Mengenal Tradisi Toron Tana di Pasongsongan, Rentetan Prosesi dan Filosofinya

Mengenal Tradisi Toron Tana di Pasongsongan, Rentetan Prosesi dan Filosofinya
SUMRINGAH: Diandra Lembayung Ramadhani menunjuk Alquran untuk pilihan pertamanya (Ubay Shabaro - Sinergi Sumenep)

BUDAYA, SINERGI MADURA - Tradisi atau ritual warisan leluhur di Madura sangat beragam, salah satunya tradisi Toron Tana yang sampai saat ini masih tetap lestari.

Di Kecamatan Pasongsongan, Sumenep, Jawa Timur, ritual ini biasa dilaksanakan oleh orang tua terhadap keturunan atau anaknya yang baru saja menginjak usia 7 hingga 12 bulan.

Seperti yang dilakukan oleh keluarga besar H Junaidi dan Hj Fitfiyah Ningsih di Desa Montorna, Pasongsongan ini. Disaksikan kerabat dekat dan tetangga, Diandra Lembayung Ramadhani (cucu H Junaidi) digendong dan diturunkannya perlahan agar menginjak tanah untuk pertama kalinya.

"Sudah bisa duduk tegap, sudah berusia 7 bulan. Jadi kita lakukan ini, Toron Tana cucu saya, Diandra," tuturnya kepada media ini, Sabtu (16/01/2021).

Junaidi menjelaskan, garis besar filosofi dari ritual Toron Tana adalah semata ingin menunjukkan kepada para kerabat dan tetangga bahwa si bayi telah siap menjalani hidup sampai kelak ia dewasa.

Sebelum diturunkan ke tanah dan didoakan, terlebih dahulu kaki Diandra disentuhkan ke piring berisi bubur ketan yang sudah disiapkan di atas tanah. Bubur ketan yang sifatnya agak liat diyakini bisa memotivasi jiwa si bayi agar kuat dan tabah menjalani kehidupan.

Baca Juga: Mengenal Pakaian Adat Khas Madura, Unik dan Kaya Filosofis

"Agar papah jalannya, ma' ollè ta' lèmbher (agar tidak mudah jatuh saat nanti bisa berjalan, red). Agar ia tangguh menempuh kehidupan yang penuh tantangan ini," imbuhnya.

Ritual doa dipimpin oleh guru ngaji (kiai kampung) atau tokoh masyarakat setempat. Hal itu dimaksudkan sebagai upaya untuk mengenalkan pada si anak bahwa moralitas orang Madura sangatlah hormat pada orang yang berilmu (ulama).

Selain itu, kata dia, bahwa mayoritas orang Madura, khususnya masyarakat Sumenep, senantiasa menjunjung tinggi pendidikan pesantren. Dengan harapan, kelak si anak akan banyak menimba ilmu agama di lingkungan pesantren.

"Sebelum prosesi, seperti biasa kita doa bersama dulu, baca surat Yasin, dengan harapan keluarga yang punya hajat atau yang melaksanakan ritual Toron Tana ini dijauhkan dari segala mara bahaya," paparnya.


PERLAHAN: K Baihaqi (Kaia Kampung) saat memapah Diandra menginjakkan kaki ke piring yang berisi bubur ketan (Ubay Shabaro - Sinergi Sumenep)

Setelah prosesi menginjakkan kaki si bayi ke bubur ketan di atas piring, dilanjutkan dengan ritual pengambilan benda-benda di atas nampan, eperti buku, Alquran, benih tanaman, baju, kaca, sisir dan buku serta pensil. Jika si anak menyentuh buku pertama kali, diyakini anak tersebut nanti akan rajin belajar. 

"Sentuhan pertama bayi pada benda yang disediakan itu diyakini sebagai gambaran yang akan dilakukan kelak olehnya," jelasnya.

Lanjut, alumnus UNITOMO Surabaya tersebut menjelaskan, bahwa dalam pengambilan benda yang disediakan harus dibiarkan diambil semuanya oleh sang anak. Dengan tujuan, bahwa anak itu sudah diberikan keleluasaan untuk mengenali lingkungan sekitar serta sudah boleh bermain dengan anak-anak lain.

"Kalau yang pertama kali mengambil benih tanaman, itu diyakini kelak ketika dewasa akan suka menanam dan rajin bekerja. Sebab benih atau biji di sini diartikan sebagai gambaran rejeki," pungkasnya. (us/md/fd)


(*)