Polisi Tetapkan Nahkoda Kapal Putri Salena Sebagai Tersangka

Polisi Tetapkan Nahkoda Kapal Putri Salena Sebagai Tersangka
BERSANDAR: Kapal Nelayan Putri Salena saat diamankan polisi di Pelabuhan Kalianget (Hayat - Sinergi Sumenep)

SUMENEP, SINERGI MADURA - Satuan Kepolisian Perairan dan Udara (Satpolairud) Polres Sumenep, Jawa Timur, menetapkan nahkoda kapal nelayan Putri Salena asal Lamongan sebagai tersangka.

Nahkoda kapal inisial DF (27) asal Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan ini ditetapkan sebagai tersangka lantaran tidak mengantongi surat tujuan berlayar (STB) saat mencari ikan di perairan laut Pulau Masalembu.

"Nahkoda kapal sudah kami tetapkan sebagai tersangka," ungkap Kasatpolairud Polres Sumenep, Iptu Agung Widodo pada media ini, Rabu (14/4/2021).

Agung menambahkan, kendati sudah ditetapkan sebagai tersangka, pihaknya tidak melakukan penahanan terhadap tersangka DF. Sebab, ancaman hukumannya hanya satu tahun.

"Kalau ancaman hukumannya hanya satu tahun itu tidak boleh ditahan," ucap Agung.

"Kalau anak buah kapal tidak kami tetapkan sebagai tersangka karena yang bertanggung jawab itu nahkoda kapal," imbuhnya.

Baca Juga: Pencoblosan Pikades Serentak 2021 di Sumenep Berbasis Dusun

Untuk proses hukum lebih lanjut, saat ini Korp Bhayangkara Kota Keris masih menunggu keterangan saksi ahli dari Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur.

"Kalau berita acara sudah rampung semua akan kami limpahkan ke Kejaksaan," jelasnya.

Atas kasus ini, kapal nelayan Putri Salena disita oleh polisi sebagai barang bukti (BB) dan diamankan di pelabuhan Kalianget.
"Kapalnya kami jadikan barang bukti," tukasnya.

Disinggung mengenai penggunaan cantrang oleh tersangka, Agung menyebut penggunaan cantrang bagi nelayan di Indonesia sudah tidak ada larangan. "Mulai November 2020 cantrang sudah tidak dilarang," akunya.

Sekadar informasi, Persatuan Nelayan Masalembu (PNM) Kecamatan Masalembu, Sumenep, Jawa Timur, menangkap kapal cantrang saat mencari ikan di perairan laut Pulau Masalembu pada (27/3) lalu.

Penangkapan terhadap kapal nelayan bernama Putri Selina asal Paciran Lamongan dengan membawa 15 anak buah kapal (ABK) ini dinilai meresahkan terhadap nelayan setempat.

Kemudian, PNM menyerahkan kasus itu ke pihak kepolisian untuk proses hukum lebih lanjut. (yt/an/fd)


(*)