Pasang

Mengenal Pangeran Le’nan, Pemimpin Perang asal Sumenep yang Sufi

  • Bagikan
Mengenal Pangeran Le'nan, Pemimpin Perang asal Sumenep yang Sufi
Pasarean Pangeran Le'nan (Foto: matamadura)

BUDAYA, SINERGI MADURAPangeran Le’nan merupakan putra Sultan Abdurrahman Pakunataningrat dari empat bersaudara yang ditunjuk sebagai pemimpin angkatan perang pada masa itu.

Pangeran Le’nan merupakan saudara laki-laki tertua dari empat bersaudara yang sekaligus dikenal kepiawaiannya di bidang seni perang. Pangeran Le’nan juga dikenal sebagai putra Sultan yang paling linuih.

Pasang

Dalam beberapa literatur Sumenep dikisahkan Pangeran Le’nan sering terlibat dalam ekspedisi perang. Salah-satunya perang Aceh. Ekspedisi perang itu terkait dengan pemadaman perlawanan rakyat setempat kepada Belanda.

Sumenep memang sering dimintai bantuan oleh Kolonial Belanda untuk memadamkan perlawanan kedaerahan. Salah satunya di Aceh. Itu fakta sejarah. Namun, ini bukan sesuatu yang memalukan. Karena situasi politik waktu itu memang menuntut demikian.

Saat di Aceh, dikisahkan bahwa Pangeran Le’nan justru tidak mengangkat senjata melainkan beliau mengajar ngaji dan banyak santrinya di sana. Orang-orang Aceh bahkan mengakui kealimannya.

Selepas dari Aceh, ia lebih mengasingkan diri dari keduniawian. Ketika usianya sudah sepuh, dikisahkan jasad beliau tidak kelihatan. Konon, kedatangannya hanya terdengar dari derap langkah kuda tunggangannya.

Baca Juga: Part 5, Daftar Raja yang Pernah Memerintah Keraton Sumenep Madura

Pangeran Le’nan mundur dari lingkungan keraton dan memilih lebih banyak membaca shalwat serta memberikan wasiat kepada keluarganya ketika dirinya meninggal agar jenazahnya tidak dikebumikan di Asta Tinggi.

Hal itu karena beliau tidak ingin dimuliakan, dan menganggap sama seperti orang kebanyakan. Pasarean beliau berada di kampong Banasokon. Sebuah dataran tinggi di dekat areal Asta Tinggi.

Versi lain menyebut bahwa menghindarnya Pangeran Le’nan dari keduniawian pasca kekalahannya dalam menduduki kursi raja. Konon, beliau yang memang dikenal sakti kalah dengan adiknya yang notabene sakit lumpuh.

Para sesepuh dulu justru mengatakan bahwa Pangeran Le’nan itu memilih mengalah tidak menduduki kursi raja. Bukan kalah. Beliau disebut menjaga perasaan adiknya yang secara fisik memang dalam keadaan sakit lumpuh.

Seperti diketahui, Sultan Abdurrahman Pakunataningrat diganti oleh putranya yang bernama Panembahan Mohammad Saleh, yang bergelar Natakusuma II salah-satu saudara dari Pangeran Le’nan.

 

(*)

  • Bagikan

Respon (1)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *