Terjun Toroan adalah tempat keramat karena di tengah air terjun dengan ketinggian 20 meter terdapat makam Siti Fatimah.

Saat ini masyarakat menamakan makam Siti Fatimah dengan sebutan “Asta Buju’ Penyeppen”. Sementara makam Sayyid Abdurrahman atau Birenggono dijuluki “Asta Kam Tenggi”, yang artinya makam di tempat yang tinggi.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *