Pasang

Perbudakan yang Mencekam, dan Tangis Manusia di Serambi Globalisasi

  • Bagikan
Perbudakan yang Mencekam, dan Tangis Manusia di Serambi Globalisasi
Foto: Istimewa

Fenomena besar terjadi dalam percaturan peradaban dunia. Dunia menyaksikan dan mengenang sejarah perjuangan menentang perdagangan budak dan penghapusan perbudakan, didukung oleh fakta historis yang sangat memilukan dan tidak bisa terlupakan selama ratusan tahun: tragedi humanisme; ketika manusia menghisap darah manusia; penganiayaan terjadi dimana-mana, seakan tiada beda antara hewan dan manusia.

Kampus-kampus dengan berbagai latar belakang akademisi di berbagai belahan dunia seakan terhipnotis untuk melakukan kajian. Para seniman dengan ribuan kisah telah merangkai karya agung semisal lagu-lagu blues: sebuah genre musik yang membuncah. Semua ini dilakukan adalah sebagai wujud teriakan batin mereka untuk mengungkapkan duka lara para mantan budak Afrika di Amerika.

Pasang

Rahim Hollywood, berdasar banyak fakta dan peristiwa, telah merilis film-film legendaris tentang darah yang mengalir di riak Sungai Mississippi, rantai, tentang borgol, danau keringat tanpa bayaran di ladang-ladang raksasa, hingga hikayat pilu lainnya yang berurai air mata. Sinema-sinema yang menyentuh bagian terdalam rasa kemanusiaan kita, yang membuat mata ini bercucuran air tangis, sebut saja: The Birth of A Nation, Lincoln, 12 Years A Slave, Freedom, The Keeping Room, dan sebagainya.

Tepatnya, menjelang tanggal 23 Agustus 1791, adalah bukti sejarah kebangkitan gerakan penghapusan perdagangan budak transatlantik. Tepatnya pada malam hari menggema revolusi yang mengobarkan bara kebebasan di Santo Domingo.

Terjadinya tragedi ‘Pemberontakan’ terhadap sistem perbudakan itu telah melahirkan kemerdekaan pada 1804. Peristiwa tersebut mengukuhkan sebutan Republik Haiti sebagai “negara bentukan para pahlawan dari kaum budak”.

Tragedi ini pula yang membakar semangat dan menumbuhkan keberanian para budak untuk mendorong UNESCO, PBB, lalu tepat pada tanggal 23 Agustus ditetapkanlah Hari Internasional untuk mengenang perdagangan budak dan penghapusan perbudakan.

Ketika sejarah telah ditabuh dan dimonumenkan, namun realitas yang terjadi adalah justru masih banyak manusia yang terjebak dalam tragedi yang kini disebut sebagai perbudakan modern (modern slavery). Walau termasuk salah satu bentuk pelanggaran HAM berat, perbudakan masih terjadi hingga kini. Ini merupakan fakta realita yang terjadi di belahan dunia. Namun, kadang informasi ini memang sengaja dibendung dan ditutup rapat sehingga dunia seakan menyaksikan bahwa perbudakan telah sirna.

Ketika kita menelaah dan mencermati dengan seksama, maka akan diperoleh kesimpulan bahwa pemicu perbudakan modern adalah ledakan populasi yang mengakibatkan pasokan tenaga kerja melimpah ruah. Selain itu, juga terdapat faktor lain yaitu, kemiskinan yang ekstrem dan kondisi rentan seperti pemerintahan yang buruk, perang, perubahan iklim, bencana alam dan lain sebagainya. Penyebab lain adalah korupsi  dan penegakan hukum lemah serta pandang bulu.

Menarik kemudian kita membaca hasil dari peneliti sosial Kevin Bales. Dia merupakan salah satu dari peneliti yang terlibat langsung dalam penyusunan Indeks Perbudakan Global atau The Global Slavery Index (GSI). Hasil temuan dari penelitiannya mengatakan bahwa, diperkirakan 35,8 juta orang di 167 negara mengalami praktik-praktik perbudakan modern. Contoh kasus di Inggris, tragedi besar terjadi bahwa di negara tersebut lebih dari 900 pengguna jasa cuci mobil manual melaporkan masalah perbudakan modern menggunakan program Safe Car Wash.

Penting untuk kita ketahui bahwa aplikasi proyek antiperbudakan di Church of England’s Clewer Initiative mendapatkan dukungan penuh dari Gereja Katolik Santa Marta Group. Pada Oktober 2017, aplikasi ini diluncurkan dengan dukungan Perdana Menteri dan Uskup Agung Canterbury.

Hal yang mengejutkan dunia terjadi, bahwa Aplikasi ini telah diunduh sebanyak 8.225 kali sejak di-launching. Antara Juni dan Desember tahun itu, dan aplikasi ini telah digunakan sebanyak lebih dari 2.000 kali. Dalam 930 kasus (41 persen), informasi yang akurat dan langsung serta cepat juga diterima pengguna bahwa ada kemungkinan orang yang bekerja melayani mereka terjebak dalam perbudakan modern dan diminta melapor via telepon ke saluran bantuan.

Sebagai bentuk kepedulian dan respon yang sangat positif, maka pada pertengahan Januari 2017, Majalah Tempo menurunkan laporan investigatif. Reportase yang menjadi headline dengan judul “Budak Indonesia di Kapal Taiwan” ini menghasilkan bahwa, betapa buruk dan tidak berprikemanusiaan serta zalim perlakuan yang diterima pelaut RI di perusahaan asing. Kejadian yang sangat tidak manusiawi juga tidak hanya terjadi di atas bahtera, tetapi bahkan sebelum pemberangkatan. Banyak calon ABK yang menggunakan dokumen seperti buku pelaut palsu. Selain itu, perusahaan yang mengirim mereka juga tidak memiliki izin. Akibatnya, perlindungan terhadap mereka sangat lemah.

Fenomena terburuk juga pada wilayah sektor ketenagakerjaan, karena dihantam gelombang perubahan. Salah satu dampak globaliasi dan revolusi industri 4.0 juga berpotensi menggulung kaum buruh ke dalam gelombang modern slavery. Karena mereka kehilangan akses kepemilikan atas alat produksi. Apalgi ditambah pada era digital ini, relitas yang terjadi,  banyak tekno-industri atau industri berbasis komputer. Ini menyebabkan banyak tenaga kerja yang berhenti dari pekerjaannya dan bertekuk lutut di bawah rezim computerize.

Nilai-nilai humanisme dalam hubungan ketenagakerjaan juga sudah mulai rapuh. Disamping itu  modernisasi sistem kerja dalam globalisasi dan revolusi industri 4.0 juga menghilangkan konsep perundingan pengusaha-buruh.

maka dapat diambil kesimpulan, kecanggihan teknologi justru semakin memicu perbudakan modern karena harga dan nilai tenaga kerja sudah dikalahkan oleh robot dan komputer dan teknologi canggih lainnya. Melihat fenomena yang sangat membahayakan ini, dunia tentu tak akan tinggal diam dan terus merespons fenomena ini. Sejak 2001, perdagangan manusia dan perbudakan disepakati oleh masyarakat internasional sebagai kejahatan yang melanggar HAM.

Dalam upaya mengidentifikasi isu-isu etik, kultural dan sosial-politik dari sejarah perbudakan yang menyakitkan pada 1994, UNESCO meluncurkan “The Slave Route Project” yang diharapkan bisa dipercaya, dengan mengembangkan beragam pendekatan teori dengan dimensi-dimensi sejarah, memorial, kreatif, edukatif dan peninggalan masa lalu, tentunya dengan harapan besar: proyek ini akan memberikan kontribusi besar dalam memperkaya pengetahuan tentang perdagangan perbudakan dan menyebarkan kultur perdamaian.

Dengan semangat yang berkobar-kobar, UNESCO mengundang setiap elemen masyarakat, dalam rangka meningkatkan kesadaran tentang sejarah perbudakan dengan tujuan menentang segala bentuk modern slavery. Di level nasional, indonesia juga tidak kalah dalam semangatnya, ini terbukti dari pesan yang disampaikan wakil presiden Jusuf Kalla, dengan tegas mengatakan: “Semua negara harus bersatu untuk menyelesaikan masalah perbudakan,” ucap dia usai menandatangani Piagam Deklarasi Antiperbudakan Modern di Istana Wapres, Jakarta, Selasa, 14 Maret 2017 (www.tempo.co, 14/3/2019). Banyak yang hadir dalam acara tersebut, termasuk juga para tokoh lintas agama dan aktivis Global Freedom Network.

Ketika kita mencoba buka dokumen sejarah, maka kita akan menemukan bahwa sekitar 1.400 tahun yang lalu, Nabi Muhammad telah menunjukkan perannya yang luar biasa dalam perjuangannya memerangi perbudakan. Telah banyak bukti sejarah yang mencatat bahwa keteladanan beliau dalam melawan sistem yang teramat zalim itu.

“Dikisahkan bahwa dalam peristiwa penaklukkan kota mekkah atau dikenal dengan peristiwa “Fathu Mekkah”, Rasul SAW. berjalan di depan pasukan Muslim dan masuk ke Baitullah. Saat itu beliau hanya ditemani tiga sahabat: Utsman bin Thalhah, Usamah bin Zaid, dan satu yang istimewa adalah mantan budak yang dimerdekakan Rasul melalui sahabat Abu Bakar, ra. Dialah Bilal bin Rabah dari Etiopia.

Dalam peristiwa ini, lautan manusia memadati Kota Mekkah, atau tepatnya di sekitar Ka’bah, berkumpul multi-ras; Arab, Persia, Asia dan Afrika, dan Rasul memerintahkan Bilal naik ke atap Ka’bah untuk mengumandangkan azan dan meresmikannya sebagai ‘Muazin Pertama’ di dunia. ini adalah fenomena yang tidak pernah terlupakan dalam sejarah. Dan lebih tegas lagi, melalui Sang Nabi, Allah menandaskan tindakan pencegahan dan penghapusan perbudakan atau riqab dengan memasukkannya sebagai bagian dari 8 asnaf zakat, sebagaimana tertuang dalam Alquran surah at-Taubah ayat 60.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *