Pasang

Olah Grywater, Model Pemas Dosen Unija Sumenep di Desa Marengan Laok

  • Bagikan
KOMPAK: Sejumlah dosen Unija pose bersama dekat lokasi grywater (Dokumen Sinergi Madura)

SUMENEP, SINERGI MADURA – Dosen dari Fakultas Teknik Universitas Wiraraja (Unija) Sumenep, Jawa Timur menjalani program pengabdian kepada masyarakat (Pemas) di Desa Marengan Laok Kecamatan Kalianget.

Program tersebut merupakan wujud implementasi program Kota Tanpa Kumuh (KOTAKU), kerjasama antara Unija dengan Pemerintah Desa Marengan Laok.

Pasang

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Cholilul Chayati, mengatakan, program ini merupakan kewajiban bagi seorang dosen dalam menjalankan Tri Darma Perguruan Tinggi melalui dana internal kampus.

“Ini adalah kewajiban dosen untuk melakukan tri darma perguruan tinggi, salah satunya kegiatan pengabdian,” kata Cholilul Chayati, Sabtu (25/9/2021).

Baca Juga: Forpimka Dungkek Gelar Vaksinasi Serentak di Pasar Candi

Chayati menambahkan, pada program tersebut, tim pengabdian melakukan pengolahan Greywater dengan kolam sanitasi yang berada di Dusun Jenengan Desa Marengan Laok.

Greywater merupakan limbah cair yang harus diolah agar tidak menimbulkan permasalahan lingkungan yang berdampak pada penurunan tingkat kesehatan lingkungan masyarakat.

LANGSUNG: Tim pengabdian masyarakat Unija saat berada di kolam ikan (Hayat Sinergi Sumenep)

“Kami memberikan informasi, pengetahuan dan contoh teknologi sederhana kepada masyarakat bagaimana cara menciptakan lingkungan permukiman yang sehat, serasi, berjati diri dan berkelanjutan,” jelasnya.

“Masyarakat diberikan pemahaman cara mengolah limbah domestik atau greywater agar bisa dimanfaatkan kembali dengan metode kolam sanitasi,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, Ahmad Suwandi juga menuturkan alasan memilih Dusun Jenengan Desa Marengan Laok karena di kawasan ini mengandung air limbah (graywater) sehingga kolam ikan di dalamnya kurang produktif.

“Jadi kami nilai ini cocok untuk dijadikan sebagai kolam sanitasi sebagai kegiatan pengolahan grywater,” katanya.

Tim pengabdian melakukan penanaman melati air dan tanaman kana sebagai pengurai limbah di kolam ikan tersebut.

“Karena tanaman tersebut mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus sehingga tidak menimbulkan bau serta air bisa terbebas dari limbah. Secara estetika kolam akan terlihat cantik jika tanaman sudah dapat tumbuh dengan baik,” tandasnya.


(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *