Pasang

Mengenal Sejarah Singkat Kerajaan Bangkalan Madura

  • Bagikan
Mengenal Sejarah Singkat Kerajaan Bangkalan Madura
Icon Kabupaten Bangkalan, Madura (Foto: matamaduranews)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Kabupaten Bangkalan, Madura merupakan fase peralihan setelah Hindu-Buddha sebelum kemerdekaan. Sebelum itu, dikisahkan bahwa ada beberapa raja pernah memimpin Keraton Bangkalan.

Kabupaten Bangkalan tercatat dipimpin seorang raja dari awal abad ke-16 hingga akhir abad ke-19. Selama rentang waktu tersebut juga dikisahkan terdapat tiga bentuk sistem pemerintahan secara berurutan yaitu kerajaan, kesultanan, dan panembahan.

Pasang

Dilansir dari berbagai sumber, keberadaan wilayah Bangkalan tak dapat dipisahkan dari perjalanan panjang sejarah Kerajaan Madura Barat. Kerajaan Madura Barat muncul pertama kali pada tahun 1531 dengan pusat pemerintahan di Keraton Arosbaya, Bangkalan.

Raja pertama yang memimpin roda pemerintahan di Madura Barat adalah Panembahan Lemahdoewoer yang memerintah sampai tahun 1592. Wilayah kekuasaan kerajaan ini mencakup daerah Bangkalan dan Sampang.

Kemudian pada tahun 1624, pusat pemerintahan di bawah kendali raja berikutnya berpindah ke Keraton Madeggan Sampang dengan Raja Pangeran Tjakraningrat I dan selanjutnya diganti oleh Panembahan Tjakraningrat II pada 1648-1707.

Baca Juga: Mengenal Sejarah Singkat Kerajaan Bangkalan Madura

Berikutnya, pada masa pemerintahan Tjakraningrat III yaitu pada tahun 1707-1718, pusat pemerintahan berpindah ke Keraton Toendjoeng Bangkalan. Setelah itu pada masa pemerintahan Raja Tjakraningrat IV tahun 1718-1745 pusat pemerintahan dipindahkan ke Keraton Sembilangan di Bangkalan Baru.

Di masa Tjakraningrat V tepatnya pada tahun 1745-1770, menurut sejarah, pusat pemerintahan pindah untuk pertama kalinya ke Keraton Bangkalan. Pasca pemerintahan Tjakraningrat V terjadi kekosongan pemerintahan karena putra mahkota meninggal di usia muda.

Tahta raja kemudian digantikan oleh cucu Tjakraningrat V yang bernama Sultan Tjakradiningrat I pada tahun 1780-1815. Pada masa inilah Kerajaan Madura Barat berubah menjadi kesultanan yang bersifat Islam.

Tahta raja pun kemudian digantikan oleh Sultan Tjakradiningrat II atau Raden Abdul Kadir pada tahun 1815-1845. Kala itu masyarakat menyebutnya dengan nama Sultan Kadirun.

Selanjutnya tahta pemerintahan kemudian digantikan oleh putranya yang bernama Raden Muhammad Yusuf atau Panembahan Tjakradiningrat VII tepatnya pada tahun 1847-1862.

Ia kemudian digantikan oleh putra sulungnya yang bernama Panembahan Tjakradiningrat VIII 1862-1882. Putra Tjakradiningrat VII yang dipersiapkan menjadi raja dari sebelumnya tidak dapat naik tahta karena meninggal tiga tahun sebelum Panembahan Tjakradiningrat VIII turun tahta.

Sementara pada tahun 1885, Belanda melakukan intervensi terhadap kerajaan. Alhasil, pemerintahan Kerajaan Madura Barat dihapus berdasarkan Besluit Goeverneur General Nederland Indie No. 2/c tanggal 22 Agustus 1885.

Semenjak persoalan itulah kemudian Kerajaan Maduran Barat terbagi menjadi dua wilayah kabupaten, yaitu Bangkalan dan Sampang. Kendati demikian, pada masa selanjutnya garis keturunan Tjakradiningrat masih tetap memimpin Bangkalan dengan menjadi Bupati.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *