Pasang

Taneyan Lanjang, Simbol Cinta Kasih Orang Tua Madura kepada Anak Perempuan

  • Bagikan
Taneyan Lanjang Simbol Cinta Kasih Orang Tua Madura
Taneyan Lanjang dan rumah adat Madura. (Foto: Rumah123.com)

BUDAYA, SINERGI MADURATaneyan Lanjang merupakan satu dari sekian banyak budaya yang dimiliki masyarakat Madura. Istilah dalam Bahasa Indonesia, Taneyan Lanjang ialah halaman rumah yang memanjang.

Disebut Taneyan Lanjang karena terdapat bangunan rumah adat Madura dengan desain rumah pégun berjejer dari arah barat ke timur. Umumnya rumah-rumah tersebut berada di sebelah utara menghadap ke selatan.

Pasang

Sementara pada sisi selatan Taneyan Lanjang terdapat dapur milik si pemilik rumah. Dapur dan rumah saling berhadapan.

Dapur orang Madura zaman dulu memang terpisah dengan bangunan rumah. Meski ada juga sebagian dapurnya berada di belakang rumah.

Di ujung barat Taneyan Lanjang dapat dipastikan ada bangunan langgar atau musala sebagai tempat pemersatu keluarga besar Taneyan Lanjang untuk melakukan ibadah.

Yang tak kalah menariknya lagi, dalam satu rumpun rumah pada Taneyan Lanjang
ini harus ada minimal satu tempat mandi. Istilah Orang Madura jaman dulu menyebutnya ‘pakeban’.

Baca Juga: Mitos atau Fakta: Masyarakat Pulau Gili Labak Sumenep Madura Tidak Bisa Pelihara Kambing dan Sapi

Hirarki keluarga dalam tradisi rumah Taneyan Lanjang biasanya sesepuh dari mereka menempati rumah di posisi paling ujung barat.

Rumah yang didiami oleh sesepuh mereka di kemudian hari nanti akan disebut patobin atau panobin. Sebagian orang menyebut dengan istilah tongghuh.

Para orang tua di Madura yang memiliki anak perempuan sudah menikah umumnya akan membangunkan rumah untuknya.

Cara demikian merupakan bentuk tanggung jawab dan kasih sayang orang tua Madura kepada anak perempuannya yang sudah menikah.

Rumah yang akan dibangun berikutnya pasti berada di sebelah timur rumah orang tua. Di antara kedua rumah mereka terdapat sebuah sekat mirip terowongan yang menurut istilah Orang Madura kuno menyebutnya ‘long-ellongan’.

Rumah-rumah yang akan dibangun berikutnya akan terus berjejer ke timur terhitung rumah dari orang tua, anak, cucu, hingga cicit.

Namun, bila tanah di sebelah timur nanti habis, maka bangunan berikutnya akan berpindah ke bagian tanah sebelah selatan.

Rumah milik orang tua itu nanti akan berpindah kepemilikan atau diwariskan pada anak dan seterusnya. Rumah itu biasanya diwariskan kepada anak yang merawat orang tua hingga wafat.

(*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *