Pasang

Lirik Eduwisata Mangrove di Lembung Pamekasan, Sering Jadi Objek Penelitian

  • Bagikan
BERMASKER: Slaman, saat memperlihatkan budidaya mangrove (Ainur Rizky - Sinergi Pamekasan)

PAMEKASANSINERGI MADURA – Alam sekitar seharusnya menjadi motivasi bersama terutama bagi warga di kawasan pesisir pantai. Ini yang nampak nyata terlihat di kawasan Eduwisata Mangrove Lembung, Kecamatan Galis, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Adalah sosok Slaman, warga Lembung ini mengaku mulai merintis pelestarian mangrove dengan swadaya seadanya. Pria paruh baya ini sudah berkecimpung dalam dunia eduwisata sejak tahun 1986 atau lebih tepatnya saat duduk di bangku SMP kelas VIII.

Pasang

Baginya, dalam melakukan pelestarian dan pembudidayaan mangrove sangatlah penuh dengan dinamika. Mulai dari anggapan orang yang menilai sia-sia apa yang dilakukannya hingga banyak hambatan dari faktor alam yang datang tiba-tiba dan faktor manusia yang kadangkala usil merusak tatanan ekosistem mangrove.

“Kegiatan yang selalu diagendakan oleh kami dari dulu antaranya pembibitan, penanaman, penyulaman dan  pengawasan,” ujar Slaman pada media ini, Selasa (7/9/2021).

Buah manis akan terasa setelah perjuangan. Daerahnya kini telah didapuk jadi kawasan eduwisata dan sering menjadi rujukan penelitian dan observasi. Bahkan juga sempat didatangi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi ternama di Indonesia.

“Terkadang juga ada kegiatan bersih-bersih kawasan mangrove bersama para pelajar dan pecinta alam se-Kabupaten Pamekasan,” akunya.

Tak hanya melestarikan mangrove saja, rupanya Slaman juga menebarkan manfaat tumbuhan pesisir itu menjadi berbagai olahan. Ini ia lakukan sejak tahun 2010 lalu, yakni
pertama kali dengan meracik menjadi kopi mangrove dan teh mangrove yang punya khasiat baik untuk tubuh.

Berjalan pesat, kemudian merambah pada budidaya lebah mangrove dan pembuatan roti mangrove. Terbaru, sedang masuk tahap perancangan untuk menguatkan kerajinan batik mangrove khas Bumi Gerbang Salam.

“Alhamdulillah untuk pemasaran bukan hanya lokal saja, melainkan sudah ke beberapa kota di Pulau Jawa yakni Malang, Kediri, Jombang, Jogja, Madiun, Banten dan Jember,” sebutnya.

Bahkan, lanjut Slaman, di era digitalisasi pemasaran yang dipakai sudah mulai merambah ke berbagai daerah di luar Indonesia. Sebab sudah terintegrasi dengan online seperti Bukalapak dan Shopee, sehingga bisa menjangkau mancanegara seperti Oisca Jepang.

Tak ayal jika dari berbagai jerih payah dan ketekunan karyanya ini, sederet prestasi pun pernah diraihnya. Mulai dari 2010 dengan Anugerah Tokoh Lingkungan Hidup, Penyelamat Lingkungan dan Perintis Lingkungan.

“Bahkan juga diberi gelar sebagai Pemerhati Lingkungan melalui piagam penghagaan dari Pemkab Pamekasan,” ujarnya.

Tak hanya itu, di tingkat provinsi, Slaman juga dianugerahi Juara II Kategori Perintis Lingkungan Hidup Kehutanan melalui Kelompok Tani Hutan (KTH) Sabuk Hijau Lembung yang merupakan besutannya sendiri.

“Nah, tahun 2008 meraih Tingkat Nasional, juara satu Adi Bhakti Mina Bahari (AMB,red) dari Kementrian Kelautan dan Perikanan RI tahun 2013, kategori pemanfaatan pesisir dan pulau kecil, lewat ide kreatif kopi mangrove,” kata pria energik ini.

Alhasil, dari segudang prestasi itu, dicapailah sertifikat pengakuan dari Pemerintah Jepang melalui OISCA. Dalam ajang dan keikutsertakan penyelamatan pesisir melalui penghijauan yang sudah berpuluh-puluh tahun digelutinya. (adv)


(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *