Pasang

Legenda Bindara Saod dan Ratu Perempuan Pertama di Kerajaan Sumenep Madura

  • Bagikan
Legenda Bindara Saod dan Ratu Perempuan Pertama di Kerajaan Sumenep Madura
Prasasti Bindara Saod di Asta Tinggi Sumenep (Foto: Lontar Madura)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Muhammad Saod atau yang dikenal Bindara Saod adalah seorang kiai kelahiran Batu Ampar Sumenep. Nama putra dari pasangan Kiai Abdullah dengan Nyai Nurimah ini melegenda, terutama di Madura.

Konon, sewaktu masih berumur enam tahun, Bindara Saod dimondokkan ke pesantren milik saudara ibunya, yaitu Kiai Hafakih, di Lembung Barat, Lenteng. Namun setelah sang kiai wafat, Bindara Saod menggantikannya.

Pasang

Sejak jadi santri di Lembung, Lenteng, sudah ada tanda-tanda, bahwa Bindara Saod kelak akan menjadi orang besar. Dia mempunyai beberapa keistimewaan dan kelebihan di antara para santri yang lain.

Pemahaman ilmu agama Bindara Saod sangat menonjol dibandingkan dengan beberapa temannya yang ada di pondok tersebut.

Salah satu contoh, yakni ketika gurunya bangun untuk salat tahajjud, di bilik-bilik santri-santri tersebut terdapat seberkas cahaya. Saat dilihat cahaya itu, ternyata bersumber dari Bindara Saod.

Bahkan disebutkan juga yang bersumber dari cerita lisan, nama Bindara Saod diambil dari salah satu kelebihannya saat berada dalam kandungan.

Dulu, sejak di dalam kandungan, Bindara Saod bisa menyahut dalam panggilan, sehingga dinamai Muhammad Saod, berasal dari bahasa Arab, Shaotun yang artinya suara. Sedangkan dalam bahasa Madura, saod memiliki arti merespon suara.

Baca Juga: Kisah Penemuan Asta Yusuf Talango Madura yang Tak Pernah Sepi Peziarah

Kiai Saod hanya seorang kiai biasa yang tidak banyak dikenal oleh keluarga keraton waktu itu. Namun, garis takdir menghampirinya.

Seorang ratu Sumenep yang berkuasa saat itu terpikat terhadap kiai Saod. Sedangkan Bindara Saod sendiri sudah memiliki istri Nyai Izzah dan mempunyai dua anak, yaitu Bahaudin dan Asiruddin.

Ratu Sumenep itu adalah Raden Ayu Tirtonegoro, ia merupakan satu-satunya pemimpin wanita dalam sejarah kerajaan Sumenep sebagai kepala pemerintahan yang ke 30. Raden Ayu belum memiliki pasangan (suami).

Menurut hikayat, RA Tirtonegoro pada suatu malam bermimpi supaya ratu kawin dengan Kiai Saod. Setelah Bindara Saod dipanggil, diceritakan lah mimpi itu. Sehingga sepakat untuk melaksanakan perkawinan.

Setelah resmi jadi suami sang ratu, Bindara Saod memiliki gelar Tumenggung Tirtonegoro.

Tak berselang lama, peristiwa tragis menimpa pemerintahan Ratu Tirtonegoro. Lantaran, Raden Purwonegoro Patih Kerajaan Sumenep waktu mencintai sang Ratu, sangat membenci Bindara Saod, bahkan memiliki rencana membunuhnya.

Raden Purwonegoro datang ke keraton lalu mengayunkan pedang, namun tidak mengenai sasaran dan pedang tertancap ke tiang pendopo sangat dalam. Nahas, Raden Purwonegoro tewas di tangan Manteri Sawunggaling dan Kiai Sanggatarona.

Kondisi kerajaan saat itu sengkarut, karena Ratu Tirtonegoro dan Purwonegoro sama-sama merupakan keturunan Tumenggung Yudonegoro Raja Sumenep ke-23.

Akibat kejadian tersebut, keluarga kerajaan Sumenep pecah menjadi dua golongan, yakni yang berpihak pada Ratu Tirtonegoro diperbolehkan tetap tinggal di Sumenep dan wajib mengubah gelarnya dengan sebutan kiai serta berjanji untuk tidak akan menentang Bindara Saod sampai tujuh turunan.

Sedangkan golongan yang tidak setuju pada ketentuan tersebut, dianjurkan meninggalkan kerajaan Sumenep dan kembali ke wilayah Madura timur dan barat, yaitu Pamekasan, Sampang dan Bangkalan.

Baca Juga: 6 Makam Keramat di Madura yang Banyak Didatangi Peziarah

Bindara Saod dan Ratu Tirtonegoro meninggal hampir bersamaan, jaraknya hanya berselang 8 hari, setelah Tumenggung meninggal kemudian disusul sang Ratu pada tahu 1762.

Berdasarkan wasiat sang ratu, yang menggantikan kerajaan Sumenep adalah Somala, atau yang dikenal Panembahan Somala dengan gelar Panembahan Notokusumo I. Ia merupakan putra kedua Bindara Saod dari istri pertamanya Nyai Izzah di Batu Ampar.

Beberapa peristiwa penting pada zaman pemerintahan Somala antara lain menyerang Negeri Blambangan dan berhasil menang, sehingga Blambangan dan Panarukan menjadi wilayah kekuasaan Panembangan Notokusumo I.

Selanjutnya ia membangun keraton Sumenep yang sekarang berfungsi sebagai Pendopo Kabupaten. Somala juga membangun Masjid Jamik pada tahun 1763, dan Asta Tinggi, Sumenep.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *