Pasang

Ramadan dan Transformasi Pendidikan Karakter

  • Bagikan
Ramadan dan Transformasi Pendidikan Karakter
Foto: Istimewa

Sebagai umat Islam kita sangat bersyukur dan bergembira karena dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan tahun 1441 H ini. Tidak semua saudara-saudara yang seiman dapat mencecap kembali manisnya bulan paling mulia di antara bulan-bulan yang lain. Sebagian karena sudah dipanggil lebih dulu menghadap Allah, sebagian terhalangi kesehatan yang semakin menurun, dan sebagian lagi terkendala oleh tertutupnya hati mereka untuk menghormati dan menunaikan kewajiban di bulan turunnya alquran ini. 

Beberapa orang bisa berjumpa dengan ramadan namun dengan kondisi fisik yang rentan. Bahkan, diantara dari mereka mengalami kondisi mental tidak normal. Tapi apa pun yang terjadi, itu semua sudah menjadi garis takdir, sehingga kita wajib berbaik sangka dan menerima dengan lapang dada. 

Pasang

Bagi kita yang memiliki tubuh dalam kondisi prima tentu harus memenuhi seruan Allah. Kesehatan yang prima adalah anugerah yang paling besar dalam hidup manusia. Pernahkah kita bersyukur karena merasa cita-cita yang diidealkan jauh sebelum ramadan ini dikabulkan, atau kita hanya acuh tak acuh, bahkan nyaris tidak menjalankan puasa ramadan sama sekali hingga memasuki babak sepuluh hari terakhir ini ?

Kita yakin sudah berikhtiar total menunaikan ibadah puasa tahun ini dengan baik. Tidak makan dan tidak minum dan mencegah dari perkara-perkara yang membatalkan ibadah puasa itu sendiri. Tapi apakah sejauh ini ikhtiar itu diiringi dengan proses pengendalian diri yang metafisik. Seperti berupaya menghilangkan sifat suka benci, iri, dengki, dusta, fitnah, dendam, sombong, riya’, dan sebagainya.

Atau jangan jangan kita berpuasa hanya konsen pada tataran fisik saja, dan mengabaikan penyakit yang sifatnya metafisik itu ? Penyakit metafisik itulah sebetulnya yang sulit dihilangkan di hati kita, ketika kita tidak berusaha dengan niat seutuhnya bahwa niat berpuasa adalah untuk mengendalikan diri secara dahir maupun batin. 

Dalam Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183 visi utama puasa adalah takwa. Tujuan Allah mewajibkan kita berpuasa adalah agar menjadi manusia yang bertakwa. Takwa, dalam konteks ini, terlihat dari karakter yang mencerminkan perilaku terpuji. Baik bergerak sebagai makhluk individual maupun sosial dan senantiasa istikamah dalam beribadah.

Puasa yang kita tunaikan hingga berada pada sepuluh terakhir ini, tentu saja telah membimbing kita menjadi manusia yg merdeka dari segela bisikan penyakit hati, seperti kuat mengendalikan hawa nafsu, kemudian menuntun diri agar menjadi pribadi yang peduli pada sesama, dan menjadi pejuang agama yang sesungguhnya, sehingga out put puasa yang diperjuangkan memunculkan kesadaran transformatif pada diri kita yg pada gilirannya menjadi agen kebaikan bagi orang lain.

Pasca puasa, berarti kita telah menjadi alumni ramadan. Sebagai konsekuensinya kita bisa menunjukkan karakter manusia yang sesungguhnya sebagai bukti bahwa puasa yang kita lakukan adalah dibangun dari semangat dahir batin sehingga berhasil menguatkan spirit takwa kemudian dikristalisasi ke dalam tindakan konkret yaitu menjadi pribadi memiliki solidaritas sosial pada sesama, dan berikutnya membangun rasa malu pada diri dan kepada allah SWT ketika akan melakukan tindakan yang tidak sejalan dengan ajaran agama.

Semangat ihsan inilah yang akan membedakan kita dengan alumni ramadan pada umumnya. Bahwa tidak berbuat maksiat dan tindakan negatif lainnya bukan karena malu pada manusia semata, tapi karena merasa gerak-gerik hidupnya selalu diawasi oleh yang maha kuasa. Maka cerminan perilaku seperti inilah yang sangat diharapkan di zaman sekarang ini oleh kita semua setelah kita melaksanakan puasa agar puasa yang dilakukan itu tidak sekadar puasa hasil pengendalian fisik dari mencegah makan dan minum, namun puasa yg diusung dari semangat iman dan ihsan yang kuat. 

Oleh karena itu, mari perkuat iman dan ihsan dengan terus menjaga puasa yang kita lakukan ini dengan sabar dan ikhlas, pertajam semangat untuk mencapai derajat takwa yang Alllah janjikan dengan memaksimalkan ibadah seperti mengaji alquran, menghayati isi kandungannya, dan amalan lain yg dianjurkan oleh beginda Rasulullah SAW. Tak kalah penting juga dengan semangat iman dan ihsan adalah bisa menumbuhkan jiwa solidaritas yang kuat, yaitu semangat peduli pada sesama, sebab banyak sekali anak yatim dan fakir miskin yang sangat butuh uluran tangan kita namun terkadang condong kita abaikan. 

Di musim pandemi saat ini banyak sekali saudara-saudara kita yang miskin dadakan seperti hidup putus asa karena PHK di samping macetnya aktivitas ekonomi terutama sektor informal. Covid-19 tak ubahnya kiamat kubra bagi warga miskin yang pendapatannya pas-pasan, karena mereka harus berhenti bekerja beberapa hari ke depan untuk mengikuti anjuran protokol kesehatan Covid-19. Sementara mereka adalah tumpuan ekonomi di keluarga. Tentu saja kondisi semacam ini di satu sisi bisa memicu konflik dalam keluarga ketika sumber penghasilan mereka tergerus drastis. 

Fakta menyedihkan ini seyogyanya mendapat atensi dari kita untuk berbuat sesuatu terhadap mereka, baik materi maupun non materi agar mereka merasa bahagia di bulan yang berkah ini. Kepedulian kita untuk mereka menjadi bukti nyata bahwa puasa kita menghadirkan jiwa solidaritas. Apalagi bulan ramadan sebagai ladang pahala bagi orang yang giat beramal. 

Sebagaimana Rasulullah SAW dalam menegakkan agama yang rela mengorbankan jiwa dan raga. Kebaikan yang kita lakukan di bulan ramadan ini tidak akan mendatangkan kerugian dan kebangkrutan, justru kalau kita rajin beramal keberkahan bisa dicapai sepanjang kehidupan kita, karena kita telah membantu mereka yang sedang butuh. Dari Abu Hurairah RA berkata: Nabi saw bersabda: “Barangsiapa berpuasa di bulan ramadan dengan iman dan berharap pahala dari Allah niscaya diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Jika dibarengi dengan iktikad yang sungguh-sungguh, maka janji Allah SWT sangat luar biasa sebagai balasan bagi hambanya yang berpuasa. Sebagai orang beriman kita akan terpanggil untuk melaksanakan dalam meraih keutamaan dan mengembalikan status hidup pada garis fitrah.

Kita sangat menyayangkan ketika melihat sebagian di antara kita apatis dengan bulan ramadan, bahkan bisa dibilang justru banyak yg mengotori bulan suci ini dengan perilaku-perilaku tercela. Semisal, kita kerap disuguhi kabar di media sosial tentang merebaknya kasus penyalahgunaan narkoba, sabu-sabu, aksi begal, tawuran, perampokan, pembunuhan, dan tindakan kriminalitas keji lainnya di beberapa daerah. Ironisnya, itu terjadi pada bulan suci ini, lebih miris lagi pelakunya masih didominasi kalangan remaja, kelompok umur yang seharusnya produktif dengan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat.

Oleh karena itu, penting membentuk keyakinan bersama dalam diri kita bahwa ramadan ini seolah menjadi ramadan terakhir dalam kehidupan ini, sehingga kita maksimal menjalankannya. Dengan begitu maka hati kita akan tergerak menjalankan ramadan di tahun ini dengan penuh kesabaran dan ketakwaan.

Selain itu, bulan ramadan penting dijadikan sebagai media edukasi untuk membentuk karakter. Terutama dalam menaggulangi kenakalan generasi muda dengan menebar pesan-pesan yang berkonten keutamaan baik melalui sosmed dan media lainnya yang bisa mendorong generasi muda agar mereka menjadi generasi milenial yang berwatak qurani, karena ramadan sebagai bulan diturunkannya alquran. Dengan begitu, mereka bisa menebar kebaikan bagi masyarakat luas. 

Mari tuntaskan ibadah puasa kita dengan penuh keimanan dan ketakwaan hingga sempurna tiga puluh hari. Ini penting untuk dilakukan agar kita menjadi manusia yang fitrah berpredikat takwa serta bisa mencapai hari kemenangan nanti dengan sempurna.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *