Pasang

Mengenal Kehidupan Masyarakat Nelayan di Pulau Santen Banyuwangi

  • Bagikan
Nelayan
Nelayan di Pantai Santen saat sedang menarik jaring ikan (Foto: Dokumen Sinergi Madura)

NASIONAL, SINERGI MADURA – Masyarakat yang hidup di pesisir Pantai Pulau Santen, Banyuwangi, Jawa Timur, mayoritas adalah seorang pelaut atau nelayan. Setiap hari mereka harus menerjang ombak untuk bertahan hidup.

Hanya di lautlah mereka menaruh harapan besar untuk bertahan hidup bersama keluarga. Setiap pagi pukul 04.30 WIB mereka sudah harus ke pantai melempar jaring ikan ke dasar laut.

Pasang

Hidup di kawasan pesisir Pantai Pulau Santen merupakan pilihan untuk berjuang dengan keras seperti karang yang harus tahan dengan gempuran ombak.

Kehidupan di pesisir pantai tak begitu saja menyajikan kemudahan. Bagi mereka anggapan bahwa masyarakat pesisir hidup dengan berkecukupan tidaklah sepenuhnya benar.

Sulitnya berlayar untuk melaut mencari nafkah dirasakan benar oleh nelayan Pulau Santen ketika jaring-jaring mereka tidak mendapat ikan. Mereka harus bersabar dan menerima ketika harus pulang dengan tangan hampa.

“Tidak menentu mas kadang dapat banyak kadang tidak, tergantung cuaca di laut mas penghasilan kami,” ucap seorang nelayan Pulau Santen, Hafidzi sambil menarik jaringnya dari pinggir pantai, Kamis, (04/11/2021)

Hafidzi bersama para nelayan lainnya setiap hari cukup menebar jaring berukuran 500-1000 meter. Setelah itu, jaring ditarik hingga ke bibir pantai membutuhkan minimal 4 sampai orang orang.

Terlebih dulu mereka harus membawa jaring ke tengah laut menggunakan perahu berukuran kecil bernama perahu jukong agar ikan di laut bisa terperangkap dengan jaring mereka.

Kehidupan gotong royong masyarakat pesisir pantai tersebut dapat dilihat setiap hari saat ketika mereka mulai melakukan aktivitasnya mencari ikan.

Mereka bekerja sama dengan para nelayan lainnya untuk saling membantu menarik jaring dari tengah laut hingga sampai ke bibir pantai.

Usai menarik jaring sampai ke tepian, puluhan ibu-ibu, remaja sampai anak-anak terlihat bergerombol membawa ember.

Tidak untuk berebut, melainkan membantu mengambil ikan hasil tangkapan dari para nelayan.

Baca Juga: 5 Misteri Wisata Kawah Ijen Banyuwangi, Ada Penampakan Nenek Penolong dan Syetan Penyesat

Ketika cuaca di tengah laut bersahabat, mereka bisa menjaring beragam jenis ikan seperti ikan teri dan ikan cumi.

Ikan hasil tangkapan mereka bisa langsung di jual ke pasar atau dijual ke para pengepul ikan di tempat itu.

“Kalau jenis ikan teri itu harganya satu kilo lima belas ribu, kalau ikan cumi harganya bisa lebih mahal bisa lima puluh ribu bahkan sampai enam puluh ribu,” imbuh Hafidzi.

Hal senada juga disampaikan nelayan lain pesisir Pantai Pulau Santen, Yono mengatakan bahwa hasil tangkapan ikan dari para nelayan saat ini tidak menentu.

“Tergantung dari musimnya ikan yang keluar mas, kalau musim ikan teri ya kadang banyak kadang juga sedikit, kalau musim ikan tongkol kadang banyak kadang sedikit,” ujarnya.

Saat ini dirinya bersama para nelayan lainnya sangat kesulitan untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan.

Menurut Yono, tidak hanya ketika cuaca buruk saja yang bisa memengaruhi terhadap hasil tangkapan mereka menjadi sedikit.

Para nelayan di Pulau Santen sangat terganggu dengan banyaknya sampah plastik yang masuk ke dalam air laut sehingga berpengaruh terhadap hasil tangkapan ikan.

“Pengaruhnya pendapatan kami menjadi sedikit karena banyak sampah plastik yang masuk je dalam laut sehingga ikannya jarang keluar,” ujar Yono.

“Plastik yang masuk ke dalam laut di sini kiriman dari sungai-sungai yang mengalir ke laut ini mas sehingga ikan banyak yang tidak keluar,” tandasnya.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *