Pasang

Mengenal ‘Kamratan’ di Madura, Sarana Pengingat dan Pengikat Antar Sesama

  • Bagikan
Mengenal-'Kamratan'-di-Madura,-Sarana-Pengingat-dan-Pengikat-Antar-Sesama
Terlihat sejumlah orang laki-laki di Madura sedang menghadiri acara Kamratan (Foto: Dok. Sinergi Madura)

BUDAYA, SINERGI MADURAKamratan merupakan salah satu tradisi keagamaan bagi masyarakat Madura. Tradisi ini masih cukup kuat bertahan di tengah masyarakat dan hampir ada di setiap daerah bahkan setiap dusun di Pulau Madura.

Sebagian daerah menyebut tradisi ini dengan kompolan, ada juga yang menamakan dengan koloman. Tradisi kamratan merupakan kegiatan berkumpulnya masyarakat untuk menggelar tahlil dan do’a bersama.

Pasang

Dalam pelaksanaannya, biasanya tradisi ini berpindah-pindah ke setiap rumah masing-masing anggota. Polanya hampir sama dengan arisan. Hanya saja, dalam tradisi ini diisi dengan kegiatan keagamaan seperti tahlil dan do’a.

Waktu pelaksanaannya pun beragam sesuai dengan kesepakatan dari semua anggota. Ada yang diselenggarakan setiap Ahad Manis, Jum’at, setengah bulanan, bahkan ada yang setiap satu bulan sekali.

Jenisnya pun juga beragam. Ada kamratan yang memang khusus para perempuan atau ibu-ibu, ada juga untuk para kaum laki-laki atau bapak-bapak.

Kamratan biasanya terlebih dulu diawali dengan pembacaan Ummul Quran kemudian dilanjutkan dengan pembacaan Surah Yasin bersama lalu dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan ditutup dengan do’a.

Baca Juga: Mengenal Tradisi Peringatan 40, 100, dan 1000 Hari Meninggalnya Orang Madura

Sebelum acara kamratan berakhir, biasanya juga ada seorang ustaz atau kiai setempat atau juga sesepuh memberikan wejangan keagamaan kepada para anggotanya.

Terkadang tokoh tersebut biasanya sekaligus ditunjuk oleh masyarakat untuk dijadikan Ketua Kamrat. Acara kamratan juga terkadang diakhiri dengan makan bersama dari keluarga anggota yang sedang menyelenggarakan.

Sebelum anggota bubar, terkadang juga dilakukan pengumpulan infaq seikhlasnya dari setiap anggota untuk membeli keperluan peralatan pengurusan janazah seperti kain kafan, kapas, batu bata besar dan sebagainya.

Hal demikian bertujuan ketika ada dari salah satu keluarga dari anggota Kamrat yang meninggal dunia tidak perlu membeli peralatan pengurusan jenazah. Namun, ada juga infaq yang digunakan untuk hal lain tergantung kesepakatan dari semua anggota.

Pembacaan Yasin, Tahlil, do’a dan makan bersama dalam kamratan diyakini sebagai sarana pengingat masyarakat bahwa aktivitas ibadah bukan hanya salat saja. Melainkan saling membantu sesama, saling berbagi dan berzikir juga disebut ibadah.

Sedangkan berkumpulnya masyarakat dalam sebuah kegiatan yang dikemas dengan acara kamratan, juga dapat menjadi pengikat silaturrahim antar sesama guna menumbuhkan rasa peduli yang semakin erat.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *