Pasang

Mengenal Bahasa dan Falsafah Hidup Orang Madura

  • Bagikan
Mengenal Bahasa dan Falsafah Hidup Orang Madura
Orang Madura (Sumber: Ublik.id)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Indonesia memiliki banyak suku, agama, budaya dan bahasa yang beragam. Salah satunya yang sering kita dengar adalah bahasa daerah suku Pulau Madura, Jawa Timur.

Suku Pulau Madura sendiri mendiami 4 kabupaten, yakni Kabupaten Sumenep letaknya di ujung paling timur. Setelah itu, Kabupaten Pamekasan, Sampang dan Bangkalan paling ujung barat.

Pasang

Setiap masing-masing kabupaten suku asli Madura memiliki logat dan intonasi bahasa yang berbeda. Bahkan antar kecamatan di setiap kabupaten juga memiliki karakter pengucapan berbeda.

Secara administratif, orang Madura terbagi dua kategori:

Pertama, orang Madura asli (tulen) yang sudah lama menetap di tanah Pulau Madura, dan mereka memahami serta fasih berbahasa madura.

Kedua, Madura campuran (pandalungan, versi Madura). Mereka adalah keturunan darah Madura namun tidak menetap dan tinggal di Madura, sehingga kurang memahami dan tidak fasih berbahasa madura.

Baca Juga: 5 Tempat di Madura Ini Terkenal Angker

Mereka, orang keturunan Suku Madura yang tak akrab dengan bahasa madura ini disebut juga Madura Kejawan. Karena bahasa Jawa justru menjadi ‘bahasa ibu’ yang dipraktikkan dalam berinteraksi sosial tiap hari.

Nah, dalam artikel ini, Sinergi Madura akan membahas tentang kata-kata filosofis dalam bahasa madura.

Mungkin bagi banyak orang yang dari luar daerah agak asing mendengar bahasa madura tersebut. Karena bahasa madura merupakan bahasa daerah, yang bersifat regional.

Bahasa tersebut hanya diketahui dan dimengerti oleh orang-orang Madura saja dan mereka yang mempelajarinya, baik secara langsung maupun membaca di beberapa literatur buku dan internet.

Di bawah ini adalah filosofi kuno bahasa madura yang berhasil dirangkum Sinergi Madura dari berbagai sumber.

1. Padana Dangdang (seperti burung gagak)

Menurut cerita legenda dulu, burung gagak atau manok dangdang kata orang Sumenep, merupakan burung yang memiliki suara bagus dan cara berjalan yang sangat baik.

Namun demikian, dangdang sering meniru suara dan cara berjalan binatang lain, sehingga pada akhirnya, ia lupa cara berkicau dan cara berjalan yang baik. Suaranya jadi serak menakutkan, serta berjalannya pun meloncat-loncat.

Hal ini menunjukkan karakter orang yang sering meniru cara dan perbuatan orang lain, dia disebut ‘Padana Dangdang’.

Baca Juga: Keris, Pusaka Madura Buah Mahakarya Anak Bangsa

2. Mon Keras Akerres (kalau keras harus tegas)

Seperti peribahasa yang terkenal lainnya, “mon bhagus pabagas, mon soghi pasoga’ mon kerras akerres”. Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang harus memiliki karakter atau sikap yang tegas.

3. Padana Embi’ Kacang (seperti kambing kecil)

Peribahasa “padana embi’ kacang”, atau seperti kambing yang kecil tapi sok merasa paling pintar. Ini menunjukkan sebuah pelajaran bagi orang yang selalu mengkritik orang lain, namun apabila disuruh memimpin, malah dia tidak bisa apa-apa.

4. Padana Embi’ Dhumba (seperti kambing berbadan besar)

Filosofi padana ‘embi’ dhumba’ tersebut merupakan lawan dari peribahasa ‘padana embi’ kacang. Jadi, meskipun ia berbadan besar, namun tidak banyak bicara (tidak cerewet), dan selalu bisa jika disuruh mengerjakan apa saja.

5. Etembang Pote Mata Ango’ Potea Tolang (dari pada putih mata lebih baik putih tulang)

Peribahasa ini mengandung filosofi makna dari pada menanggung rasa malu lebih baik mati. Kalimat ini menunjukkan secara tegas sebuah sifat patriarki pada masyarakat Madura.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *