Masa Rehabilitasi Anak Pecandu Narkoba di Pondok Pesantren Hidayatul Ulum Ganding

Spesial HSN 2020, Bakti Pondok Pesantren Hidayatul Ulum Sumenep terhadap masa depan anak pecandu narkoba di bawah umur. Selama masa rehabilitasi, mereka mendapatkan terapi jasmani dan rohani

Masa Rehabilitasi Anak Pecandu Narkoba di Pondok Pesantren Hidayatul Ulum Ganding
Pengasuh Ponpes Hidayatul Ulum Ganding melakukan terapi pijat kepada salah seorang anak pecandu narkoba di bawah umur (Edy Mufti - Sinergi Sumenep)

SUMENEP, SINERGI MADURA - Pondok Pesentren Hidayatul Ulum Dusun Somber Desa Gadu Barat, Kecamatan Ganding menjadi salah satu tempat rehabilitasi pembinaan anak pecandu narkoba di Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. 

Ada 4 orang anak yang mendapatkan pembinaan langsung dari para pengasuh di pondok pesantren ini.

"Saat ini ada 4 orang, sebernarnya kemaren saya ditawari 20 orang oleh Kapolres (AKBP Darman, red), hanya karena tempatnya minim," ucap salah satu pengasuh Ponpes Hidayatul Ulum, Kiai Qusyairi Zaini, Kamis (22/10/2020).

Menurutnya, Kapolres Sumenep akan mengirim lagi 8 orang, dan pihaknya hanya mengatakan hanya siap menampung 10 anak. Sebab, ketersediaan tempat untuk mereka, kata Kiai Qusyai, saat ini masih kurang memadai.

"Karena mereka tidak ditempatkan dengan santri reguler lainnya, mereka ditempatkan di komplek yang memang dekat dengan saya, biar mudah dipantau," katanya.

Dalam tahap pembinaan ini, Kiai Qusyai memberikan terapi dengan cara memijat bagian syaraf yang bermasalah, setelah itu kemudian diberi ramuan herbal. Selain terapi jasmani, mereka juga diterapi secara spiritual, yakni dengan mengajak mereka berdzikir bersama-sama.

Baca Juga: Kenakan Serban Putih, Kapolres Sumenep Pimpin Upacara HSN 2020

"Alhamdulillah," ucapnya, saat ini mereka sudah mulai beradaptasi dengan santri-santri yang lain. Mereka sudah diperbolehkan mengikuti aktivitas kepesantrenan, "seperti ngaji kitab dan lain sebagainya," imbuhnya.

Kiai Qusyairi Zaini mengatakan, pihaknya memberikan waktu jenguk hanya untuk keluarganya saja. Namun jika ada tamu lain, pihaknya mengaku harus menyeleksinya terlebih dulu. Sebab, tuturnya, dalam proses terapi mereka memang harus memutus hubungan sementara waktu dengan siapapun.

"Jika tidak jelas, saya tidak mengizinkan. Jangankan dijenguk, memegang HP saja saya melarang, harus pinjam punya pengurus pondok," dawuhnya.

Sebelum mengakhiri keterangan, Kiai Qusyairi Zaini berharap agar momentum Hari Santri Nasional (HSN) 2020 dapat dijadikan kesempatan untuk membangkitkan spirit ruh dan jiwa para santri.

"Untuk semua anak muda di Indonesia, khususnya kaum santri, hendaklah menjaga diri dan jangan sampai mendekati narkoba," pesannya. 

Tim Sinergi Madura coba mewawancarai salah satu anak, AD (18). AD mengaku menggunakan narkoba bermula dari rasa penasaran sehingga pada gilirannya lalu terus merasa ketagihan.

Setelah beberapa hari mendapatkan terapi dan pembinaan spiritual, AD kini merasa kondisinya telah membaik dan mengaku jera tidak akan lagi coba-coba menggunakan obat-obatan terlarang itu.

"Setelah direhab saya nyaman, saya sudah jerah," ucapnya. (em/md/fd)


(*)