Pasang

Mitos atau Fakta: Masyarakat Pulau Gili Labak Sumenep Madura Tidak Bisa Pelihara Kambing dan Sapi

  • Bagikan
Mitos-atau-Fakta-Masyarakat-Pulau-Gili-Labak-Sumenep-Madura-Tidak-Bisa-Pelihara-Kambing-dan-Sapi
KERAMAT: Khozaime menunjukkan situs makam Nyai dan Kiai Garindung, Minggu siang tanggal 17 Oktober 2021 (Mazdon - Sinergi Sumenep)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Tim Sinergi Madura berkunjung ke Pulau Gili Labak yang terletak di Dusun Lembana Desa Kombang Kecamatan Talango, Sumenep, Jawa Timur, Minggu (17/10/2021).

Berangkat pukul 08.00 menggunakan speedbooat, tim Sinergi Madura tiba di lokasi sekitar pukul 08.25 WIB. Kurang dari setengah jam perjalanan.

Pasang

Disambut hangat wakil ketua Pokdarwis Gili Labak, Khozaime, sebelum menjelajah luas pulau, Tim Sinergi Madura lalu duduk ngopi sambil ngerumpi tentang kehidupan masyarakat sekitar hingga sampai pada cerita bahwa, di pulau yang terkenal dengan sebutan Pulau Tikus ini tak seorangpun boleh memelihara sapi dan kambing.

Konon, kisah Khozaime, ayahnya yang saat ini menjabat sebagai Ketua RT Dusun Lembana, Abdul Jalil, pernah memelihara kambing.

“Melihara kambing di sini, satu bulan saja pasti akan gemuk luar biasa. Tapi ya itu, kambing tersebut biasanya akan terus menggemuk menggemuk dan tak lama setelahnya akan susut susut dan mati,” kisah Khozaime.

“Tikus-tikus kecil entah darimana datangnya, mungkin ratusan bahkan ribuan, tiba-tiba muncul menyerang kambing kita, tanaman jagung, bahkan kaki-kaki kita akan mereka gigit saat tidur di malam hari,” imbuhnya heran.

Jika dihitung, di tanah Gili Labak yang memiliki luas hanya sekitar 5 hektare itu, setiap batang tanaman jagung yang dipeliharanya akan digerayap setidaknya 5 ekor tikus.

Baca Juga: Eksotisme Pantai Gili Labak Sumenep Madura

“Biasanya mereka muncul sesaat setelah adzan Isya, hanya sekejap, tani kita pun musnah seketika itu juga. Kambing kita pun akan mati dikeruyuk tikus-tikus kecil itu,” katanya.

Tak hanya kambing, sambung dia, sempat suatu ketika ada pelancong bersama rombongannya membawa sapi untuk disembelih di Pulau Gili Labak; untuk selamatan atau entah karena hajat tertentu, sapi itu gagal disembelih lantaran terlalu ‘ghâbâl’ (baca: berontak, binal dan liar).

Sapi tersebut jumpalitan dan lari alang-kepalang tak seorangpun dapat menangkapnya.

“Malam harinya, tikus-tikus kecil pun bermunculan menggigit kaki-kaki warga sekitar saat mereka tidur dan sapi itu dibawa kembali pulang setelah beberapa hari kemudian berhasil ditangkap oleh bantuan penduduk sekitar,” demikian kisah Khozaime.

Usut-punya usut, pulau ini dikelilingi oleh 4 tempat keramat. Empat tempat berupa makam dan sumur itu kini telah lenyap tertutup pasir; digantikan 3 pohon besar dan 1 pohon kurma.

Masing-masing tempat tersebut menjadi situs bersejarah yang dipercaya oleh penduduk Pulau Gili Labak sebagai tempat keramat.

Masing-masing situs punya nama. Apa saja dan dimana sajakah letak situs bersejarah nan keramat tersebut? Simak ulasan Sinergi Madura selanjutnya. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *