Pasang

Mengenal Tradisi Rokat Tase’ di Pesisir Madura

  • Bagikan
Mengenal Tradisi Rokat Tase' di Pesisir Madura
Tradisi Rokat Tase' atau petik laut (Foto: Sumenepkab.go.id)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Tradisi dan kebudayaan di Pulau Madura, Jawa Timur terus mengalami perkembangan hingga saat ini.

Di kawasan pesisir Madura misalnya, terdapat komunitas masyarakat yang terus menjaga tradisi sebagai sesuatu yang wajib dilakukan. Budaya tersebut dikenal dengan nama ‘Rokat Tase’ atau petik laut.

Pasang

Rokat tase’ merupakan tradisi yang dilakukan oleh masyarakat pesisir Madura yang sebagian besar dari mereka merupakan nelayan dengan aktivitas di laut.

Menurut cerita, tradisi ‘Rokat Tase’ merupakan budaya yang mengandung nilai luhur dan sakral, sehingga sampai saat ini masih terus dilestarikan.

Sebenarnya, tradisi semacam ini tidak hanya terdapat di daerah penghasil garam saja, namun juga banyak ditemukan di daerah pesisir Pulau Jawa dan Bali terutama yang ada di selatan. Hanya saja terdapat perbedaan pada prosesi tradisi dan modifikasinya.

Rokat Tase’ sudah menjadi tradisi masyarakat pesisir Madura sejak beberaap ratus tahun lalu. Tradisi ini dianggap sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT atas keselamatan dan rezeki yang melimpah saat melaut.

Baca Juga: Orang Madura Harus Tahu, Begini Cara dan Etika Menarik Keris dari Warangka

Selain itu, juga dianggap sebagai cara untuk mencegah bala’ (bahaya) atau kejadian yang tidak diinginkan selama berada di laut, serta ritual untuk menambah rezeki para pelaut.

Rokat Tase’ biasanya dilakukan dua kali selama setahun, pertama dilakukan setiap bulan enam atau tujuh, tepatnya Juni atau Juli.

Kedua, pada bulan November, karena biasanya pada bulan tersebut ikan di laut melimpah, sehingga hasil tangkapan nelayan banyak.

Pelaksanaan ritual ‘Rokat Tase’ bisa bermacam-macam, di Kabupaten Sumenep tepatnya di Kecamatan Dungkek, biasnya ditandai dengan membuang kepala sapi oleh tokoh masyarakat serta warga sekitar ke tengah laut menggunakan perahu nelayan.

Sejumlah perahu nelayan yang telah dihias indah dengan berbagai aksesoris, ikut mengantar perahu yang mengangkut kepala sapi atau kambing dan makanan ke tengah laut. Di atas perahu tersebut biasanya juga terdapat bendera uang dan bunga sebagai perwujudan dari rezeki.

Ketika meletakkan beberapa sesaji tersebut di atas perahu, kemudian dilarung ke tengah laut. Prosesi ini mereka percaya, agar rezekinya bisa bertambah banyak. Hal ini biasanya terjadi setelah prosesi rokat selesai dilakukan oleh masyarakat.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *