Sambut 2021, Simpul Tahun Cita dan Kerja Nyata

Sambut 2021, Simpul Tahun Cita dan Kerja Nyata
Ilustrasi by Febri Achmad Faraid

Oleh: Mochlis Al-bath


"Kebahagiaan adalah ketika apa yang kamu pikirkan, apa yang kamu katakan dan apa yang kamu lakukan berjalan dalam harmoni." (Mahatma Gandhi)

ahun baru identik dengan hiburan dan liburan. Namun momen libur di masa pandemi tahun baru ini justru harus terbatasi. Hari libur panjang dikurangi, begitupun segala bentuk kegiatan yang menimbulkan kerumunan harus dilarang oleh pemerintah; baik yang bernuansa keagamaan maupun non keagamaan guna mengurangi kasus penyebaran virus corona.

Maksud pelarangan itu, tentu pemerintah ingin menjaga sepenuhnya keselamatan masyarakat dari ancaman penyebaran virus corona yang telah banyak memakan korban jiwa. Kita pun berharap semoga hiruk-pikuk selebrasi tahun baru 2021 yang telah di depan mata tidak justru menghadirkan masalah baru. Cukuplah masa libur di rumah saja bersama keluarga tanpa mengurangi spirit kebahagiaan menyambut pergantian tahun sebagaimana dilakukan pada masa sebelum pandemi.

Refleksi, Instrospeksi dan Asah Mental

Kita sepakat bahwa esensi dari tahun baru bukanlah soal selebrasi melainkan kedalaman refleksi. Tahun baru kali ini, idealnya dapat kita jadikan sebagai ajang untuk mengintrospeksi diri, baik dalam konteks individual maupun sosial.

Dalam konteks individual, introspeksi penting dilakukan secara holistik terhadap segala hal yang telah kita perbuat selama tahun 2020. Kita harus berani bertanya pada diri sendiri secara kritis: Apakah cita-cita yang kita impikan sudah tercapai di tahun 2020? Atau sederet harapan malah masih menggantung di tahun ini gara-gara kita malas melakukannya?

Ke hamparan waktu sepanjang tahun 2020, mari kita crosscheck  bersama-sama, jangan-jangan kita masih belum berbuat 'sesuatu' sama sekali? Atau berbuat sesuatu namun setengah-setengah? Atau lebih merugi lagi jika dari sekian banyak apa yang kita lakukan justru banyak menimbulkan kerugian bagi diri dan sekitar?

Semua itu barangkali penting menjadi bekal koreksi atau introspeksi bagi kita menuju tahun yang lebih baik, menempuh tahun 2021 dengan penuh semangat dan harapan yang baru. Dengan demikian, tahun 2021 yang sebentar lagi akan kita sentuh tidak sekadar menjadi tapak jalan yang lewat begitu saja tanpa ada letupan kerja nyata dan kreasi inovatif.

Di sini refleksi pergantian tahun menjadi penting dilakukan sebagai bekal atau kerangka untuk mewujudkan cita-cita hidup yang lebih mandiri, maju dan bermartabat. Bukankah masyarakat maju bisa terbangun ketika masing-masing individu memiliki dua keteguhan: semangat juang dan karakter kerja yang maraton?

Hijrah dari Konsumtif ke Produktif

Selain itu, perlulah kiranya kita menggiring mindset yang semula konsumtif menjadi mesti produktif, dari mental pengemis menjadi penggagas, dari plagiator menjadi kreator sehingga target menjadi pribadi yang sukses pun perlahan bisa kita capai di tahun 2021 dan terus semakin baik pada tahun-tahun berikutnya. 

Dalam prosesnya, sejak saat ini baik kita mulai membangun mental sembari menguatkan semangat religiusitas, yakni demi terwujudnya segala harapan yang telah menjadi target. Mental yang kuat akan membentuk pribadi yang stabil dan dinamis, bahkan akan mampu menjadi pelopor perubahan di tengah masyarakat.  

Mari kita bersama kembali pada upaya introspeksi diri yang maksimal agar tahun 2021 dapat melahirkan paradigma kehidupan baru, peradaban baru dan cita-cita baru. Meski untuk menempuhnya bukanlah hal yang mudah dan mulus begitu saja namun wajiblah kita upayakan semua itu dengan kerja keras dan kerja cerdas yang simultan. Kita optimis, dengan niat yang tinggi dan semangat untuk terus mempertajam skill maka semua akan menjadi ringan, apapun jenis pekerjaan yang sedang kita hadapi.

Semangat Kebersamaan adalah Vaksin Corona

Dalam konteks sosial, kita sebagai manusia yang butuh orang lain dalam melakukan gerakan kebaikan maka menjadi keniscayaan di masa pandemi ini  memperkokoh semangat solidaritas. Hal ini penting dilakukan antara individu satu dengan lainnya sebagai bentuk gerakan moral dan kemanusiaan sesama anak bangsa yang menjunjung tinggi persatuan dan dan kesatuan

Semangat ini penting digelorakan terutama di masa krisis saat ini sebagai vaksin non klinis di tengah terpaan pandemi virus corona yang tak kunjung mereda. Betapa banyak saudara-saudara kita yang terjepit kegiatan ekonominya akibat masa krisis ini, pula tak sedikit jumlah saudara kita yang kena PHK. Maka meringankan beban mereka yang sedang kesulitan ekonomi hukumnya menjadi wajib kita lakukan.

Melalui krisis ini, spirit mupuk nilai-nilai keimanan dan ketaqwaan hendaknya dibuktikan dengan kepedulian pada sesama dan mengikis jarak status sosial antara orang kaya dan miskin. Saat inilah waktunya untuk bersatu dan saling merangkul semata demi meraih kebahagiaan bersama.

Gerakan tersebut akan mudah dilakukan secara konkret apabila semua lapisan masyarakat mau dan kompak merajut kesadaran secara kolektif.

Sadar bersama Pemerintah

Tekad untuk membangun kesadaran secara kolektif di atas tentu tidak cukup dilakukan hanya dalam ranah individual dan sosial dalam lingkup masyarakat. Sebagai langkah sinergis, gerakan ini harus menjadi misi semua pihak terutama pula peran pemerintah sebagai penentu kebijakan yang dituntut untuk terus berkreasi mengupayakan kemajuan dalam kehidupan masyarakat yang madani.

Wakil rakyat baik dari unsur legislatif, yudikatif dan eksekutif menjadi penting melakukan introspeksi atas tanggung jawab kerjanya. Apakah penerapan kebijakan pembangunan yang berjalan selama ini sudah sesuai dengan realitas kebutuhan masyarakat? Atau justru masih banyak program yang belum kompatibel dengan prinsip kebutuhan masyarakat?

Di masa pandemi saat ini, saatnya pemerintah dari tingkat desa hingga nasional mencari alternatif atau terobosan pembangunan yang tidak hanya berkutat pada setting proyek semata melainkan harus ada transformasi pemberdayaan sesuai kebutuhan riil masyarakat yang  non proyek. Misal, bagaimana setting proyek diarahkan pada penguatan ekonomi mikro masyarakat, kemudian bagaimana proyek itu dapat disesuaikan dengan potensi sumber daya alam yang dapat mendongkrak mata pencaharian masyarakat. Bukankah tujuan proyek adalah untuk menjembatani produktivitas ekonomi masyarakat secara optimal?

Semangat itu yakin akan terwujud manakala ada perubahan mindset dan mental birokrasi yang mumpuni. Itulah sebabnya kenapa birokrasi itu tak ubahnya seorang koki. Dalam artian, ia harus jeli terhadap pesanan konsumen. Jangan sampai pesanan nasi pecel lalu dipaksa untuk makan mie rebus. Walaupun dampaknya sama-sama mengenyangkan namun bobot dan out-putnya akan berbeda. Semangat pembangunan hendaknya berorientasi pada pemberdayaan dan kebutuhan masyarakat secara universal dan disendikan pada aspirasi yang mereka berikan.

Tahun baru 2021 adalah sarana otokritik bagi para birokrat mulai dari tingkat desa hingga nasional sebagai iktikad penajaman kesadaran bersama bahwa sebagai pemegang mandat rakyat, mereka akan dipertanggungjawabkan di hadapan rakyat lebih-lebih dihadapan Yang Maha Kuasa kelak tentang realitas kebenarannya. Birokrat yang baik adalah mereka yang bermental visioner, berjujur dan berani melawan ambisi ingin kaya sendiri.

Momen tahun baru dengan demikian menjadi alarm kepada para kaum birokrat agar tidak bermental koruptif. Sebab, mental seorang koruptor akan menyebabkan mereka malah sulit untuk berpikir konstruktif dan profesional dalam menjalankan tugas kepemerintahan. Birokrat yang baik adalah pelayan yang peka terhadap kebutuhan masyarakat secara adil dalam segela sektor pembangunan, ia tajam dan utuh melihat problem masyarakat. Mental atau perilaku minta dilayani saatnya bergeser menjadi semangat melayani, dari mental suka "proyek" menjadi lebih prospek dalam membangun dan melayani masyarakat.  Sistem pemerintahan yang steril dari mental koruptif akan mampu menghadirkan budaya politik meritokratif yang mencerdaskan.

Demokrasi dan Demonstrasi

Pilkada Serentak 2020 baru saja kita lalui dan, tentu walau tampak cukup kompetitif, semangat persatuan dan persaudaraan warga Sumenep khususnya terlihat masih cukup harmonis. Masyarakat kabupaten berlambang kuda terbang tetap kompak menjaga kondusifitas dan stabilitas persatuan. Demokrasi bagi mereka adalah memilih pemimpin nomor urut 01 atau 02, bukan siapa yang nomor satu dan yang nomor dua. Semua tentu baik untuk terpilih jadi pemimpin namun tetaplah harus ada satu yang terpilih.

Selanjutnya, mari kita bangun Sumenep  bersama-sama. Bangun potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Bangkitlah jiwa warganya, sejahteralah kehidupannya, maju dan bermartabatlah di hadapan dunia.

Harapan dan Kerja Nyata

Tahun baru 2021 merupakan ajang kompetisi untuk mengubah pola pikir sekaligus momen untuk mengaktualisasikannya dalam wujud kerja nyata menuju hidup yang lebih menjanjikan. Sebagai warga negara yang merdeka, kita jemput perubahan yang lebih bermutu itu dengan kerja nyata. Kesuksesan adalah milik siapa saja yang mau berjuang keras dan tuntas.

YAKIN SUKSES! Al-yaqinu laa yuzalu bi asy-syak, bahwa pupuk keyakinan adalah dengan mengusir kuat keraguan.

Marilah kita sambut tahun 2021 sebagai momentum untuk merajut cita dengan semangat kebersamaan dan kerja yang nyata. Wallahu A'lam!


 

 

 

 

 

*) Penulis adalah penyuka kopi kelahiran Desa Juruan Daya, Kecamatan Batuputih, Sumenep.