Pasang

Prosesi Upacara Toron Tanah Bayi di Madura

  • Bagikan
Foto bersama usai prosesi upacara toron tanah bayi di Madura (Subaidi - Sinergi Sumenep)
BERKUMPUL: Foto bersama usai prosesi upacara toron tanah bayi di Madura (Subaidi - Sinergi Sumenep)

BUDAYA, SINERGI MADURA – Upacara toron tanah (turun tanah) merupakan tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun oleh masyarakat Madura, Jawa Timur.

Upacara untuk bayi berusia sekitar 7 bulan itu memiliki makna tersendiri bagi masyarakat Pulau Garam, antara lain agar kaki si bayi kokoh dan kuat saat berjalan.

Pasang

Selain itu, agar kelak si bayi menjadi orang yang kuat dan bijaksana. Maka setelah merayakan tradisi toron tanah bayi tersebut diperbolehkan menyentuh tanah serta bermain dengan anak-anak yang seumuran.

Adapun prosesinya dikutip dari sejumlah sumber, sebelum acara digelar, bayi dimandikan terlebih dulu agar kelak menjadi orang yang disiplin, bersih dan rapi.

Baca Juga: 10 Hantaran Pernikahan Ini Wajib Ada Menurut Tradisi Madura

Sedangkan tamu-tamu yang diundang dalam tradisi ini biasanya adalah anak-anak. Serta tokoh masyarakat setempat, membacakan doa untuk keselamatan dan keberlangsungan hidup si bayi.

Selain itu, menyiapkan makanan tajhin (bubur) sebanyak 7 macam dengan warna yang berbeda. Ini sebagai simbol bahwa kehidupan manusia beragam, serta menyandang profesi yang berbeda.

Selanjutnya, menyiapkan alat pemukul dari panebbheh (sapu lidi). Setelah acara berakhir, anak-anak yang diundang biasanya akan berlarian keluar karena si tuan rumah akan memukulinya dengan sentuhan panebbheh tersebut.

Makna filosofis memukul dengan panebbheh sendiri adalah supaya anak-anak yang membawa sifat jelek dari rumahnya atau dalam perjalanan, pergi atau bersih dari ruang acara tersebut, sehingga tidak terbawa kepada si bayi.

Simbol tersebut juga sebagai bentuk kehati-hatian yang diajarkan oleh para leluhur bahwa pada usia rentan, bayi dapat dirasuki sesuatu yang bisa mengakibatkan tidak baik untuknya.

Hal ini banyak diajarkan dalam kearifan lokal Madura, yang mana tujuannya bahwa dalam menjalankan hidup manusia punya etika dan nilai baik buruk yang bisa terjadi setiap saat.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *