Pasang

Marwah DPRD Sumenep Jarang Diurus (?)

  • Bagikan
Marwah DPRD Sumenep Jarang Diurus (?)
Foto: Istimewa

Jauh sebelum catatan ini dibuat, saya pernah membuat catatan lain dengan judul begini: Lemotnya DPRD Sumenep (?)

Catatan itu sengaja saya akhiri dengan tanda tanya. Pertama untuk membuka ruang diskusi. Bisa saja catatan itu keliru. Kedua, untuk jaga-jaga, khawatir disomasi.

Pasang

Namun, catatan itu tidak rampung. Sebab terlalu sering saya menghadapi pernyataan-pernyataan yang, maaf, absurd dari DPRD. Saya merasa sudah kenyang dengan segala silat lidah disana. Yang terakhir dari unsur pimpinan.

Ceritanya begini. Saat itu, saya bersama tiga kawan lain datang bertamu. Salah seorang unsur pimpinan, menerima kami di sela rapat di ruangannya. Ketika itu, kami ingin tahu, bagaimana sikap DPRD, secara kelembagaan, menyikapi dugaan adanya video mesum salah satu anggotanya?

Mendapat pertanyaan itu, sang unsur pimpinan ini menjawab: ada videonya, mana? Kami bilang tidak ada. Lalu dia menjelaskan secara panjang lebar, begini: katanya videonya viral, viral dimana? Siapa yang memviralkan? Sampai saat ini BK juga tidak ada lapor apapun? Terus apa yang harus kami sikapi?

Secara panjang lebar juga kami jelaskan. Kira-kira begini: dugaan adanya video itu kan dari berita online. Agar tidak jadi fitnah, semestinya kan DPRD tabayyun dengan wartawannya, dengan medianya.

Jika si wartawan, lanjut kami, enggan untuk menyebutkan sumber beritanya, paling tidak kan DPRD bisa meminta bukti, atas dasar apa berita itu dibuat?

Unsur pimpinan itu ngotot. Jawaban yang dia lontarkan kurang lebih sama. Videonya tidak ada. Wartawannya yang menulis tidak ketemu. Medianya juga entah dimana.

Mendengar beberapa pernyataan terakhir, saya susulkan satu pertanyaan: sampai sekarang media dan wartawannya belum diketahui? Dengan enteng unsur pimpinan itu menjawab: belum.

Bahkan, dengan nada gontai, unsur pimpinan itu menanyakan langsung pada Humas DPRD yang juga ada di ruangan itu. Jawaban humas kurang lebih sama: yang nulis tidak tahu siapa, medianya juga tidak tahu dimana(?) Kalau tidak keliru, humas juga menyinggung bahwa media yang membuat heboh itu tidak tercantum di dewan pers.

Mendengar itu, saya merasa gondok. Tidak terima. Jawaban dari unsur pimpinan dan humas itu terlalu bersilat lidah. Setelah berhari-hari dugaan video itu jadi buah bibir, DPRD secara kelembagaan merasa “tidak keberatan”.

Bahkan mereka belum tahu yang menulis berita itu siapa? Ah, padahal ratusan wartawan bertahun-tahun diakomodir. Nyari satu wartawan tidak ketemu. Silat lidah lagi, sepertinya.

Paling baru, dalam sebuah kanal online, salah satu unsur pimpinan menyatakan bahwa kasus video mesum itu mirip kentut; bau namun tidak kelihatan. Bagi saya, ini ungkapan yang terlalu apologis. Nyaris mengada-ngada. Lebih baik diam. Bagi saya tidak mempan.

Lewat ungkapan itu, DPRD seperti berupaya memposisikan diri sebagai “korban”, yang seakan-akan sedang digoyang oleh barisan calon anggota legislatif lain yang gagal pada Pileg lalu.

Namun bagi saya, pernyataan itu menegaskam bahwa marwah DPRD secara kelembagaan, maaf, nyaris jarang diurus. APBD perubahan lebih penting dari mengungkap dugaan video itu. Mungkin karena video itu bukan mata pencaharian mereka. Mungkin lo ya.

Tidak ada kesimpulan apapun dalam catatan ini. Hanya saja, jika memang benar DPRD belum tahu siapa wartawan yang menulis berita itu, dan bahkan mereka juga tidak tahu alamat medianya dimana, tidak terdaftar di dewan pers(?), mungkin mainnya memang kurang jauh.

Atau, terakhir, DPRD memang suka acuh. Apalagi “serangan” dugaan video itu tidak mengusik “dapur” dan mata pencaharian mereka(?). Maka biarkanlah. Namun jika sampai mengusik “dapur”, mungkin dalih membela marwah lembaga akan dijadikan “senjata”. Jika yang diserang hanya soal etika, ah, itu biasa. Etika mah apa…

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *