Pasang

MILHAN PAHIT KOPI DAN SELAKSA WAKTU

  • Bagikan
MILHAN PAHIT KOPI DAN SELAKSA WAKTU
Foto: Istimewa

Ba​​​​giku KOPI harus selalu hadir dalam keadaan pahit,” ucapnya, saat kita berdua sedang lembur di kantor Sinergi Madura.

***

Pasang

Malam itu, Minggu (29/11/2020), ia harus menyelesaikan editing sekitar 5 video berita Youtube Sinergi Tv. Sedangkan saya harus merekap jumlah berita dan keluar-masuk keuangan PT Sinergi Mediatama Nusantara.

Serak kuat suara Felix mengalun rendah: “Sementara Sendiri” ciptaan Geisha, menjadi satu-satunya suara lain di antara suara percakapan saya dengan Milhan.

RB Milhan Ramdhana, adalah seorang kreator video Sinergi Tv yang sempat bekerja sebagai tim editing TVOne selama enam bulan.

Ia lalu memilih resign kerja dari TVOne dan pulang ke kampung halamannya di Kelurahan Bangselok, Sumenep, Madura karena alasan harus menemani orangtuanya di rumah yang telah renta dan sering sakit.

Milhan, begitu teman-teman di Keluarga Sinergi Nusantara memanggilnya, adalah satu di antara kita yang punya pandangan berbeda soal kopi. Baginya, kopi harus selalu hadir dalam keadaan pahit. Karena menurutnya, seluruh waktu dalam usianya harus dirasakan sebagai pahit yang lain untuk makna hidup dan demi hidup yang bermakma.

“Bagiku kopi adalah awal dari segalanya. Tiap kali merasakan pahit kopi, pikiran langsung tertuju pada seisi hari ini: Apa yang harus saya kerjakan hari ini? Semangatnya di situ. Jadi, saat akan keluar rumah, saya sudah punya tujuan,” ungkapnya.

“Setiap hari, sejak saya bangun tidur sudah harus ada kopi. Jadi, bangun cari kopi, nyalakan rokok dan, berangkatlah harus ke mana,” imbuhnya.

Kopi Barangkali

Meminjam bahasa dalam puisi karya M Faizi, kiai yang sekaligus penyair ternama di Madura: “Puisi bukan segalanya, tapi nyaris…” Demikian setidaknya Kopi bagi Milhan dan Puisi bagi M Faizi.

Padamulanya, kata Milhan, dirinya melihat kopi itu sama dengan minuman lain. “Awalnya sih saya melihat kopi itu sebatas minuman seperti biasa minuman lainnya. Tapi semakin ke sini, saya kok merasa makin penasaran. Ini kopi sepertinya kok beda dengan minuman-minuman lainnya, ya.” katanya.

Ia rasakan itu saat ia coba minum kopi tanpa gula pertama kali. “Sayang saya lupa kapan itu terjadi,” ucapnya.

Dan sejak saat itu ia mulai berpikir: “Kalau kopi tanpa gula itu pahit, lalu apakah ketika aku meminumnya dapat memberi pengaruh pada hidup yang sejatinya sendiri dan sepi ini?” imbuh dia seolah bertanya pada dirinya sendiri.

Kopi tanpa gula baginya adalah cinta menurut Kahlil Ghibran: “Ketika cinta menyuruhmu berjalan, maka berjalanlah walau liku dan bercuram!” 

Jika cinta bagi Ghibran adalah raja yang perintahnya wajib dilaksanakan, maka bagi Milhan, kopi pahit adalah sumber kekuatan yang mampu menggerakkan pikiran; ‘sesuatu’ yang selalu berhasil memompa semangatnya untuk ada dan terus bernafas, menunaikan ibadah hidup yang sesungguhnya.

“Beda dengan kopi manis. Ia seolah hambar saja. Lewat saja. Tak memberi apa-apa,” katanya.

Sisakan Uang untuk Kopi

“Jadi, apapun keadaannya, saya pasti akan menyisakan uang untuk kopi selama satu pekan hingga satu bulan ke depan.”

“Minimal dalam satu hari saya minum kopi dua kali, saat bangun tidur dan sebelum tidur.”

“Dimana saja saya akan minum kopi dan berpikir; menuliskan apa yang terpikir saat itu dan melakukannya hari itu juga.”

