Pasang

Mengenal Budaya ‘Ojhung’ Lambang Pria Sejati di Madura

  • Bagikan
Mengenal Budaya 'Ojhung' Lambang Pria Sejati di Madura
Dua orang laki-laki saat memperagakan pertarungan Ojhung (Foto: Bombastis.com)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Ketika berkunjung ke Pulau Madura, hal apa yang ada di dalam pikiran Anda? Selain memiliki banyak destinasi wisata, kerapan sapi, makan khas, serta hal-hal lain yang menarik dan unik, Madura juga memiliki budaya yang disebut dengan Ojhung.

Budaya ini menampilkan dua orang laki-laki beradu pukul menggunakan alat rotan di dalam arena pertunjukan. Meskipun mengandung unsur kekerasan, tradisi Ojhung tetap dilaksanakan dan lestari sampai sekarang.

Pasang

Untuk bisa bermain dan bertanding, dibutuhkan laki-laki yang memiliki keberanian dan kemampuan untuk mengayunkan rotan agar mengenai tubuh sang lawan. Rotan seumpama pedang yang dipukulkan ke tubuh lawan.

Pemain bisa dikatakan menang apabila memiliki jumlah pukulan lebih banyak dibanding lawan. Begitu juga apabila rotan yang dipegang terjatuh maka ia sudah dipastikan kalah.

Dalam pertandingan ini, para pemain tidak diperbolehkan emosi dan cepat marah apalagi memiliki sifat dendam. Sifat buruk itu dianggap telah menodai kemurnian dari Ojhung.

Pemain maupun para suporter baik yang kalah maupun menang ketika pertarungan Ojhung di atas ring sudah selesai maka diminta agar saling menghormati dan memaafkan.

Baca Juga: Ragam ‘Kejung’ dalam Seni Tayup Sumenep Madura

Saat pertandingan Ojhung berlangsung, para pemain adalah sama-sama berposisi sebagai lawan yang harus dikalahkan. Namun, ketika permainan selesai, menjaga persaudaraan adalah hal tertinggi yang harus dijaga.

Pertandingan Ojhung juga dijaga seorang wasit yang disebut dengan Peputo. Tugasnya sama dengan wasit tinju misalkan. Dia memiliki tanggung jawab untuk menjaga suasana pertandingan agar tetap berjalan sportif.

Mulanya, tradisi Ojhung ini bertujuan untuk memohon turun hujan saat musim kemarau panjang tiba. Kala itu masyarakat meyakini bahwa luka dan darah yang mengalir saat dalam pertarungan Ojhung sebagai simbol keseriusan dan kesungguhan dalam memohon minta turunnya hujan.

Dilansir dari berbagai sumber, tradisi ini bermula dari Kabupaten Sumenep, Madura. Ojhung akhirnya juga menyebar ke berbagai daerah lain di Jawa Timur seperti Lumajang, Malang, Surabaya, Banyuwangi, Bondowoso, hingga Situbondo.

Laki-laki yang diperbolehkan bermain atau bertanding Ojhung mulai dari usia remaja sampai berusia tua. Yakni berusia 17 hingga 50 tahun. Sebelum bertanding, biasa para pemain memilih sendiri lawan untuk diajak duel. Mereka memilih lawan duel di luar arena.

Bila sudah menemukan kesepakatan antar keduanya, para pemain langsung mendaftarkan diri ke panitia acara dan siap duel adu kebolehan di depan para penonton.

Sumber lain juga menyebutkan bahwa konon katanya tradisi ini mulai ada dan berkembang sejak abad ke-13 di Pulau Madura. Ojhung didirikan oleh seseorang bernama Raden Imam Asy’ari yang disebut merupakan murid dari Sunan Kalijaga yang turut serta menyebarkan Agama Islam ke Madura.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *