Tanam 1000 Bibit Buah, Angkat Potensi Wisata Desa Bangkal

Tanam 1000 Bibit Buah, Angkat Potensi Wisata Desa Bangkal
KOMPAK: Kades Bangkal, Sahe bersama warga saat menanam bibit pohon alpukat di tepi Sungai Batu yang terletak di selatan Asta Paranggan (Foto: Mazdon - Sinergi Madura)
Tanam 1000 Bibit Buah, Angkat Potensi Wisata Desa Bangkal
Tanam 1000 Bibit Buah, Angkat Potensi Wisata Desa Bangkal

WISATA SUMENEP, SINERGI MADURA - ​​​​​​Desa Bangkal adalah desa yang dikelilingi sejumlah pesarean ulama dan putra kerajaan . Pesarean tersebut antara lain Asta Paranggan, Asta Paddusan, Siding Pore (Aria Wirabaya), Bujuk Sannik dan Asta Katandur.

Tak ingin kekayaan aset desa yang berpotensi untuk dijadikan tujuan wisata religi itu terpendam, Kepala Desa Bangkal Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Sahe bersama para perangkat dan warga berinisiatif untuk mulai membangun wisata religi desa ini dengan menanam 1000 bibit pohon buah.

Jenis bibit pohon buah tersebut antara lain duren, sirsak, jambu kristal, jambu air, mangga, alpukat, "terus ada lagi matoa, dan rambutan juga ada," sebut Kades Sahe, diwawancara sebelum mulai menanam satu per satu 1000 bibit tersebut, Minggu (30/8).

SEMANGAT: Kades Sahe foto bersama warganya di halaman Balai Desa sebelum melakukan penanaman 1000 bibit pohon buah (Foto: Dokumen Sinergi Madura)

Penanaman bibit buah ini ditempatkan di 3 titik. "Di sepanjang jalan menuju Asta Paranggan dan Asta Paddusan, kemudian juga di lokasi Asta Paranggan dan Asta Paddusan," tuturnya.

Sehingga begitu masuk Desa Bangkal, tutur dia, saat pergi berziarah ke Asta Paranggan atau Asta Paddusan, wisatawan dapat melihat sejuk pohon penuh buah di tepi sepanjang jalan.

"Di belakang (Asta Paranggan, red) sana juga ada beberapa aset desa yang berupa gua, itu nanti akan saya munculkan juga menjadi tujuan wisata," imbuhnya.

Baca Juga: Pantai e-Kasoghi Diserbu Ratusan Pengunjung, Tiap Malam Ada yang Camping

Tidak hanya potensi wisata religi, desa ini juga mendapat aliran air berlimpah dari Dam (bendungan besar) sisa penjajahan Belanda yang terletak pas di sebelah barat perbatasan antara Desa Bangkal, Desa Pamolokan dan Desa Kebunan.

Sahe mengungkapkan, program ini murni merupakan inisiatif dia sendiri bersama para perangkatnya. Dengan harapan, kegiatan ini menjadi langkah awal yang baik.

"Ini tidak ada anggarannya, cuma ini memang harapan dari desa, sebagaimana dalam visi-misi kami itu, menwujudkan desa ini menjadi salah tujuan wisata religi nan hijau dan asri," terang Sahe.

Diutarakan, 1000 bibit pohon buah tersebut merupakan bantuan dari Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur. Sehingga pihaknya merasa punya tanggung jawab untuk memfungsikan bantuan tersebut sebaik dan semaksimal mungkin.

"Jika ada lebihnya, ini nanti akan kami berikan kepada warga desa agar juga ditanam untuk penghijauan desa ini," pungkas kades dua periode itu.

Asta atau pesarean Kiai Khotib Paranggan bin Ahmad Baidhawi Katandur (Foto: Dokumen Sinergi Madura)

Sekadar informasi, Asta Paranggan dan Asta Paddusan adalah dua pesarean putra dari Syeikh Ahmad Baidhawi Katandur, ulama pertama yang mengajarkan masyarakat Sumenep cara bercocok tanam. Dia juga yang menemukan teknik pengeringan hasil panen yang disebut 'paray', atau lebih tepatnya lumbung panen di atas perapian dapur.

Syeikh Ahmad Baidhawi juga merupakan sosok pertama yang menghadirkan tradisi karapan sapi Madura. Salah satu maksud diadakannya lomba karapan sapi tersebut adalah untuk mengingatkan serta membangkitkan semangat kerja para petani kala itu. (md/fd)

(*)