Pasang

Mengenal Filosofi Kebaya, Pakaian Adat Perempuan Madura

  • Bagikan
Mengenal Filosofi Kebaya, Pakaian Adat Perempuan Madura
Perempuan mengenakan kebaya Madura. (SC/YT: Lasem Kalbar)

BUDAYA, SINERGI MADURAKebaya merupakan baju adat khas dari Madura, Jawa Timur, sebagaimana dipakai oleh kaum perempuan di pulau garam.

Umumnya, kebaya dikenakan sebagai pakaian sehari-hari maupun pada acara resmi. Kebaya tanpa kutu baru atau kebaya rancongan digunakan oleh masyarakat kebanyakan.

Pasang

Ciri khas kebaya Madura adalah penggunaan kutang polos dengan warna-warna menyolok seperti merah, hijau atau biru terang yang kontras dengan warna dan bahan kebaya.

Kutang ini biasanya memiliki ukuran ketat di badan. Panjang kutang dengan bukaan depan ini ada yang pendek serta ada pula yang panjang hingga sampai perut.

Hal tersebut merupakan salah satu perwujudan nilai budaya yang hidup di kalangan wanita Madura, yang sangat menghargai keindahan tubuh.

Baca Juga: Makna Filosofis Baju Sakera, Pakaian Khas Pria Madura

Pilihan warna yang kuat dan menyolok pada masyarakat Madura menunjukkan karakter mereka yang tidak pernah ragu-ragu dalam bertindak, pemberani, serta bersifat terbuka dan terus terang.

Kebaya dengan panjang tepat di atas pinggang dengan bagian depan berbentuk runcing menyerong khas roncongan Madura.

Pakaian adat ini umumnya digunakan bersama sarung batik motif tumpal, namun ada pula yang memakai kain panjang dengan motif tabiruan, storjan atau lasem.

Warna dasar baju adat yang biasa dikenakan para perempuan Madura ini biasanya putih dengan motif didominasi warna merah.

Menggunakan odhet sebagai penguat kain. Odhet adalah semacam stagen Jawa, terbuat dari tenunan bermotif polos, memiliki ukuran lebar 15 cm dan panjang sekitar 1,5 meter. Warna biasanya merah, kuning atau hitam.

Pada odhet terdapat ponjin atau kempelan, yaitu saku untuk menyimpan uang atau benda berharga lainnya. Alas kaki yang digunakan saat mengenakan kebaya adalah sandal jepit.

Selain itu, biasanya juga dipasang hiasan kepala berwarna keemasan yang disebut cucuk sisir dan cucuk dinar.

Beberapa wanita Madura ada juga yang menggunakan hiasan penutup kepala, yaitu leng oleng. Kemudian dipasang aksesori kalung brondong dan gelang yang biasanya berwarna keemasan.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *