Hening Cipta, Perlukah Indonesia Maju?

Hening Cipta, Perlukah Indonesia Maju?
(Istimewa)

Oleh: Mahrus Ali *)


Agustus 1945 adalah tanggal, bulan dan tahun penuh sejarah bagi negara Indonesia. Sejarah hasil berdarah-darah para pahlawan merebut kemerdekaan. Pada saat itu, para pejuang pertaruhkan nyawa pula sanak saudara tanpa banyak perhitungan. Yang terpatri dalam diri mereka hanyalah semangat: Indonesia Merdeka!

Para pahlawan terbangun dari sekian unsur kekuatan, bukan saja barisan tentara yang cukup terlatih dalam hal perang, tetapi seluruh elemen bangsa mulai kiai, santri dan para petani yang bersatu padu lawan penjajah. Hanya dengan modal bambu runcing, tetapi keterbatasan fasilitas itu tak jadi persoalan, tak surutkan semangat untuk terus maju, songsong sangsaka merah putih demi menatap masa depan tanah luhur Indonesia.

Kini, Indonesia telah memasuki usianya yang ke-75. Bukan usia yang muda. Tantangan masa lalu dengan masa sekarang terdapat kasta perbedaan dalam perjuangan, tetapi tentu saja hal itu tak boleh mengurangi esensi dan spirit untuk terus menjunjung kemerdekaan seutuhnya.

Jika modal (senjata) para pendahulu saat mengusir para penjajah terbatas, informasi terhalang karena minimnya ketersediaan alat komunikasi dan transportasi, lalu bagaimana dengan perjuangan kita anak cucu Indonesia di era yang telah serba ada ini?

 

BACA KOLOM SINERGI LAIN:

 

Jaringan telekomunikasi dan alat transportasi kini kian berkembang canggih. Segala sesuatu dan informasi dari seluruh penjuru negeri bahkan dunia dengan mudah kita jangkau via online. Pintu akses ilmu pengetahuan terbuka lebar bagi siapapun yang ingin berkembang maju.

Duduk manis di kursi empuk kita jangkau isi negara-negara di Asia, Australia, Eropa, Amerika dan seterusnya. Sambil cangkrukan kita lihat luas dunia dalam selayar handphone di genggaman. Bagi para hacker, dalam hitungan detik, hanya bermodal tarian jari di atas keyboard android, mereka bahkan mampu merusak tatanan sebuah negara tertentu. Dahsyat, bukan!

Sungguh, kita sedang dituntut lebih cerdas mengemudi usia ini untuk Indonesia Raya; demi bumi zamrud khatulistiwa ini terus tumbuh ke arah cahaya; hidup dalam liput tenteram dan kesejahteraan. Sungguh, zaman kian terus melaju, semangat ini tentulah harus terus menggebu dalam kendali jiwa merah dan putih!

Kini, di setiap detik teman-teman baca catatan ini, mari bersama-sama kita menunduk ke bawah, menatap ke tanah lalu sejenak menutup mata; betapa bahwa kemerdekaan adalah amanah dari para pahlawan yang telah mendahului kita semua. 

Saudaraku, genderang 'perang' telah ditabuh, sepenuh pikiran dan jiwa marilah berlabuh. Indonesia butuh tangan-tangan pintar anak pertiwi. Indonesia telah berdiri, bagai bangunan, cukupkah perjuangan ini hanya dengan menjaga dan merawat? Atau lebih dari itu, dengan apa akan kita hias kemerdekaan ini?

Indonesia terdiri dari beragam suku, suku, ras, bahasa dan agama. Itulah barangkali tangga untuk dapat kita hias dinding dan langit Indonesia. Maka bersatulah bangsaku, menuju Indonesia maju!

Sumenep, 16 Agustus 2020


 

*) Penulis adalah anggota komunitas Jurnalis Milenial Sumenep (JMS). Lahir di Batuputih,  Desa Juruan Laok. Kini aktif sebagai reporter madura.santrinews.com