Pasang

Part 5, Daftar Raja yang Pernah Memerintah Keraton Sumenep Madura

  • Bagikan
Ilustrasi Raja Sumenep (Foto: Lontarmadura)
Ilustrasi Raja Sumenep (Foto: Lontarmadura)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Raden Segoro putra Bendoro Gung atau cucu dari raja Gilingwesi disebutkan dalam legenda Madura sebagai penghuni pertama di wilayah Pulau Garam.

Dikatakan dalam prasasti canggal perhitungan tahun sekitar 732 M, saat itu kerajaan Mataram Kamulan diperintah oleh raja dari dinasti Sanjaya.

Pasang

Pulau Madura pada waktu itu merupakan daerah yang terpecah belah. Dan yang nampak hanyalah Gunung Geger di Kabupaten Bangkalan dan Gunung Payudan di Sumenep.

Sebelum kerajaan Majapahit berdiri, menurut Sultan Abdurrahman, di Sumenep sudah ada pusat pemerintahan hang letaknya berada di daerah Purwareja atau Mandagara.

Saat ini, daerah Mandagara adalah termasuk walayah kecamatan Ambunten, kabupaten Sumenep. Sedangkan nama pemerintahannya pada waktu itu adalah Pangeran Rato.

Kemudian, karena pusat pemerintahannnya berada di daerah Mandagara, maka ia terkenal dengan nama Pangeran Mandagara atau Raden Pitutut pada tahun 1333-1339 Masehi.

Berikut daftar pemerintah atau raja Sumenep dari awal tahun berdirinya, 20 dari nama-nama raja tersebut telah Sinergi Madura ulas pada artikel sebelumnya, ini lanjutannya.

Baca Juga: 

Mengenal Sejarah Keraton dan Daftar Raja di Sumenep Madura
Part 2, Daftar Raja yang Pernah Memerintah Keraton Sumenep Madura
Part 3, Daftar Raja yang Pernah Memerintah Keraton Sumenep Madura
Part 4, Daftar Raja yang Pernah Memerintah Keraton Sumenep Madura

21. Pangeran Anggadipa

Pangeran Anggadipa adalah keturunan adipati Jepara. Memiliki istri, putri dari panembahan Lemah Duwur (Raden Pranoto) Sampang yang bernama Raden Ayu Mas Ireng.

Pangera Anggadupa memerintah Keraton Sumenep selama 18 tahun (1626-1644). Ia memiliki tempat keraton di Karang Toroy.

22. Raden Jaingpati

Raden Jaingpati merupakan raja dari keturunan Sampang, ia memerintah Keraton Sumenep selama 4 tahun, (1644-1648).

Sebagi pemimpin baru keraton, kehadiran Temenggung Jaingpati tidak mudah di terima rakyat Sumenep. Semua keadaan semakin memburuk kala itu.

Sehingga membuat rakyat Sumenep tidak bersimpati terhadap kepemimpinan Jaingpati. Lalu semua rakyat berharap agar Raden Jaingpati secepatnya diganti oleh pemimpin dari keturunan asli Sumenep.

23. Raden Bugan (Pangeran Yudonegoro)

Raden Bugan menjadi adipati Sumenep selama 24 tahun (1648-1672). Dengan gelar Pangeran Yudonegoro ia berpangkat tumenggung keraton yang bertempat di Karang Toroy.

Sebelumnya, Raden Bugan telah memperistri anak keponakan Raden Trunojoyo yang bernama Nyai Kani, yaitu putri dari Kiai Jumantara, Sampang.

Dari hasil perkawinannya tersebut, Raden Bugan memiliki keturunan berjumlah empat orang. Yaitu, Raden Ayu Batur, Raden Ayu Artak, Raden Ayu Otok, dan Raden Ayu Kacang.

24. Pangeran Panji Polang Jiwo dan Pangeran Wirosari

Pangeran Panji Pulang Jiwo menggantikan mertuanya, Pangeran Yudhonegoro menjadi adipati atau raja Sumenep, ia berpangkat tumenggung keraton bertempat di Karang Toroy.

Pemerintahan Pangeran Pulang Jiwo berlangsung selama 6 tahun (1672-1678). Pemerintahan Pangeran Pulang Jiwo bersamaan dengan Pangeran Wirosari (Pangeran Seppo). Pada waktu itu kerajaan Sumenep diperintah oleh dua orang dalam waktu bersamaan.

25. Pangeran Romo atau Pangeran Cokronegoro II

Pangeran Romo adalah putra dari Raden Deksana (Raden Gunung Sari) atau pangeran Gatut Kaca (Adikoro I) adipati Pamekasan dari hasil perkawinannya dengan Raden Ayu Otok, putri dari Pangeran Yudonegoro.

Pangeran Romo berhasil mempersatukan kembali kepemimpinan pemerintahan Sumenep secara utuh. Ia memerintah Kadipaten Sumenep selama 31 tahun (1678-1709) yang bertempat di Keraton Karang Toroy.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *