Pasang

Ratusan Bidan di Pamekasan Terjangkit COVID-19, Bupati: Rekrut Nakes!

  • Bagikan
BERSAHAJA: Bupati Pamekasan, Baddrut Tamam (Dokumen Sinergi Madura)

PAMEKASAN, SINERGI MADURA – Meningkatnya kasus COVID-19 di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur berdampak pada penuhnya rumah sakit rujukan.

Sementara jumlah bidan yang terinfeksi COVID-19 per hari ini, tanggal 14 Juli 2021, sudah mencapai 76 orang. Kemudian bidan dengan status suspek sebanyak 104 orang. Jumlah tersebut dikhawatirkan dapat terjadi kontak erat antara mereka dengan ibu bersalin.

Pasang

Untuk itu, Bupati Baddrut Tamam segera menggelar rapat virtual bersama sejumlah stakeholder terkait, salah satunya Dinas Kesehatan setempat dan para dokter.

Dalam kesempatan ini, Bupati membahas soal optimalisasi layanan dan kapasitas rumah sakit untuk mengantisipasi potensi tidak sebandingnya jumlah tenaga kesehatan (Nakes) yang ada dengan jumlah pasien yang dirawat.

Bupati kemudian menyampaikan mandat agar OPD terkait segera melakukan gerak taktis dengan meminta rumah sakit agar merekrut relawan nakes yang terdiri dari dokter, bidan dan perawat.

Mereka diharapkan dapat melayani masyarakat Bumi Gerbang Salam, baik yang sehat maupun bagi yang terpapar Covid-19.

Selain itu, secara khusus ia juga meminta agar sementara waktu kantor Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Cabang Pamekasan dijadikan klinik tempat persalinan.

Dikonfirmasi, Ketua IBI Cabang Pamekasan, Siti Maimunah, mengutarakan bahwa pihaknya telah mendapat persetujuan dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Pamekasan untuk pengurusan izin praktik mandiri bidan (PMB) dan kerja sama dengan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).

“Karena untuk membuka klinik perlu melalui SOP yang telah ditentukan,” katanya, Rabu (14/7/2021).

Pihaknya mengaku telah mulai membuka kesempatan bergabung kepada para relawan tenaga kesehatan (bidan). Mereka menurutnya akan dioptimalkan untuk bertugas dan melayani warga di rumah bersalin di kantor IBI Cabang Pamekasan.

Ia menilai hal ini cukup efektif, mengingat seorang perempuan hamil memang memerlukan tempat persalinan khusus.

Sebab, kata dia, persalinan di bidan desa sangat berisiko jika tidak dilengkapi dengan alat pelindung diri (APD) dan tanpa pemeriksaan swab sebelumnya.

“Relawan akan dikontrak selama tiga bulan. Mudah-mudahan pandemi berakhir dalam tiga bulan ini, kemungkinan dalam minggu ini sudah bisa beroperasi,” tandasnya. (adv)


(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *