Pasang

Tahun Baru Hijriah dan Ikhtiar Membangun Kemerdekaan

  • Bagikan
Tahun Baru Hijriah dan Ikhtiar Membangun Kemerdekaan
Foto: Istimewa

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah diri mereka sendiri,” (QS. Ar-Ra’d:11)

 

Pasang

Ayat di atas setidaknya menjadi pemantik semangat kita di tahun baru 1442 H ini, karena bagaimanapun esensi dari pergantian tahun adalah sebagai ruang refleksi total atas perjuangan yang telah dilakukan di tahun sebelumnya; menakar keberhasilan yang telah dicapai, membaca kegagalan serta mencari cara jitu untuk menaklukkan kegagalan menjadi kesuksesan untuk masa berikutnya.

Keberhasilan yang telah kita capai sesungguhnya anugerah paling nyata yang diberikan oleh Allah SWT yang wajib disyukuri dan ditafakkuri. Misalnya, dalam konteks personal yang awalnya numpang kerja pada orang lain kemudian menciptakan tampat kerja sendiri; dari yang awalnya tidak berpenghasilan menjadi berpenghasilan mapan sehingga mampu mencukupi segala kebutuhan keluarga secara maksimal. Ini adalah contoh kecil dan keberhasilan yang sangat produktif yang perlu dikembangkan dan dipertahankan guna menguatkan diri di tengah ketatnya persaingan mencari lapangan kerja.

Tentu bukan hanya itu, barangkali banyak keberhasilan lain yang telah kita capai; baik yang sifatnya personal maupun interpersonal (sosial).

Tahun baru 1442 H ini harus menjadi muhasabah holistik dalam kehidupan pribadi hingga kehidupan berbangsa dan bernegara.

 

Dalam kehidupan pribadi, saatnya kita bertanya pada diri sendiri atas segala yang kita perbuat, baik yang bersifat ubudiah (hablum minallah) maupun sosial (hablun minannas).

 

Secara ubudiah, sudahkah kita istiqomah menjalankan ibadah kepada Allah SWT. Salah satunya, dengan menjalankan perintah salat wajib yang lima waktu sebagai pilar agama dan sumber inspirasi meningkatkan kualitas hidup pribadi, atau jangan-jangan kita malas dan penuh putus asa karena terlalu sibuk dengan pekerjaan yang sifatnya duniawi. Parahnya lagi misalnya lebih banyak melakukan laranganNya. Ketika kita bisa menyadari bahwa lebih banyak lalai secara ubudiah maka niat dan mindset untuk berhijrah wajib dibangun dengan sungguh-sungguh agar hidup lebih terarah.

Pertanyaan-pertanyaan ini penting dimunculkan di tahun 1442 H ini sebagai upaya evaluasi diri untuk bisa melangkah ke depan lebih baik, agar kita tidak mengulangi lagi kegagalan fatal yang sama atas perkara-perkara yang berhubungan langsung dengan Sang Pencipta agar kita tidak tergolong manusia yang celaka.

Merajut harmonisasi kehidupan sosial tentu dimulai dengan sejauhmana kualitas ibadah yang kita lakukan, sebab praktik prilaku positif yang dicerminkan seseorang dalam interaksi kehidupan sosial adalah bersumber dari spirit ibadah yang dilakukan dengan penuh istiqomah dan kekhusyukan. Maka faktor kekhusyukan dan istiqomah dalam konteks ibadah mahdah harus menjadi visi hijrah kita bersama di tahun ini. Karena dengan jalan inilah, ibadah kita akan lebih berkualitas.

Pergantian tahun, mari jangan hanya jadikan momentum formalitas. Kini, makna hijrah secara kontekstual bukan lagi sebatas berpindah dari suatu tempat ke tempat lain karena alasan bosan dan jenuh, dan bukan berpindah kemudian melakukan hal yang sama dengan masa sebelumnya, tapi hijrah yang sesungguhnya adalah memupuk semangat, meluruskan niat dan tekad dan berjanji pada diri sendiri untuk mengubah mental menjadi kuat dan tahan dari godaan hidup yang konsumtif dan materialistis.

Berikutnya, spirit hijrah harus berorientasi pada perubahan pola perilaku. Sebagai umat Islam, tentu kita wajib meneladani bagaimana akhlak Rasulullah SAW, baik dalam konteks personal maupun sosial. Sebagai rujukan untuk membangun sistem kehidupan, perlulah kita menelaah kembali gambaran prilaku Rasulullah SAW. Sehingga hijrah kita memiliki makna substantif  dan eksploratif.

Muara dari semangat hijrah akan mengantarkan kehidupan kita menjadi merdeka. Sebagaimana Sang Baginda Rasulullah SAW beserta sahabatnya, melalui iktikad hijrah beliau sukses membangun semangat takwa, maka semangat takwa menjadi kunci meraih kemerdekaan spiritual.

Saat ini, kebetulan masih momentum hari kemerdekaan RI yang ke-75 dan berada dalam bingkai tahun baru hijriah, maka dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, upaya hijrah niscaya dilakukan demi merajut kemerdekaan hidup yang hakiki.

 

Semangat kemerdekaan hanyalah fiksi, ketika kita tidak bisa mengubah mental. Mental bangsa yang religius akan menuntun pada kehidupan yang berkeadaban dan berkemajuan.

 

Tahun baru 1442 H ini harus menjadi Hijrahnya mental para birokrasi dan semua pemimpin bangsa dari level desa hingga nasional. Sebab, hijrah mental mereka akan menentukan majunya kehidupan bangsa dan negara. Hijrah yang harus mereka lakukan di antaranya adalah mental koruptif-kolutif dan nepotisme, kemudian mental manipulatif pencitraan dan mental; suka membawa bawa agama demi kepentingan konsumsi politiknya dari pada perjuangan dedikasinya. Mental penyakit inilah yang akan menimbulkan permasalahan kronis dalam kehidupan berbangsa.

Maka dengan hijrah mental, para pemimpin Indonesia akan mampu mencapai cita-citanya, salah satunya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan membangun keadilan sosial.

Maka sebagai bangsa dan umat Islam yang mencitacitakan kemajuan hijrah menjadi alternatif ikhtiar untuk dilakukan. Indonesia yang maju bisa terjadi asal kita mau mengubah mental karena dengan mental yang produktif akan menjadi senjata sakti untuk mengubah keadaan yang serba buruk hari ini.

Momentum tahun baru hijriah kali ini sebagai wahana menumbuhkan mental yang Islami; yang sanggup mengubah keadaan yang carut-marut ini; mulai dari bidang ekonomi, pendidikan, sosial, dan budaya teknologi.

 

Mental yang Islami akan mengutamakan kepentingan sesama daripada pribadi dan akan mencerminkan keteladanan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW, baik beliau sebagai personal maupun sebagai pemimpin umat dan negara.

 

Mental yang Islami tentunya sabar untuk tidak melakukan korupsi dan manipulasi bagaimanapun kondisi keadaan. Kita tidak bisa berharap banyak Indonesia akan maju sementara semangat korupsi para birokrasi dari pusat hingga daerah masih terstruktur dan masif, dan makin suburnya politik dinasti dan membudayanya demokrasi nepotisme yang hampir di semua level pemerintahan.

Maka hijrah adalah cara yang tepat bagaimana membangun kecerdasan spiritual dan intelektual agar disamping mampu menjadi pelopor bidang ubudiah juga ikut berkontribusi dalam membangun kualitas hidup berbangsa dan bernegara dengan menggelorakan semangat persatuan, perdamaian dan keadilan.

Ali Syari’ati sebagai tokoh muslim pernah mengatakan kita seharusnya menjadi (rausyan fikr), yaitu pemikir yang tercerahkan. Orang yang tercerahkan akan berusaha untuk menemukan sebab akibat yang sesungguhnya antara kesengsaraan, penyakit sosial, dan kelainan-kelainan serta berbagai faktor internal dan eksternal.

Terbentuknya masyarakat cerdas dan memiliki etika hidup berbangsa dan bernegara serta memperkokoh spirit wathaniyah, wasathiyah dan ukhuwah islamiyah harus menjadi visi spirit reformasi hijrah di tahun baru 1442 ini agar komitmen untuk hidup lebih maju dan berperadaban baik dalam konteks keagamaan dan kebangsaan bisa dicapai.

Maka dengan mengubah mental, seburuk-buruknya keadaan spiritual kita dan keadaan bangsa dan negara ini akan bisa berubah, karena semuanya kembali kepada kita sendiri.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *