Sejak Pandemi, Angka Pernikahan Dini di Bangkalan Turun

Sejak Pandemi, Angka Pernikahan Dini di Bangkalan Turun
PATUHI PROKES: Kabid Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerak (P4) KBP3A Kabupaten Bangkalan, Nur Latifah (Moh. Sainuddin - Sinergi Bangkalan)

BANGKALAN, SINERGI MADURA - Angka pernikahan dini di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur mulai menurun sejak pandemi COVID-19.

Dari data Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KBP3A) Kabupaten Bangkalan tercatat, pada tahun 2019 jumlah pernikahan dini sebesar 1808 kasus. Namun pada tahun 2020 kemarin turun menjadi 1002 kasus.

"Semakin menurun dari tahun 2019 sekitar 18%, tahun 2020 per November 13%," jelas Kabid Pengendalian Penduduk Penyuluhan dan Penggerak (P4) Dinas KBP3A Kabupaten Bangkalan, Nur Latifah, Selasa (12/1/2021). 

Baca Juga: BNN Sumenep Akui Sulit Deteksi Jalur Tikus Peredaran Narkoba

Sebenarnya, kata Latifah, pernikahan dini dinilai memiliki sejumlah dampak buruk, terkhusus bagi perempuan. Seperti kesehatan reproduksi dan ekonomi.

Sehingga, lanjut dia, peraturan hukum di Indonesia mengatur batas usia minimal untuk menikah dikisaran 19 tahun. Hal ini sesuai dengan UU Nomor 16 Tahun 2019 Tentang Perubahan Atas UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang pernikahan.

"Idealnya perempuan 21 tahun, laki-laki 25 tahun supaya menuju keluarga yang berkualitas," pungkasnnya. (ms/an/fd)


(*)