“Jika ada warung kopi yang menjual hanya kopi saset bergula, maka saya akan memilih minuman lainnya. Entah itu minuman jeruk, teh, atau apalah selain kopi saset manis.”

Kopi Made in Sendiri

“Kopi yang paling enak adalah kopi racikan sendiri. Toh kadang kita memilih ngopi di luar dan harus dibuatkan oleh orang lain.”

Lagu yang dinyanyikan Felix berganti entah sudah berapa judul, kita berdua larut dalam percakapan; tetap seputar makna kopi.

“Kopi yang aku aduk itu adalah segelas makna kehidupan yang sedang aku jalani.”

Saat sedang menyiapkan gelas, sendok, bubuk kopi hingga menuangkan air ke dalam gelas yang dipilih, ia berpikir bahwa hidup juga begitu.

“Segalanya akan berarti jika kita mengenal dan mencicip sendiri prosesnya, sebelum lalu merasakan kebermaknaan yang telah kita lakukan,” ucapnya, sambil mencicip kopi yang ia racik sendiri.

“Berapa takaran bubuk, dan seberapa derajat panas air yang pas untuk bubuk yang kita tentukan, untuk pahit yang akan mendidihkan pikiran kita, untuk menyalakan semangat ini, untuk hidup yang berarti,” tuturnya.

Ngopi Sendiri

“Saya pilih ngopi sendiri ketimbang ngumpul sama teman. Toh sesekali memang diajak teman. Teman yang sering melihatku ngopi sendiri dan ia manghampiri kesendirian saya ketika itu, ya, terusirlah sepi.”

“Di kesendirian bersama kopi, saya bisa leluasa memikirkan dan merencanakan baik pekerjaan yang sedang saya tekuni, juga kehidupan di masa yang akan datang. Harusnya seperti apa? Di sana saya membaca dan menuliskan banyak hal yang bisa saya lakukan untuk masa depan.”

“Kendati sedang memikirkan masa depan, tapi saya tidak berpikir tentang apa yang harus saya lakukan selama 5 tahun ke depan, tetapi lebih pada apa yang harus saya selesaikan hari ini?”

“Entah itu soal pekerjaan, keluarga, bisa juga (bermain) ke teman. Siang saya ngopi, sore saya harus kemana, malam harus melakukan apa, sudah saya rencanakan saat ngopi sendiri.”

“Jadi, minum kopi itu adalah untuk saya sendiri, untuk ketenangan saya sendiri. Saya tak pernah menghiraukan apa dampaknya bagi kesehatan jika terlalu banyak minum kopi atau apalah, tak pernah itu terlintas dalam benak ini.”

“Bagi saya, karya apapun itu, mesti kita rayakan dengan minum pahit kopi. Sehingga walaupun di hari itu kadang masih banyak pekerjaan dan masalah yang belum teratasi, setidaknya saya masih bisa bersyukur setiap saat aku menyentuhkan bibir gelas ke katup hidup yang sedang kujalani.”

“Terima kasih, saya masih bisa minum kopi, sambilalu membayangkan betapa kopi adalah karya tuhan yang tak mungkin bisa aku ciptakan sendiri.”

Antara Rokok dan Kopi

“Rokok bagiku berada di urutan kedua setelah kopi. Jadi saat rokok saya kadang dilempar sama teman karena rokok saya memang kelas menengah ke bawah, saya rasa itu biasa dan tak akan membuat saya marah. Tapi kalau kopi yang dilempar, maka saya akan merasa bahwa dia telah meremehkan saya, tidak menghargai saya.”

Menurut dia, sejatinya hidup di dunia adalah perjuangan melawan pahit, sama dengan saat kita sedang mengangkat segelas kopi untuk sampai ke tenggorokan. Kalau gelas itu kita biarkan di atas meja, maka sulit kopi itu akan tertuang ke mulut dengan sendirinya.

Kopi Penutup

Sebentar lagi beduk adzan subuh dan lonceng di Masjid Agung Sumenep akan ditabuh dan bertalu. Sebelum menutup percakapan, beriring suara qari’ tarhim berkumandang di kejauhan, Milhan mengatakan:

“Setiap hari, saya awali waktu dengan meminum kopi pahit dan, sebelum tidur, saya tutup hari dengan minum pahitnya lagi sambil merasakan bahwa esok, masih ada pahit yang menanti,” pungkasnya.

Lalu kita kembali fokus mengerjakan apa yang tak boleh diselesaikan besok. (md/fd)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *